Mama'S Twin

Mama'S Twin
Putus Asa



Miss Allie mengamati penampilan Dario dari atas ke bawah. Matanya terpicing dengan agak sinis.


Julie memang tak menyebutkan alasannya kemari. Ia hanya bilang ingin hidup tenang dan melahirkan bayinya. Tapi Miss Allie menduga, suami Julie membuat ulah atau semacamnya sehingga dia kabur.


"Saya ingin bertemu Julie, Nyonya." Dario menatap wajah Miss Allie dengan penuh harap.


"Julie siapa?"


"Julicia Sanders, isteri saya," jawab Dario.


Miss Allie menyeruput tehnya. Ia juga mempersilahkan Dario untuk minum.


Dario mencicipnya sedikit untuk menghargai tawaran itu. Sebenarnya ia tak terlalu menyukai teh.


Miss Allie kembali menatapnya. Dario mau tak mau juga melihat ke arahnya. Di belakang Miss Allie duduk, jendela lebar dari kaca itu memperlihatkan taman bunga berwarna-warni dan anak yang bermain dan berlari kesana-kemari dengan gembira.


"Julie tidak ada di sini," jawab Miss Allie dengan singkat.


"Saya serius, Nyonya," kata Dario sungguh-sungguh.


"Ya memang benar dia tidak di sini," kata Miss Allie tak kalah serius.


"Anak itu bilang Julie di sini," kata Dario tak mau kalah. Ia mulai tak sabar.


"Memang kemarin dia di sini. Sekarang dia sudah pergi lagi," kata Miss Allie.


Jantung Dario mulai berdegup cepat. Tangannya berkeringat. Kemana lagi Julie menghilangkan jejaknya kali ini?


"Kemana dia pergi, Nyonya?" tanya Dario sekali lagi dengan tidak sabar.


"Saya tidak tahu kemana. Dia kemarin hanya singgah di sini," kata Miss Allie.


Dario tertunduk lemas.


"Apa dia tak bilang sesuatu pada, Nyonya?" tanya Dario lagi.


"Tidak. Dia hanya pamit pergi. Kalau anda pikir saya berbohong, awasi saja saya di sini atau geledah semua tempat ini. Julie tidak ada di sini," kata Miss Allie dengan tegas.


Dario tak bisa berkata-kata. Harapannya pupus. Ia lalu pamit pergi untuk kembali ke Valex.


Saat menyeberangi halaman yang luas itu, Dario melihat sosok anak kecil yang menggemaskan itu.


"Camelia," panggil Dario sambil berlari ke arah gadis itu.


Dario berlutut di depan Camelia agar ia sejajar posisinya.


"Hai, cantik. Kamu tahu kemana Julie pergi?" tanya Dario dengan nada suara yang lembut.


"Julie bilang akan pergi menemui Papa si bayi. Dia akan pulang ke rumahnya. Bukanlah itu kau?" kata Camelia dengan bingung.


Dario terdiam. Papa si bayi adalah dirinya. Berarti Julie kembali ke Suresh?


"Camelia, kamu tahu Julie pergi naik apa?" tanya Dario lagi.


"Naik taksi berwarna kuning," kata Camelia.


Dario mengelus rambut anak perempuan itu lalu pergi kembali ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan dari Green Valley menuju Valex, Dario merasa tak tenang. Hatinya gundah.


Kemana Julie meninggalkannya lagi kali ini. Tak disangkanya perempuan itu begitu cerdas.


Julie tahu isi dokumen rahasia yang ditinggalkan Papanya. Maka dari itu ibu pergi menjauh karena tahu semua kebusukan kalangan atas dan bisnis yang kotor.


Dario bisa paham kalau Julie ketakutan. Tapi bagaimana bisa ia ditinggalkan tanpa sebuah pesan apapun. Ia tak hanya mencemaskan kandungannya. Tapi Dario mencemaskan Julie yang ia anggap sungguhan sebagai istri yang dicintainya.


Kalau Camelia bilang Julie pergi ke rumahnya, apakah mungkin dia kembali ke apartemen? Ah, rasanya tak mungkin. Kalau Julie benar kembali ke apartemen, pasti Roy atau Nyonya Emily akan mengabarinya dengan segera.


Kalau Julie benar-benar ingin menghilang, ia tak akan kembali ke rumah asuh tempat Anthena tinggal. Terlalu mudah untuk ditemukan. Lagipula, Dario sudah mengirim orang untuk mengawasi Athena diam-diam. Dan tidak ada laporan apapun.


Dario merasa gelisah. Ia tak fokus menyetir sampai-sampai mobil itu hampir tergelincir ke sisi pembatas jalan.


Dario benar-benar kalut. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Mamanya mengirim pesan lewat Grace lagi bahwa ia mengancam akan menjual saham Axton miliknya kalau ia tak segera kembali.


Sedangkan penyelidikan Shan dan Detektif Andrew semakin menemui titik terang.


Ia juga harus ke Dante Bank untuk memecahkan teka-teki isi brankas peninggalan Papanya.


Mana mungkin ia fokus mengerjakan semua hal ini kalau Julie menghilang darinya?


Dario melihat ponselnya. Ponsel baru yang ia beli untuk kabur dan mengabari Grace dan Shan saja. Tak ia sangka Julie juga secerdas itu.


Dario lalu mengambil ponsel Julie yang ia tinggalkan itu. Ia melihat wallpaper handphone Julie.


Dua pasang tangan kecil dan tangan Mama. Mungkin itu gambar yang ia temukan di internet atau semacamnya.


Ya, hanya ada dua bayi dan satu ibu. Tidak ada tangan Papa.


Apakah Julie mencampakannya? Apakah Julie ingin membuangnya?


Bukankah Julie sudah berjanji akan mengizinkannya bertemu putri-putrinya? Dan ia berjanji akan membuat mereka memanggilnya "papa".


Tanpa ia sadari Dario menangis. Ya, ia merasa begitu terbuang dan pupus.


Bertahun-tahun ia menyerah dengan kondisinya yang dinyatakan mandul. Bertahun-tahun ia selalu iri melihat pria yang menggendong atau menggandeng tangan anaknya.


Kini ia punya anak di kandungan Julie. Walaupun ia menyesali juga perbuatannya itu. Ia tak lagi minum alkohol setetespun. Alkohol membuatnya menodai Julie dan membuat gadis malang itu hamil.


Dario terpikir menelpon dokter Anna Tomya.


"Hallo, Ann. Julie menghilang. Aku sudah mencarinya sampai putus asa." Dario berkata dengan nada yang menyedihkan.


Dokter Anna duduk di kursi ruang praktiknya dengan wajah tak kalah ditekuk. Ia juga merasa stres.


Ia menyesal telah membongkar rahasia Dario. Tapi ia yak punya pilihan. Sekarang ia malah bertengkar hebat dengan suaminya, Vallen Willson karena rahasia yang dibongkar Nyonya Sanio itu. Ia begitu marah mengetahui fakta bahwa Vallen menyalahgunakan jabatannya.


"Ann, bisakah kau memberitahukan perkiraan bayi itu lahir?"


"Akhir musim gugur, atau awal musim dingin. Tergantung kesiapan bayi dan ibunya. Dia harus menjalani operasi khusus," kata dokter Anna.


"Kamu punya nama besar di bidangmu. Bisakah semua rumah sakit persalinan memberi informasi tentang Julie?" tanya Dario putus asa.


Dokter Anna tak menjawab apapun. Tentu saja itu sulit. Dan informasi pasien adalah hal rahasia. Seberapa besarpun kuasa dan uang yang dipunyai, tetap saja ada hal yang memang tak bisa kita kuasai semua.


"Aku yakin dia tidak pergi jauh dari Suresh. Dia tak mungkin juga kan keluar pulau? Penerbangan pesawat dengan ibu hamil harus mendapat izin khusus, kan?" Dario seperti bertanya pada angin. Dokter Anna tak menjawab apapun.


Hening. Hanya ada suara nafas Dario yang tampak marah dan gusar. Ia sedih tak tertolong.


"Dario, apapun bisa terjadi. Dia bisa pergi kemanapun dia mau. Sekarang sudah makin canggih. Rumah sakit persalinan kecil di pedesaan sekalipun bisa menangani kelahiran kembar. Kalau Julie menghilang, berarti ia memang ingin pergi."


"Tapi, Ann..."


"Dario, jangan egois. Aku tahu kuasa Mamamu. Dia begitu kejam dan menakutkan bagi Julie. Kalau kamu di posisinya, apa yang akan kamu lakukan? Menyerahkan dirimu padanya seperti orang bodoh? Julie hanya ingin melindungi bayinya," kata dokter Anna.


Dokter Anna orang paling realistis. Tak ada gunanya memberi Dario kata-kata penghiburan dan semacamnya. Julie sudah melakukan langkah yang benar.


Tak ada suara apapun di panggilan telepon itu selain isak tangis Dario.


"Dario, dia akan kembali padamu kalau benar-benar menginginkanmu," kata dokter Anna sebelum menutup teleponnya.


Dario tersedu. Ia memukul dashboard mobil itu dan setirnya dengan amarah dan kesedihan membara.


Di depannya, sapi-sapi yang sedang asyik merumput itu tampak mendongakkan kepalanya ke arah kaca depan mobil itu.


Mungkin mereka juga terkejut karena ada bunyi klakson panjang dan berkali-kali. Dario benar-benar sudah menggila memukul apa saja yang ada di depannya. Luapan kesedihannya hampir sama saat ia kehilangan Papanya dulu.


Julie juga sama berharganya untuknya.