
"Julie, hatiku sedang terguncang," kata Dario.
Julie hanya mengangguk saja dan mengusap kepala pria yang sedang bersedih itu.
Brenda dan Bertha sudah ia tidurkan di box bayi dan ia menaikkan suhu pemanas ruangan.
Dari jendela apartemen itu, ia melihat salju turun lagi. Musim dingin sepertinya sudah benar-benar di depan mata.
"Katakanlah kalau kau sudah sanggup," kata Julie pelan. Ia genggam tangan pria itu.
"Aku mengintai Frans Adams untuk mengetahui rencananya soal brankas itu. Lalu aku justru mendengar dua hal lain yang mengejutkan," kata Dario masih dengan wajah syok.
Ia lalu membuka handphonenya. Shan rupanya sudah mengirimkan file percakapan diam-diam tadi. Alat perekam itu ditaruh di dalam vas bunga di meja bulat itu. Sungguh membayar mahal Shan yang merupakan mantan pasukan khusus adalah sangat tepat. Ia bisa segalanya.
Dario memperdengarkan isi percakapan itu pada Julie. Julie menyimaknya dengan wajah biasa saja, lalu raut wajahnya berubah di menit-menit berikutnya. Ia semakin syok dan terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam telinganya.
"Tak mungkin. Dia pasti belum sempat mengatakan apapun pada istrinya dan aku sudah cepat-cepat merancunnya."
"Sepertinya tak akan terbuka. Sanio mungkin ingin menguasai harta itu sendiri. Mana mungkin ia merelakan semua harta suaminya untuk anak yang bukan darah dagingnya?"
"Ya, Dario itu anak Omar Axton dengan wanita selingkuhannya."
"Selingkuhan Omar itu juga wanita bersuami kalau tak salah. Suaminya tentara yang bertugas di luar negeri atau semacamnya. Ya, semacam itu lah."
Alat rekaman dimatikan dan Julie memandang Dario dengan tatapan mata iba dan ingin rasanya ia ikut menangis saja. Tapi ia harus kuat untuk Dario.
"Soal Papamu diracun, aku tak terlalu terkejut. Aku sudah menduganya karena semuanya sudah tergambar di mimpiku yang kupikir hanya halusinasi itu. Tapi fakta terakhir membuatku kesulitan untuk mecernanya. Aku merasa seperti gila." Dario berkata seperti orang depresi.
Julie tahu kata-kata menenangkan sudah tak mempan lagi. Ini bukan soal itu. Lagipula mana ada orang yang biasa saja setelah mendengar fakta itu. Seumur hidupnya ia pasti merasa hidupnya palsu.
Julie hanya memeluk Dario dengan usapan lembut di punggung pria itu.
Salju mungkin turun untuk membuat bumi itu menjadi putih dan dingin. Tapi di dasar hati Dario, seperti ada gumpalan hitam dan lubang menganga yang besar.
"Bibi Joan mungkin tahu sesuatu soal ini. Shan tak mungkin ke Valex untuk menyelidiki karena istrinya sebentar lagi melahirkan. DiaΒ berencana meminta detektif Andrew untuk menyelidiki. Ingin rasanya aku menyetir kesana sendiri dan mencari tahu sendiri." Dario menggumam pelan.
Julie menatap suaminya itu dengan mata cokelatnya yang teduh.
"Jangan, Dario! Salju baru turun. Cuaca biasanya buruk. Jalanan mungkin licin. Berbahaya untukmu apalagi kamu menyetir sendiri dengan kondisi tidak stabil dan masih terguncang seperti ini." Julie menasehatinya.
Julie menghela nafas panjang dan nampak berpikir.
"Tes DNA," katanya kemudian.
Dario menatap Julie. Ya, Julie benar. Mengapa tak terpikirkan olehnya? Ia bahkan dulu yang meminta Julie tes DNA dengan janinnya.
Memang kalau pikiran sedang kalut, ide apapun tak akan masuk ke kepala.
"Temui dokter Anna. Dia bisa dipercaya dan pasti akan mau membantumu," ucap Julie.
Dario mengangguk.
Memang ia tak bisa hidup sendiri tanpa Julie. Sedari kecil diatur nyonya Sanio membuat Dario sedikit kehilangan kendalinya sendiri.
Ia harus berubah. Ia sudah bertekad.
***
Sementara itu di rumah megahnya yang sepi itu, sang nyonya meringkuk sendirian di kamarnya.
Perawat dan pelayan silih berganti menjenguknya dan menanyakan apa maunya. Dia sakit dan lesu. Dokter khusus sudah dipanggil tapi mobilnya mengalami kecelakaan karena cuaca buruk.
Di dalam keadaan seperti itu, ia menginginkan seorang putri yang bisa merawatnya dan ada di sampingnya. Ah, andai saja bayinya masih ada, pasti ia tak akan kesepian.
Sekarang ia hanya merintih memanggil-manggil nama Dario.
Para pelayan sibuk menelpon Dario dan Shan tapi tak ada yang mengangkat. Sementara nyonya Sanio makin parah kondisinya.
Bersambung...
......................
...π»π»π»...
...Holla. π Yang masih punya vote bolehlah didukung. Maaf uploadnya nyicil satu-satu kayak kreditan....
...Yok bisa yok.π₯ππ―πβ ...