
Nyonya Sanio sudah rapi pagi itu. Ia tak tahu Dario tak pulang ke rumah semalam.
Pagi-pagi benar ia menelpon besannya, Maria Adams untuk datang. Ia bilang ada sesuatu yang penting.
Celia keluar kamarnya dan turun. Ia merasa lapar.
"Hai, Ma," katanya dengan nada cerianya.
Nyonya Sanio tak menoleh padanya. Sapaan itu ia abaikan begitu saja.
"Mana Dario?" tanyanya dengan dingin.
"Nggak tahu. Semalam sampai larut nggak pulang," kata Celia.
"Kamu nggak telpon? Kamu nggak cari?" Noyonya Sanio berkata sinis padanya.
Celia terdiam. Tak biasanya mertuanya ini berkata sesinis itu padanya.
Pelayan mendekat padanya. Nyonya Sanio memberi kode padanya dengan sebuah anggukan kepala. Mereka naik ke atas. Celia melihat mereka dengan heran.
Belum sempat Celia bertanya, pelayan datang lagi dari depan. Ia mengantar Mamanya datang.
"Hallo, besan. Makin segar saja rupanya penampilanmu," katanya memuji. Maria Adams mendekatinya, ia merasa aneh karena tak biasanya Nyonya Sanio mengabaikannya.
"Duduklah di sini," perintahnya dengan dingin.
Maria Adams duduk dengan wajah tegang. Ia melirik Celia yang nampak sama bingungnya.
Nyonya Sanio duduk di kursi utama ruang makan itu. Celia dan Mamanya duduk berhadap-hadapan.
Sebuah map cokelat di pangkuannya kini ia lempar ke tengah-tengah meja.
"Lihat sendiri," katanya dengan tatapan dingin.
Celia gemetar. Ah, apakah mungkin Dario sudah mengadukan perselingkuhannya? Ia tampak panik dan pucat.
Nyonya Sanio tertawa sinis. Ia melirik ke arah besannya. "Lihat kelakuan anakmu," katanya dengan ketus.
Amalia Adams meraih map itu. Ia membuka isinya satu per satu. Tangannya ikut gemetar. Ia melihat Celia di hadapannya yang sama takutnya dengan dirinya.
"Ma, aku bisa jelaskan kalau..."
"Cukup," kata Nyonya Sanio memotong pembicaraan itu.
Celia terdiam. Ia meraih map itu dan dengan tangan gemetar, ia memeriksanya. Jantungnya bagai melompat keluar. Tak disangkanya Dario akan bertindak sejauh ini.
"Dario tidak pulang mungkin karena muak. Katanya surat perceraian sudah disiapkan. Biar saya hubungi kantornya kalau kamu sudah saya usir dan kamu bisa pulang kembali ke rumah Ibumu, " katanya dengan tegas dan tak terbantahkan lagi.
"Ma, please. Beri aku waktu untuk menje..."
"Sudah, cukup," katanya tanpa bisa ditawar lagi.
Pelayan turun membawa koper-koper. Itu baju dan sebagian barang-barang Celia.
"Ma, itu apa? Ma, jelaskan," kata Celia panik. Ia bahkan masih memakai gaun tidurnya.
Maria Adams tampak diam dan tertunduk. Mukanya merah. Jelas anaknya bersalah. Bagaimana ia akan membelanya.
"Bawa ke mobil Nyonya Maria. Suruh penjaga untuk mengawasi sampai meraka keluar dari rumah ini dan tak bisa kembali lagi," katanya memerintah.
Nyonya Sanio berjalan meninggalkan mereka menuju kamarnya. Celia berusaha meraih tangannya untuk memohon. Tapi tangan itu ditepisnya.
Nyonya Sanio marah besar. Semalaman ia merenung. Perselingkuhan tak bisa dimaafkan. Nama keluarganya telah tercoreng. Biarlah apa kata orang. Biarkan Dario memilih jalannya sendiri. Ia tak mau memelihara perempuan seperti itu di rumahnya. Ia tak rela harta peninggalan mendiang suaminya dipakai untuk berhura-hura menantunya dengan lelaki lain. Perempuan macam apa yang berbuat tak terhormat seperti itu?
***
Nyonya Sanio meraih ponselnya. Ia menelpon sekretaris Dario yang baru.
"Dario ke kantor?" tanyanya.
"Tidak, Bu. Mungkin belum. Saya juga tidak tahu. Jadwalnya kosong hari ini," jawab wanita itu dengan takut-takut. Nyonya Sanio memang menakutkan bagi sebagian orang.
"Nomornya tak bisa dihubungi. Katakan padanya untuk segera pulang. Bilang kalau wanita jahat sudah diusir. Sudah begitu saja, sampaikan padanya," kata Nyonya Sanio.
Nyonya besar itu menutup teleponnya lalu duduk dia samping meja riasnya yang mewah dan klasik. Diraihnya foto mendiang suaminya.
"Maaf, Pa. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahan mereka. Biarlah berpisah. Mungkin tak berjodoh. Ikhlaskan," katanya dengan sedih.
Tentu saja foto itu tak menjawab. Ia hanya benda mati. Orang di foto itu juga sudah mati.
Omar Axton tenggelam di danau dan tewas bertahun-tahun yang lalu. Rahasia kelam yang belum banyak terungkap. Misteri mimipi-mimoi buruk Dario sepanjang tahun smapai kini ia sudah dewasa.
......................
Maafkan pembaca. Kali ini agak pendek dulu Besok akan update banyak. Karena sekarang Author sibuk di dunia nyata.
Selamat membaca. Jangan lupa mampir lagi besok. Terimakasih.