
"Jangan menangisiku lagi, Dario," kata-kata itu adalah kata-kata terkahir yang diucapkan Julie padanya.
Kini disandarkannya punggungnya pada dinding rumah sakit yang dingin itu.
Di dalam sana entah apa yang terjadi. Ia percaya pada Anna Tomya. Sahabatnya itu sudah berjanji akan melakukan yang terbaik.
Shan datang ke rumah sakit setelah memastikan semua keadaan di kantor aman dan terkendali.
Dipercayakannya urusan kantor pada Grace. Kini ada dua orang yang menyimpan rahasia Dario. Yaitu Shan dan Grace.
Dilihatnya Dario yang duduk lemas di kursi ruang tunggu.
Shan juga punya istri yang sedang hamil. Ia tahu dan paham bagaimana rasanya.
Diawasinya saja Dario dari jauh. Ia tak berani mendekat.
Terkadang, laki-laki juga perlu berbicara dengan hatinya sendiri. Logika memang kekuatan laki-laki. Tapi lelaki yang peka perasaanya juga tak kalah idaman.
***
Beberapa menit berlalu yang berjalan seperti setahun itu, akhirnya pintu ruang operasi dibuka.
Perawat yang berpakaian lengkap itu mendorong dua kotak kaca dengan alat-alat dan kabel menjuntai dengan cepat.
Ada dua !
Jantung Dario hampir copot melihatnya. Ia berlari mengejar perawat yang berjalan cepat itu.
"Anda tunggu saja di sini. Kedua bayi sehat dan selamat namun akan dibawa ke NICU untuk tindakan karena meraka lahir prematur," kata perawat yang satunya.
Dario menghentikan langkahnya. Dua tangannya bertumpu di lutut. Detak jantungnya memburunya dengan cepat.
Shan berlari-lari kecil menghampiri Dario. Tanpa kata-kata. Hanya dia lelaki yang saling tahu perasaannya.
Julie belum ada kabar sama sekali. Ia menunggu dengan gelisah.
Setelah beberapa saat, dokter Anna keluar dari ruangan.
Ia mengangkat tangannya.
***
Sementara itu Nyonya Sanio yang kabur dari kejaran wartawan tampak menikmati paginya yang cerah di Valex.
Suaminya itu walau banyak melukai perasaanya juga, tapi ia tetaplah mencintai lelaki itu.
Dilihatnya halaman teras samping yang banyak tanaman menjalar dan bunga-bunga. Sepertinya Pak Michael merawat rumah ini dengan baik.
Pak Michael adalah tukang kebun lamanya. Istrinya-Joan juga membantunya membereskan rumah. Meraka adalah suami istri tanpa anak. Rumah ini dipercayakan pada meraka saat ia memutuskan untuk pindah ke Suresh.
Joan yang tua mengantarkan segelas teh inggris padanya. Ia rupanya masih mengingat minuman favorit majikannya itu.
"Andai anda tak datanya mendadak, Nyonya. Akan saya petikkan buah persik kesukaan di tepi bukit sana," katanya sambil meletakkan cangkir cantik bermotif bunga-bunga itu di meja.
"Terimakasih, Joan. Duduklah. Aku ingin mengobrol setalah bertahun-tahun tak berkunjung. Apa yang terjadi di Valex akhir-akhir ini?" tanya Nyonya Sanio.
Joan duduk dan mereka saling berhadapan. Tubuh tua itu masih lincah dan gesit melakukan banyak pekerjaan.
"Hal biasa, Nyonya. Mayat ditemukan di danau, pencurian rumah Tuan Freddie, pemilihan walikota yang rusuh. Ya, hal buruk semacam itu tak juga mereda di kota ini," katanya menjelaskan.
Nyonya Sanio mengangguk sambil menyeruput teh itu lagi.
"Ah, andai saja aku datang bersama Dario. Anak itu ada keperluan di luar kota. Aku ingin mengajaknya ke makam Papanya," kata Nyonya Sanio.
"Ah, Tuan Dario baru saja datang ke sini ke sini beberapa bulan lalu bersama istrinya," kata Joan.
Nyinya Sanio yang hendak minum teh lagi itu meletakkan cangkirnya begitu saja dengan pandangan tak percaya.
"Istrinya?" tanyanya terkejut.
Michael yang baru datang tampak panik. Istrinya yang agak pikun itu sepertinya lupa pada pesan Dario.
Mereka harus merahasiakan kedatangan Dario dan Julie.
"Apa maksudmu istri Dario? Jawab pertanyaan saya !" Nyonya Sanio menggertak tak sabar.
Mereka bertiga hening dalam ketegangan.
...----------------...
...🌻🌻🌻...
Sore upload lagi nggak nih? Maaf endingnya tegang lagi. Authornya suka bikin penasaran.
Tinggalkan jejaknya ya. Yang masih punya VOTE juga bisa vote hehehe