Mama'S Twin

Mama'S Twin
Memutar-Balikkan Fakta




Celia memakai kacamata hitamnya. Rambut pirangnya tergerai manis. Tas mahal ratusan juta itu ia taruh di pangkuannya. Koper mewah berwarna hitam itu di depannya. Sebuah ponsel keluaran terbaru berada di genggamannya.


Kursi tunggu di bandara itu lumayan sepi. Penerbangan paling pagi ia pilih untuk menghindari bertemu banyak orang atau tak sengaja bertemu dengan orang yang dikenalnya.


Tak berapa jauh dari tempat duduknya, Ludwig Cello tampak duduk juga. Mereka harus menjaga jarak lebih dulu. Situasi belum aman. Tapi mereka saling melirik seperti orang kasmaran.


Ludwig adalah pria tampan idaman para wanita di Suresh dan mungkin seantero negeri. Ia model yang cukup terkenal. Wajahnya tampan, dadanya bidang dan senyumnya manis. Usianya mungkin dua puluhan. Tentu saja jauh lebih muda dibandingkan usia Celia. Namun apakah artinya usia dibandingkan nikmatnya jatuh cinta.


Celia melampiaskan kesepian dan kehampaan hatinya dengan mengencani pria muda itu. Dulu ia amat tergila-gila dan obsesif dengan Dario. Kini ia menemukan titik bosannya. Apalagi setelah ia tahu bahwa ia mandul.


Rumah mewah itu serasa penjara untuknya. Nyonya Sanio menyayanginya. Tapi sampai kapan? Celia hampir gila memikirkan bagaimana jika rahasianya terbongkar. Bagaimana kalau dokter-dokter itu buka suara. Banyak uang yang diselundupkannya untuk menyogok para dokter itu. Ia ingin membuat Dario yang terkesan tidak subur dan mandul. Ia tak ingin disalahkan. Ia tak ingin diceraikan.


Nyonya Sanio sangat menginginkan keturunan. Dario satu-satunya putranya. Hasutan dan akting manisnya mampu membuat wanita itu luluh padanya. Ia seolah-olah istri paling menderita karena suaminya mandul dan tak bisa memberinya anak. Ia menjadikan dirinya seperti istri malang yang kurang perhatian karena Dario sibuk bekerja.


Nyonya Sanio memanjakannya. Ia menantu kesayangan. Opsi adopsi anak dimintanya tapi Nyonya Sanio belum menyetujuinya. Bagaiamnapun keluarganya terpandang. Anak itu nantinya akan menjadi sorotan.


Kini Celia seperti kembali menemukan semangat hidupnya. Ludwig membuatnya jatuh cinta lagi. Ia tergila-gila pada pria muda tampan itu.


Ludwig menyukainya karena Celia amat royal padanya. Ia tak perlu lagi susah payah bekerja dan pemotretan sana-sini atau jalan di catwalk dan bergonta-ganti pakaian dengan melelahkan. Ia tinggal duduk manis. Nyonya kaya itu akan membelikan apapun yang ditunjuknya. Mudah saja memberinya rasa sayang dan perhatian. Ia sayang uang Celia. Celia sayang padanya.


Di detik-detik berakhir penerbangan, seorang laki-laki bersetelan turis tampak menyeret kopernya. Kacamata hitamnya dan headphone di telinganya. Celia melihatnya sekilas dan menatap tak peduli.


Dia adalah Shan yang menyamar. Kamera di ponselnya siap menyala untuk melapor pada Dario.


Pesawat siap landas, Shan duduk dengan santai di kursi bisnisnya yang luas dan nyaman itu. Sudut yang tepat untuk mengintai pasangan kasmaran itu.


Celia tengah menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Ludwig mengelus rambutnya, memanjakannya. Shan memotret dan merekamnya dengan cepat sebelum pramugari datang menegurnya. Ia kembali duduk santai lagi saat pramugari menawarkannya segelas wine.


***


Dario menatap Julie yang sedang makan dengan lahap sambil tersenyum senang. Julie merasa tak nyaman dan langsung minum. Selera makannya sudah kembali sejak serangan mual itu datang.


"Jangan lupa diminum obat dan vitamin tambahan dari dokter Anna. Aku ke kantor dulu ya. Kalau perlu apa-apa bilang saja," kata Dario.


Julie hanya mengangguk. Perkembangan komunikasi dengannya tak bertambah jauh. Julie tetap cuek dan berkata seperlunya.


Dario datang pagi-pagi ke apartemen sebelum ke kantor.  Ia merasa hanya dengan melihat Julie, membuat semangatnya kembali. Akhir-akhir ini ia dipusingkan dengan urusan pekerjaan dan laporan dari Shan soal perselingkuhan istrinya di Macau.


"Mmm...Saya boleh datang saat makan siang?" tanya Dario pelan. Ia sangat banyak berharap bisa sering-sering menemui Julie.


"Saya akan ke Rumah Asuh nanti siang. Datang saja ke apartemen. Saya pasti nggak di sini," kata Julie lalu berlalu pergi ke kamar.


Dario hanya menghembuskan nafas panjang. Baiklah. Ia memaklumi mengapa Julie membencinya sedemikian rupa dan berusaha menghindarinya. Ia telah merusak masa depannya.


Dario melangkah keluar dari area meja makan. Ia hendak turun ke lantai bawah menuju mobilnya dan berangkat ke kantor.


Di perjalanan turun, Dario terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Hallo, Darwin. Bekukan semua rekening dan kartu kredit yang dibawa Celia ke Macau. Cek transaksi terakhirnya tadi malam. Laporkan ke saya segera," kata Dario.


***


Celia Adams terlihat panik. Ia dan Ludwig baru saja makan di restoran berbintang. Ia mengeluarkan semua kartunya.


"Maaf, Nyonya. Yang ini juga tidak bisa," kata pelayan itu dengan sopan sambil mengembalikan kartu pembayaran Celia.


Celia mengeluarkan semua kartunya di dompet. Ia tak mengerti mengapa 3 kartunya tak berfungsi lagi.


"Coba saja semua," katanya dengan agak gugup.


Dario mematikan ponselnya yang untuk keperluan pribadi. Ia masih punya satu ponsel lagi untuk urusan bisnisnya. Celia tak tahu nomornya.


Ia tersenyum tipis membayangkan betapa paniknya Celia. Ia sudah berpesan pada Darwin kalau-kalau Celia menghubunginya. Darwin tinggal bilang kalau sistem dan server untuk mengurus keuangan Axton sedang dalam masa pemeliharaan sehingga semua transaksi terganggu smapai semua beres.


Tak berapa lama kemudian Darwin mengirimnya detail transaksi yang dilakukan Celia 24 jam terakhir ini selama di Macau.


Dario memegang keningnya. Kepalanya pusing. Celia menghabiskan ribuan dolar di Casino. Sejak kapan ia suka berjudi? Ah, atau jangan-jangan pacarnya yang berjudi. Dario mendengus kesal.


Ia berjalan ke mesin cetak di ujung ruangannya. Ia memindahkan semua data dan bukti perselingkuhan itu. Ia menempatkan dalam satu map. Semua dicetak. Rencananya ia ingin menunjukannya pada Mamanya. Apa Mama masih mau membela menantunya kalau bukti sudah diberikan sedemikian jelas? Dario membatin dengan emosi meluap-luap.


***


Dario menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat lalu memutuskan untuk pulang ke apartemen Julie. Tempat itu cukup menenangkannya. Lagipula Julie tidak ada di sana. Ia ingin merenung sambil berpikir apa langkah yang tepat untuk diambilnya dalam menangani semua ini.


Dario datang dan melepas jasnya. Ia menggulung lengan kemejanya. Dadanya yang bidang dan tangannya yang kekar nampak mempesona. Ia meletakkan bukti-bukti yang ia cetak di kertas itu di meja depan sofanya.


Dario menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu mengamati kertas itu satu per satu. Menurut penyelidikannya bersama Shan, sudah hampir setengah tahun Celia berselingkuh. Lalu menjadikan dekat dan intim dua bulan terakhir ini. Fakta yang cukup mengejutkan dan menggoncangnya.


Dialihkannya pandangan matanya ke depannya. Kolam renang yang airnya berkilat-kilat terhalang kaca.


Dario memicingkan matanya. Air kolam itu bergerak-gerak. Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah kolam. Dibukanya pintu kaca itu.


Julie sedang berenang sambil menikmati pemandangan kota Suresh dari ketinggian. Ia memakai baju renangnya yang sexy. Dario memandanginya. Julie nampak tak menyadairinya karena ia membelakangi Dario.


Julie membalikkan badannya hendak naik dan meraih handuknya. Ia terkaget dan hampir terpeleset jatuh saat melihat Dario berada tak jauh darinya dan mengawasinya.


Dario dengan cepat menangkap tubuhnya. Julie nampak gugup dan kaget.


"Maaf, tadi kupikir kamu ke Rumah Asuh bersama Athena. Jadi saya datang untuk bersantai," kata Dario.


"Athena sedang sibuk karena anak-anak sedang ujian sekolah," kata Julie menjawab. Ia mengambil handuknya dan duduk di tepian kolam. Dario ikut duduk di sampingnya.


Rambut Julie masih basah. Wajahnya tak terpulas kosmetik apapun. Tampak natural dan cantik. Dario memandanginya tak lepas-lepas. Julie menoleh padanya, Dario menundukkan pandangannya. Ponselnya tak lama kemudian berdering. Dario sengaja menyalakannya kembali.


Dario berjalan ke dalam, menjauh dari Julie karena Celia yang menelpon.


"Ya?" Dario menjawab dengan singkat.


"Honey, kenapa semua kartuku tak berfungsi dan dibekukan?" rengeknya manja.


Dario tertawa sinis. "Kamu pinjam dulu temanmu. Katamu mereka sedang pesta. Pasti banyaklah uangnya," jawab Dario.


"Honey, please urus segera. Aku tidak bisa membayar makan siangku," katanya tak sabar.


"Aku sibuk. Minta bayar saja sama pacarmu itu," jawab Dario dengan ketus lalu kembali mematikan ponselnya.


Ia tertawa penuh kemenangan dalam hati. Ia ingin membuat Celia jera. Ia sengaja mematikan teleponnya untuk membuat Celia panik dan putus asa.


***


Celia menatap jam mahalnya itu. Terpaksa ia menjualnya. Ia tak punya uang tunai atau yang lainnya. Ludwig juga tak mau mengeluarkan uangnya.


Ludwig dan Celia kembali ke hotel. Celia tampak agak pucat dan lemas. Habis ia dibuat malu di restoran berbintang itu.


Ludwig tidur di sampingnya dengan santai sambil memainkan ponselnya. Sementara itu Celia duduk dengan tegang.


Celia ingat kata-kata tajam Dario, "Minta bayar saja sama pacarmu itu."


Ah, apakah Dario tahu tentang perselingkuhan ini? Celia merasa tak tenang. Apa ia kurang rapi? Apa ia kurang berhati-hati? Semua sopir dan pengawalnya telah disogok banyak uang tutup mulut. Apalah salah satu dari mereka membocorkannya? Celia berpikir keras.


Celia lalu tersenyum tipis. Ah, ia punya ide. Ia harus lebih cerdas dari Dario. Ia membuat skenario baru jika ia tertangkap basah berselingkuh.


Celia mengambil ponselnya dan menelpon sesorang.


"Hai Jennie..." sapanya dengan ramah.