Mama'S Twin

Mama'S Twin
Amarah Nyonya Besar



Hello guys, I'm back.


Episode 2 mau upload jam berapa nih?


Tinggalkan jejak ya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Nyonya Sanio tersenyum sinis ke arah Celia yang berusaha menutupi badannya yang telanjang dengan selimut.


Nyonya itu berlalu pergi dengan cepat lalu membanting pintu kamar hotel itu dengan keras. Amarah membara memenuhi dadanya.


Celia yang panik dan pucat tentu saja tak bisa mengejarnya. Entah kemana pakaiannya tadi. Ludwig melemparnya ke sembarang tempat karena tak sabar mencumbunya.


Ludwig terlihat biasa saja. Toh, karirnya tak ada pengaruhnya dengan Nyonya Sanio. Ia kembali meraih tubuh Celia ke arahnya.


Celia menepis tangannya. Ia berteriak marah. Ludwig merasa tersinggung lalu menarik tangannya dengan kasar.


Ternyata ego Ludwig selama ini cukup besar. Celia tak menyangka lelaki itu bisa kasar padanya.


Ludwig mencengkeram leher dan memaksa Celia untuk melihat ke arah matanya yang menatap tajam itu.


"Dengar, ya. Selama ini aku sudah menuruti apa maumu. Kamu pikir membuat skandal di publik dengan Antonio itu mudah? Ya, mungkin orang-orang tak peduli dan namaku malah naik karena hal ini terdengar biasa saja di dunia hiburan. Tapi lihat, wanita-wanita itu menjauh dariku. Sekarang kamu berani menolak keinginanku?" Ludwig berteriak marah.


Celia tak berani melawan. Ia melepaskan diri dan terus mundur sampai tembok. Ludwig mengikutinya dengan badannya yang kekar dan berotot.


Badan yang dulu selalu ia puji dan ia rindukan karena kegagahannya itu kini terlihat menakutkan. Celia yang terpojok hanya bisa mengeluarkan air mata saja.


"Ludwig, please. Aku harus pulang dan menjelaskan semua ini pada mertu..."


"Hah. Cukup. Peduli apa aku soal mertuamu yang kaya raya itu. Takut uangnya habis untukmu? Takut fasilitasmu dicabut lagi?" Kata Ludwig diikuti tawanya yang terdengar mengejek.


Celia meremas jadinya sendiri dengan gemetar. Ia takut. Ludwig, sosok malaikatnya yang ia kagumi selama ini ternyata hanyalah topeng saja.


Ingin rasanya Celia lari dan kabur dari hotel itu. Tapi ia masih telanjang. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, mencari bajunya.


"Kamu mencari ini, hah?" tanya Ludwig sambil memungut gaun Celia dari lantai.


"Ludwig, please," kata Celia memohon sambil berusaha meraih gaun itu dari tangan Ludwig.


Ludwig tentu saja tak menyerahkannya begitu saja. Tangannya yang kuat dan kekar itu merobek gaun itu menjadi dua bagian.


Celia berteriak pasrah. Air mata makin keluar dari sudut matanya.


"Mana janjimu untuk mengganti uangku, untuk membayarku dengan mahal. Uangmu habis? Suamimu mencampakanmu?" Kata Ludwig sambil tertawa. Gaun yang sudah robek itu ia lempar kembali ke lantai.


"Aku sudah cukup muak main-main denganmu. Dengar, ya. Sudah waktunya berhenti membodohi Ibu mertuamu itu. Kini dia tak akan percaya padamu lagi sekalipun kamu mengiris telingamu sendiri di depannya," kata Ludwig.


Celia masih mematung di sana. Ludwig berlalu menuju ranjang dan mengenakan pakaiannya dengan cepat.


"Saatnya aku mencari gadis yang lebih muda dan cantik, Darling. Jangan lupa bayar tagihan hotelnya. Kalau kamu masih punya uang," kata Ludwig sambil terbahak dan berlalu pergi.


Celia hanya menangis dan memungut gaunnya yang sobek itu. Bagimana ia akan pulang? Ia meratap.


***


Nyonya Sanio duduk dengan gusar di mobilnya. Ia berusaha menghubungi Grace lagi.


"Grace, ada kabar dari Dario? Cari diam-diam dan kabari saya secepatnya," katanya tegas lalu ia hendak menutup telepon. Tapi ia teringat sesuatu.


Nyonya Sanio melihat jalanan kota Suresh yang lumayan padat sore itu. Ia ingin segera pulang.


Mobil itu akhirnya memasuki gerbang rumah mewah dan megah itu. Nyonya Sanio mengumpulkan seluruh pelayan.


"Ambil lagi semua barang-barang Celia di kamarnya di lantai atas. Semua pakaian dan alat make up saja. Koleksi sepatu dan tas mahalnya jangan. Tetap biarkan di tempat itu. Termasuk perhiasan, jam tangan mewah dan aksesoris yang sekiranya mahal. Ingat, pakaian dan alat make upnya saja," kata Nyonya Sanio memerintahkan.


"Oh iya, asal saja masukkan ke dalam koper. Tidak usah terlalu rapi. Kalau perlu lempar saja ke halaman rumah." Nyonya Sanio melanjutkan perintahnya dengan tatapan mata yang sinis.


Ia lalu masuk ke kamarnya. Wajahnya seperti habis ditampar.  Menantu yang ia bela ternyata benar-benar busuk.


Ia segera mengambil ponsel itu kembali dan menelpon besannya.


"Hallo, Maria. Jemput anakmu di rumah. Saya tidak akan mengizinkannya lagi untuk menginjak rumah ini. Saya tidak peduli Frans mau bilang saya tak tahu terimakasih atau tak tahu balas budi. Hubungan pertemanan kita sudah cukup sampai di sini," kata Nyonya Sanio dengan rasa marah yang tak bisa ditahan lagi.


Telepon itu ditutup. Pintu kamar Sang Nyonya Besar diketuk pelan.


"Masuk," katanya dengan nada malas dan masih kesal lagi.


"Nyonya, saya menemukan ini di tumpukan baju Nyonya Celia," kata Dona-pelayan rumah senior itu.


Sebuah map biru muda yang nampak tak mencurigakan sama sekali. Mungkin dokumen pribadi atau paspor milik Celia dan yang lainnya disimpan di situ.


"Bawa kesini, biar saya lihat," kata Nyonya Besar itu. Dona mendekat dan menyerahkan map itu. Ia lalu pamit pergi untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.


Nyonya Sanio membuka dokumen itu satu per satu. Ia tersenyum penuh kemenangan.


Surat cerai itu ada di sana. Surat yang Dario cari dengan susah payah.


Namun dirinya dikejutkan lagi dengan berlembar-lembar kertas hasil pemeriksaan rumah sakit itu. Itu hasil pemeriksaan asli. Jadi, selama ini benar kata Dario. Celia telah mencurangi hasil pemeriksaan rumah sakit itu.


Nyonya Celia membaca diagnosis dokter itu. Ia mungkin tak memahami istilah medis. Tapi bisa dilihatnya tulisan itu dengan jelas,  Soraya punya masalah dengan kesuburan dan dinyatakan sulit punya keturunan.


Nyonya Sanio membanting kertas itu di kasurnya. Dasar menantu licik dan gila. Selama ini ia begitu bodoh dan percaya oleh tipu muslihatnya.


***


Celia berlari menuju toilet hotel mewah itu. Ada handuk kimono berawna putih. Ya, itu bisa menutupi badannya. Lagipula, ia nanti masuk mobil dan tak seorangpun bisa melihatnya.


Ia mengambil tasnya. Ia pastikan kunci mobil itu tak tertinggal. Celia mengeluarkan kartunya untuk membayar tagihan kamar.


Ia berjalan mengendap sepanjang lorong kamar lantai 3 itu. Ia merasa beruntung karena tak ada seorangpun yang melihatnya keluar kamar dengan handuk dan wajah yang kusut berantakan itu.


Namun ia kembali menunduk saat pintu lift itu terbuka. Mau tak mau ia harus menahan malu. Orang-orang berbisik di belakangnya. Celia tak peduli. Ya hanya ingin pulang dan cepat sampai di rumah.


Celia menyerahkan kartunya. Petugas hotel menggeleng.


"Kartunya tidak bisa, Nyonya," kata petugas itu dengan sopan.


Celia menyerahkan semua kartu yang ada di dompetnya tetap tak bisa.


10 kartu dicoba tanpa hasil. Hingga kartu terakhir ia coba. Nihil.


Celia lemas. Keadaannya yang memakai handuk hotel membuat orang-orang makin penasaran. Bagaimanapun ia menarik perhatian para pengunjung hotel.


Celia makin pucat. Ia merasa dihakimi. Bagaimana dia akan keluar dari tempat ini? Ia mulai menangis.