
Dario tersenyum membaca pesan dari Grace, sekretaris barunya. Grace bilang Nyonya Sanio berpesan padanya bahwa wanita jahat telah diusir dari rumah.
Dario tahu apa maksud pesan itu. Celia diusir dari rumah? Ia tentu saja tak tepercaya itu. Ia mengecek CCTV rumahnya yang bisa dikasesnya. Benar, mobil Maria Adams terlihat memasuki rumahnya pagi itu. Tak berapa lama kemudian para pelayan membawa koper-koper masuk ke bagasi mobil itu. Celia terlihat masuk mobil dan pergi.
Dario tersenyum puas. Ia tahu Mamanya masih punya hati. Ia tak boleh terbutakan dan terhasut Celia. Bagaimanapun, bukti yang ia berikan sudah cukup jelas dan meyakinkan.
Dario enggan pulang. Ada Julie yang sedang tertidur di lengannya. Meraka menonton film bersama. Setelah kejadian malam itu, ia kembali luluh dan membuka diri untuknya. Ia tak lagi ketus. Sikapnya jauh lebih bersahabat.
Dario memindahkan kepala Julie ke pangkuannya agar lebih nyaman. Sofa lebar itu tampak nyaman untuk mereka berdua.
Ponsel Dario bergetar lagi. Ada pesan masuk dari Robert-pengacaranya. Surat perceraian telah siap. Tuntutan, hak waris dan perjanjian pra nikah yang mereka buat sudah siap. Diam-diam tanpa sepengetahuan Mamanya, Dario membuat surat perjanjian itu bersama Celia. Intinya Celia tak berhak atas sepeserpun harta milik Dario saat bercerai. Celia waktu itu setuju saja. Ia cinta mati pada Dario, idolanya sewaktu kuliah. Mana mungkin ia meninggalkannya atau meminta cerai?
Dario meletakkan ponselnya dan mengelus kepala Julie penuh sayang. Ia akan tetap membujuk wanita itu untuk bersedia dinikahi. Julie, sekeras apa kepalamu? Sekuat apa tekatmu? Sepercaya apa ia pada seorang Dario? Ah, tentu saja sulit mempercayai orang yang menodainya dan menghancurkan hidupnya. Tapi Dario akan berupaya sebanyak mungkin untuk menunjukkan rasa tanggung jawabnya.
Dario telah bertekat akan memperbaiki kesalahannya. Ia bahkan tak lagi menyentuh alkohol semenjak kejadian itu. Setetespun tidak.
Ia ingin menyaksikkan anaknya lahir, tumbuh dan memanggilnya Papa. Betapa selama ini ia telah berputus asa atas vonis dokter padanya. Ah, Celia menipunya. Mengapa ia begitu bodoh dan baru terpikir untuk menghubungi Anna Tomya? Selama ini semua pemeriksaan medis selalu Celia yang mengurusnya. Mudah sekali baginya untuk menyabotase hasilnya dan mengatakan bahwa Dario mandul.
Julie mengerang pelan. Ia nampak terbangun. Begitu matanya terbuka, ada Dario yang sedang tersenyum memandanginya.
Julie langsung bangun. Ia heran mengapa kepalanya bisa ada di pangkuan Dario.
"Kamu ketiduran," katanya sambil tersenyum.
Julie hanya diam saja lalu mengambil gelas di depannya. Seteguk air ia minum perlahan. Habis seketika.
"Mau lagi? Biar aku ambilkan," kata Dario tanpa menunggu jawaban Julie. Ia bergegas pergi. Padahal bisa saja ia memanggil pelayan untuk melayaninya. Julie tersenyum melihat punggung pria itu pergi mengambilkannya minum. Pria yang dulu amat dibencinya.
Sebenarnya semenjak hari pertamanya kerja di Axton, ia begitu kasihan melihat Dario. Dario amat bekerja keras dan perfeksionis. Walaupun tegas, ia amat memikirkan nasib dan kesejahteraan para karyawannya. Ia juga amat bermurah hati.
Namun sayang sekali istrinya suka mengacau. Celia Adams amat pencemburu. Ia selalu menindas staf perempuan yang ia anggap bisa mengancam hati Dario. Ia begitu berpikiran buruk pada setiap wanita cantik di kantor. Dario selalu memperingatkannya, tapi Celia tak jera. Dario selalu meminta maaf secara langsung saat Celia sudah pulang. Ia berusaha agar para karyawan tak takut. Bahkan ia mengakui kesalahan istrinya yang keterlaluan.
Kalau dipikir, Celia seperti tak mungkin menyelingkuhi Dario. Dia begitu obsesif dan tergila-gila pada suaminya. Tapi bukti itu benar adanya. Ah, kasihan sekali Dario.
Ah, pria sabar itu. Ia pekerja keras, ulet dan bertanggung jawab. Entah mengapa kejadian itu bisa menimpanya. Semua karena alkohol. Ia membenci alkohol.
"Ini," kata Dario menyerahkan gelas kaca yang terisi penuh oleh air putih. Ia menyodorkannya sambil tersenyum.
"Saya akan cerai. Surat sudah siap. Tinggal tandatangan. Mama saya setuju. Bukti perselingkuhan itu sudah saya bongkar," kata Dario memecah keheningan.
"Lalu?" tanya Julie.
"Itu saja?" tanya Julie memancing.
"Lalu apa?" Dario terdengar tak mengerti.
"Bapak kemarin memaksa saya untuk bersedia dinikahi. Agar bayi ini punya Bapak, agar dokumen resminya bisa diurus," kata Julie.
"Julie, saya sangat ingin bahkan saya akan memohon. Tapi saya tak ingin memaksa. Saya takut kamu kabur dari saya," katanya pelan. Ia menatap serius wajah Julie.
"Apa yang bisa Bapak janjikan pada saya kalau saya bersedia dinikahi?" Julie balik bertanya.
"Keamanan, masa depan anak kembar di rahim kamu, dan separuh harta saya. Mama tak tahu menahu. Saya punya banyak aset atas nama sendiri, tak ada kaitannya dengan Axton Group. Saya akan kasih ke kamu dan anak-anak," katanya serius.
Julie tertawa kecil. "Bapak tahu kan Saya tidak butuh semua harta itu. Saya hanya butuh rasa aman dan ketenangan untuk membesarkan anak-anak ini nantinya. Kalau saya menikahi anda dan orang-orang tahu, hidup saya akan sulit. Bapak tahu kan maksud saya? Lagipula saya tidak mencintai anda," katanya tegas.
"Kamu tidak perlu mencintai saya. Saya tidak akan meminta perlakuan sebagimana istri kepada suaminya. Saya akan terima. Saya hanya ingin pernikahan kita dicatat secara resmi. Saya sudah bilang, kan kemarin. Pejabat sipil Kota Suresh itu sahabatku. Ia bisa dipercaya. Pernikahan ini dicatat, anak ini punya Bapak secara resmi. Kalau perlu kita bikin perjanjian khusus. Saya akan menandatangani hitam di atas putih. Saya berjanji tidak akan membongkar status anak-anak saya dan status pernikahan kita, bahkan di depan Mama saya. Kamu akan tetap aman. Saya tidak berhak atas mereka, saya tidak bisa mengambil anak itu tanpa seizin kamu. Saya hanya ingin mereka tahu kalau saya Ayah kandungnya. Apalagi poin yang ingin kamu tulis? Mari kita buat," kata Dario dengan lugas dan jelas.
"Apa ini sebuah lamaran?" Tanya Julie sambil tertawa.
"Ya, saya melamar kamu. Serius. Apa jawaban kamu?" tanya Dario pada Julie.
"Ya, lamaran saya terima," jawab Julie sambil tertawa.
"Julie, kamu mentertawakan saya. Saya serius, Julie," katanya agak kecewa.
"Bukan. Saya serius. Saya bersedia. Untuk surat perjanjian akan saya susun sebelum kita menemui kata sepakat. Biarlah orang-orang tak mengetahui pernikahan ini. Saya tetap dapat kebebasan dan ketenangan mengurus anak saya. Kamu dapat status sebagai Ayah. Itu kan intinya?" Julie berkata serius.
Mata Dario berbinar senang. Apa Julie bercanda padanya? Apa ini mimpi?
"Saya serius," kata Julie.
Dario memandangnya tak percaya. Ia lalu memeluk Julie saking senangnya. Jukie diam saja, ia tak menepis pelukan itu. Ia tersenyum dan menepuk pundak pria itu.
Ya, setiap kesalahan ada cara untuk memperbaikinya. Dario telah membuktikan keseriusannya. Ia berhak mendapat kesempatan.
......................
Yok, siapa yang ikut senyum-senyum baca ending episode ini. Beri komentar dan tinggalkan jejak ya agar Author tambah semangat.