
"Apa aku mengenalmu?" tanya Celia pada Dario.
Dario diam saja. Ia melihat sekeliling lorong ini. Sepi. Ia tadi lupa bilang pada Shan kalau ia akan ke rumah sakit lagi. Pasti pengawal-pengawal itu berjaga di sekitar kamar Julie.
"Ah, kurasa tidak. Maaf, Tuan aku telah menabrakmu. Aku akan berhati-hati lagi nantinya." Celia berkata demikian lalu ia menunduk hormat dan berjalan pergi.
Dario memandanginya dengan wajah bingung. Celia terlihat aneh. Ia lihat lagi punggung yang pergi menjauh itu. Ia lihat lagi kepalanya yang tampak diperban.
Mengapa bicaranya melantur? Apa ia hilang ingatan? Tapi mengapa? Seperti di sinetron murahan saja.
Dario segera mencari Julie. Langkahnya lebih berhati-hati. Di sebuah lorong yang lain ia bertemu dengan sekumpulan perawat yang berwajah panik.
"Tuan, apakah anda melihat pasien yang kabur?"
"Kepalanya diperban, Tuan. Dia seorang wanita."
Mereka tampak menanyainya dengan wajah cemas.
Dario berpikir. Maksudnya Celia? Celia pasien yang kabur?
"Oh, dia kenapa? Tadi sepertinya aku melihat. Dia menabrakku," sahut Dario.
"Dia terluka di bagian kepalanya dan ingatannya jadi kacau. Dia harus disuntik obat penenang. Ia harus diamankan. Dia bisa membahayakan dirinya dan orang lain," kata perawat satunya.
"Jadinya kemana dia pergi, Tuan?" tanya perawat laki-laki itu dengan tak sabar.
"Ke arah sana," kata Dario sambil menunjuk arah Celia pergi.
Para perawat itu berlari mencarinya. Dario tertegun di tempat. Jadi Celia bermasalah dengan ingatannya? Ada-ada saja.
Dario lalu terus melangkah pergi. Ia tak peduli lagi. Yang terpenting sekarang adalah Julie dan bayinya aman dari Nyonya Sanio dan ia bisa sering-sering menemui mereka.
Sementara itu Celia rupanya memutar arah dari arah yang ditunjukkan Dario pada para perawat.
Ia berjalan sesuka hatinya seperti seorang anak kecil.
***
"Aku ingin melihat mereka secara langsung, Athena. Bayi-bayiku itu," kata Julie sambil memakai baju hangatnya.
Athena membantunya naik ke kursi roda. Ia akan mendorong sahabatnya itu.
"Di luar banyak penjaga yang menyamar jangan terkejut, Julls. Dario yang menyuruh mereka," kata Athena.
Julie mengangguk saja dan mereka keluar dari kamarnya.
"Julls, mereka akan menjadi anak-anak yang cantik dan manis sepertimu," kata Athena.
Julie hanya tertawa. Mereka menuju ruang bayi dengan banyak kaca transparan itu.
"Julicia!" teriak sesorang dari seberang taman.
Julie tersentak. Itu Celia Adams. Jantungnya hampir copot. Athena yang tak tahu apa-apa nampak bingung.
"Itu mantan istri Dario," kata Julie dengan cepat. Wajahnya panik. Athena ikut panik setelah mendengarnya.
Celia Adams memberontak dan berteriak kesal.
"Hei, aku hanya ingin menemui temanku." Celia berteriak marah.
Pengawal melepaskannya tapi tak memberinya jarak untuk berjalan lebih mendekat lagi. Pengawal satunya yang memakai seragam perawat laki-laki itu tampak bersiap.
Dario yang berjalan ke arah mereka jadi mengurungkan niatnya. I tak kalah terkejut. Ia bersembunyi di balik pagar pembatas. Apa lagi ini? Sialan! Ia mengumpat dalam hati.
"Hallo, Julie. Terakhir kita bertemu di supermarket dan perutmu sekarang sudah mengecil. Kau pasti sudah melahirkan. Dimana anakmu? Aku ingin menemuinya," kata Celia.
Julie tercekat sambil memegangi perutnya.
Tak lama kemudian perawat yang asli yang tadi menanyai Dario tiba sambil berlarian hendak menangkap Celia.
Celia tertangkap dibantu oleh pengawal Dario yang menyamar. Ia berteriak-teriak dan terus menerus bilang kalau ia hanya ingin menemui Julie sahabatnya.
Julie yang syok langsung didorong masuk kembali ke kamarnya. Athena sama terkejutnya.
Dario berlari menyelinap dan masuk ke kamar tempat Julie dirawat. Wajahnya juga sepucat kertas.
Julie terkejut melihat Dario yang tiba-tiba datang. Dihampirinya Julie dan digenggam tangannya yang ketakutan itu. Ia berlutut di depan kursi rodanya.
"Julls, apa kau tak apa? Celia hilang ingatan. Ingatannya acak dan kacau. Kau tak apa, kan?" Dario bertanya dengan khawatir.
"Dia mengingatku." Julie berkata dengan tangan dingin masih menggengam tangan Dario.
"Apa maksudmu?"
"Sewaktu aku kabur ke dekat Delphi, ternyata rumahnya dekat dengan rumah musim panas yang kutinggali. Kami berpapasan di supermarket dan dia memaksaku untuk makan siang bersama. Mungkin ingatan ini muncul di kepalanya dan ia mengira kalau aku adalah temannya." Jukie berkata sambil menatap Dario.
Dario mengangguk. "Tenanglah kita akan segera kembali ke apartemen dengan aman," kata Dario sambil menggenggam tangan Julie.
***
Sementara itu Celia Adams terus berteriak-teriak di kamarnya.
Frans Adams duduk di kursi roda. Maria Adams berdiri di belakangnya.
Keadaan menjadi kacau. Frans merasa stress. Semua rencananya kacau karena harus mengurus Celia. Padahal ia ingin mengurus brankas di Dante Bank. Pertemuannya dengan Travis Topper jadi tertunda.
"Aku ingin bertemu Julicia Sanders. Dia sahabatku. Dia melahirkan bayi di rumah sakit itu," teriaknya keras-keras sementara para perawat menyuntikkan obat penenang di lengannya.
"Aku ingin bertemu Julie," teriak Celia lagi.
Nyonya Maria Adams melihat putrinya dengan dahi berkerut.
Julie? Julicia Sanders? Nama yang seperti tak asing baginya? Siapa itu? Ia berusaha mengingatnya.
...----------------...
...🔥🔥🔥...
Hallo. Happy weekend semuanya.Jangan lupa tinggalkan jejak ya. ❤👍🎁💯