
"Julie, ini akan panjang. Dan ini cerita yang saya simpan sendiri selama ini. Ini rahasia saya," kata Dario.
"Saya bisa menjaga rahasia. Saya janji," katanya dengan yakin. Ia tatap mata Dario dengan serius.
"Kamu ingat kan kalau pernah bilang keluarga Celia itu berbahaya? Frans Adams mungkin sekarang sudah mendapat karmanya. Dia stroke berat lima tahun terakhir ini. Hanya terpuruk di ranjangnya dan kemana-mana dengan kursi roda dan pelayannya." Dario kini melihat Julie. Meraba apakah gadis itu siap mendengar ceritanya. Ia takut ceritanya hanya akan membuat Julie tambah ketakutan.
"Frans Adams sahabat papa saya, Omar Axton. Kamu pasti tahu perusahaan Frans Adams. Namanya Tunels. Publik sudah tahu kan kebusukannya? Ya kita semua sudah muak. Untung saja perusahaan itu hancur. Mama saya seakan tutup mata dengan kebusukan itu. Ia tetap menikahkan saya dengan Celia. Perjodohan ini untuk membalas utang budi,"kata Dario.
"Utang budi apa?" tanya Julie.
"Utang Budi karena Frans pernah menyelamatkan saya saat kecelakaan di kapal. Kami berwisata ke danau untuk memancing. Sebagai anak laki-laki yang dekat dengan Papa, saya memaksa ikut. Dulu saya memanggilnya Paman Frans. Dia menyiapkan kapal. Dia, saya, papa, dan satu pengemudi kapal. Kita pergi ke tengah sementara Mama dan Maria Adams juga Celia kecil menunggu di pinggir sambil mendirikan tenda. Kita sedang berpiknik hari itu. Saya masih 5 atau 6 tahun mungkin waktu itu. Ini fotonya," kata Dario sambil menunjukkan foto di ponselnya.
Julie melihatnya. Dario kecil dan Celia kecil nampak akrab. Gigi depannya tanggal dan rambut Celia nampak ikal seperti boneka.
"Anehnya saya tidak ingat apapun. Katanya saya tenggelam dan diselamatkan. Saya hanya ingat momen saat saya sedang di rumah sakit dan Mama menangisi mayat Papa. Tapi kamu tahu, sewaktu kamu mimpi buruk soal danau itu, saya juga punya mimpi yang sama, Julie." Dario menghembuskan nafas panjang.
Angin makin sedikit masuk ke dalam mobil. Dario menatap Julie kembali, ia masih menyimak.
"Potongan mimpi terus datang. Papa pandai berenang. Entah mengapa ia tenggelam, hal yang aneh, kan? Di dalam mimpi, saya melihat Paman Frans dan Papa berdebat. Entah itu ingatan asli atau apa. Saya rancu karena waktu itu saya masih snagat kecil. Setelah perdebatan itu, mereka sepertinya kembali akur. Paman Frans memberi papa sebotol minuman bersoda. Ia meminumnya lalu ia terjatuh dari kursinya. Ia menggelepar di lantai kapal. Mulutnya berbusa, matanya mendelik ke arah saya. Saya ketakutan dan berpura-pura tertidur di sofa itu. Dalam mimpi saya, seseorang berjalan menghampiri saya dan membekap hidung saya dengan kain. Saya mungkin dibius. Dan ya, saya tidak mengingat apapun. Mama bilang kapal itu miring, tenggelam lalu meledak. Beritanya ada di koran. Saya tenggelam dan Papa juga. Entah bagaimana, mayat Papa dibawa pengemudi kapal itu untuk berenang ke tepi. Paman Frans membawa saya juga berenang ke tepi. Ada yang janggal? Bagaimana menurut kamu," tanya Dario setalah menjelaskan semuanya pada Julie.
"Siapa yang menyiapkan kapal itu?" tanya Julie.
"Tentu saja Paman Frans," jawab Dario.
"Pengemudi kapal itu selamat, kan? Dimana dia sekarang? Kalau mimpi dan ingatanmu benar, pasti pengemudi kapal itu terlibat," kata Julie berpendapat.
"Saya tidak tahu, Julie. Dimana saya bisa menemukan namanya?" Dario bertanya-tanya.
"Kamu bilang berita tentang kecelakaan itu ada di koran. Mungkin namanya ada. Apakah ada di Google?" Julie meraih ponselnya.
"Sebutkan tahun dan nama kapalnya kalau ingat. Mungkin danau atau tempat kapal itu tenggelam," kata Julie yag sudah siap dengan mesin pencari di ponselnya itu.
Dario menyebutkannya. Julie mengetikkan dan hasil pencarian itu muncul. Ia menunjukannya pada Dario. Dario meraih ponsel Julie. Ia membaca-baca berita itu. Bahkan foto mendiang Papanya ada, fotonya juga ada.
Dario tampak serius. Mengapa kemarin ia tak berpikir untuk mencarinya di sini. Saran dari Julie mencerahkan pikirannya.
"Simon Rogers. Dimana kita bisa mencari alamatnya?" tanya Dario.
"Tidak bisa. Kasus telah ditutup karena masa berlakunya hanya 15 tahun. Sekarang sudah 20 tahun lebih. Hampir 25 tahun bahkan. Sudah kadaluarsa 10 tahun. Tidak bisa, Julie. Sudah kebijakan dari hukum negara ini," kata Dario putus asa.
"Menurutmu, Papamu tewas karena diracun Frans Adams?" tanya Julie hati-hati.
"Sejujurnya, apakah itu mimpi atau ingatan, saya tidak tahu. Lagipula itu tidak bisa dijadikan bukti. Tapi track record Frans Adams kamu tahu sendiri. Hal kotor apapun bisa dilakukannya. Ya, firasat saya sangat kuat." Dario berkata lemah. Seperti tak ada harapan untuk ini.
"Apa tidak ada petunjuk lain. Mereka berdebat mungkin karena masalah bisnis atau semacamnya. Kamu tidak mendengar apapun?" tanya Julie.
"Tidak Julie," jawab Dario.
"Dokumen milik Papamu, buku agenda, tau petunjuk apapun?"
"Mama menyingkirkan semua barang-barangnya di gudang rumah lama kami di Valex. Sekarang jadi villa yang kami kunjungi beberapa kali dalam setahun. Papa dimakamkan di dekat tempat itu. Rumah itu dijaga oleh mantan pelayan Mama dan suaminya yang tua. Mereka mengurus kebun di situ," jawab Dario.
"Kamu pernah membongkar atau mencari tahu?" tanya Julie.
"Belum," jawab Dario. Kini sorot matanya kembali hidup. Ya, dia belum pernah mencari tahu sampai sejauh itu. Saran Julie ada benarnya juga.
Julie menyimpan kembali ponselnya. Ia melihat padang rumput di depannya. Kuda-kuda itu berlarian dengan lincah. Surai-surainya berbinar ditempa sinar matahari musim semi.
"Julie, sebenarnya saya meminta Shan untuk menyewa detektif. Saya berancana menemuinya kalau dia bersedia.Tentu saya sangat berhati-hati. Tidak bisa dipungkiri ini kasus rahasia. Ada nama Axton Group yang dipertaruhkan kalau sampai masalah ini keluar. Termasuk kamu Julie, saya percaya kamu bisa menyimpan rahasia saya. 25 tahun saya didera mimpi buruk ini. Entah mimpi, entah ingatan. Tentu saja mimpi tidak bisa dijadikan bukti. Tapi firasat saya kuat. Frans Adams terlibat dalam hal ini," kata Dario lagi.
Julie diam saja. Tapi ia cukup mengerti.
"Lalu soal surat perceraian yang kosong itu?" tanya Julie.
"Ya, Robert sedang mengurusnya. Celia menolak dihubungi. Entah apa maunya. Maafkan saya, Julie." Dario memandangnya dengan putus asa.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Saya tidak peduli kamu bercerai atau tidak. Saya hanya ingin fokus pada anak saya dan saya tidak mau diusik," kata Julie sambil mengelus perutnya.
Dario menatapnya lalu menunduk. Ia mengalihkan pandangannya pada padang rumput itu.
Sakit. Ternyata sesakit ini mengharapkan orang yang ia cintai membalas cintanya. Walaupun sudah menjadi istrinya, namun hati Julie masih belum tersentuh olehnya. Sedikitpun tidak.