
Nyonya Sanio berhenti di ruangan berkaca itu. Bayi-bayi di dalam kotak-kotak nyaman berderet dengan papan nama.
Ah, dia tak pernah merasakan punya bayi sendiri. Bayinya bahkan tak sempat ditimangnya. Bayi perempuan itu lahir dalam keadaan meninggal.
Dario kecil yang ditimangnya itu juga bukan anak kandungnya.
Dilihatnya sepasang bayi kembar di balik kaca itu. Dua-duanya perempuan. Tampak manis dan menggemaskan.
Ia membaca papan namanya. Bayi Nyonya Sanders.
Sungguh aneh, biasanya akan diberi atas nama ayahnya. Mengapa ibunya? Apa bayi kembar ini tak punya ayah? Ia membatin.
Ah, tapi Sanders? Nama Sanders seperti tak asing di telinganya. Ia berusaha berpikir.
Saat ia sedang berpikir, suara keletak sepatu yang beradu dengan lantai itu terdengar cepat. Langkah-langkah tergesa berjalan menuju tempatnya berdiri.
"Nyonya, apa yang kau lakukan di sini?" tanya dokter Anna dengan nafas terengah yang berusaha ia tutup-tutupi.
Ia pasti panik. Jelas panik. Suster memberitahu kedatangan Nyonya Besar itu.
Nyonya Sanio mengalihkan perhatiannya dari sang bayi. Ia menatap dokter Anna.
"Oh, aku hanya ingin melihat-lihat."
"Tapi area ini terlarang untuk orang asing. Ini area untuk pasien, keluarganya dan juga perawat dan dokter yang bertugas." Dokter Anna menjelaskan, seolah berusaha mengusirnya dengan halus.
"Ah, begitu. Tapi aku punya saham di sini. Uangku punya andil untuk mendirikan bangunan-bangunan ini. Aku hanya lewat saja," jawab Nyonya Sanio dengan nada yang menyebalkan.
Dokter Anna terdiam. Mereka saling pandang dengan hening.
Shan dan Dario menguping di balik dinding penyekat ruangan.
"Baiklah aku akan pergi. Tapi aku butuh jawaban jujur darimu. Aku menginginkan nama pasien yang kau tangani. Wanita yang bersama Dario waktu itu. Yang hasil foto janin di kandungannya tertinggal di saku jas Dario yang waktu itu kutunjukkan padamu. Aku ingin tahu siapa namanya."
Dario melirik ke arah luar dengan jantung berdebar. Ia hanya bisa melihat bayangan kaki dokter Anna saja. Tapi suara percakapan mereka terdengar jelas.
"Aku tidak tahu Nyonya."
"Tidak mungkin. Apa sistem di rumah sakit ini seburuk itu? Itu kan data pasien? Itu hal paling mendasar. Hanya sebuah nama." Nyonya Sanio mendesaknya.
Dokter Anna memutar otaknya untuk mencari alasan. Nyonya ini menganggu pikirannya. Jangan sampai ia mengancam akan melaporkan suaminya lagi dengan kasus suap. Habislah ia.
"Ya tentu saja itu diwajibkan sebagai syarat menjadi pasien di sini. Tapi tidak dengan Dario dan Anda. Juga untuk Profesor Kim dan keluarganya sebagai pemilik dan pendiri rumah sakit ini. Kalian semua orang penting dan pasien istimewa. Nama kalian tak akan tercatat di sistem untuk melindungi penyadapan tentang kondisi medis kalian semua yang dikhawatirkan akan bocor."
Penjelasan yang masuk akal. Dan memang benar begitu adanya. Hanya saja dokter Anna menambah-nambahkan fakta yang tak ada.
"Lalu bagaimana data-data riwayat kesehatan kita? Tetap tercatat di tempat khusus, kan?" Nyonya Sanio masih mendesaknya tanpa ampun.
"Ya, ada. Dokter pribadi yang menyimpan. Kami telah disumpah jabatan. Data itu tak akan bisa kami bocoran kecuali untuk penyidik dari kepolisian kalau yang bersangkutan terlibat kasus hukum."
Nyinya Sanio menghela nafas panjang.
"Pasien yang dibawa Dario itu hanya sekali ke sini. Ia tak mau dicatat karena ia mungkin punya dokter di tempat lain. Aku tidak ingat wajahnya, namanya, bahkan juga hasil pemeriksaannya. Aku bukan robot pengingat. Pasienku banyak."
Dokter Anna mengakhiri obrolan itu dengan nada tegas dan profesional. Walaupun sesungguhnya dadanya berdebar juga.
Nyonya Sanio terdiam. Ya, kalau memang benar begitu hanya Dario yang bisa ia tanyai.
"Saya pikir kita tak ada urusan lagi, Nyonya. Saya ada operasi satu jam lagi. Selamat tinggal," kata dokter Anna membalikkan badan dan pergi begitu saja.
Ia menghela nafas putus asa. Ditolehnya lagi ke dalam ruangan berkaca itu.
Matanya terus melihat bayi kembar Nyonya Sanders itu. Ia seperti terhipnotis. Sungguh mungil tangan dan telapak kakinya. Ingin rasanya ia menyentuhnya.
Ia lalu pergi diikuti George. Pengawal itu memperlakukan Nyonya Besar itu bagaikan seorang ratu.
***
Shan keluar pertama kali dari tempat persembunyian itu sambil mengawasi keadaan.
Ia memberikan kode aman kepada Dario setelah George dan sang nyonya besar menjauh pergi.
Dario keluar dengan nafas lega. Diakuinya dokter Anna cakap sekali membuat alasan. Ia dan Julie masih aman sekarang.
Dilangkahkannya kakinya menuju ruangan berkaca itu. Ia lakukan tujuan awalnya ke sana. Yaitu untuk memotret bayi dan memperlihatkannya pada Julie.
***
Sementara itu Nyonya Sanio kembali ke mobilnya dengan gusar. Ia meminta sopir mengantarnya pulang ke rumah megahnya yang berada di Suresh itu.
Dan di tempat lain, Celia Adams sedang mengamuk di ruang interogasi. Di depannya ada Ludwig Cello yang duduk dengan santainya.
Dialah orang gila yang sengaja menyebarkan foto panas mereka.
Apa yang ada di pikiran Ludwig bodoh itu. Dipikirnya namanya akan melambung naik lagi dengan skandal. Tak taunya ia berurusan dengan kuasa hukum Dario.
"Menyebarkan foto tidak senonoh dan menimbulkan keonaran itu bisa membuat anda terjerat kasus hukum." Begitulah kata penyidik kepolisian.
"Tapi bukan saya, Pak," kata Celia menangis.
"Ya, tapi anda terlibat. Ada saya jadikan sebagai saksi. Tuan Ludwig akan menerima sanksinya."
Celia mengacau. Ia ingin memukuli Ludwig yang menjengkelkan itu tapi ia malah terdorong oleh perlawanan Ludwig. Polisi terlambat melerai mereka karena tak mengira akan sekacau ini proses pemeriksaan ini.
Kepala Celia terbentur meja. Ia berdarah dan pingsan. Darah mengucur deras, semua panik.
Ia dilarikan ke rumah sakit dengan Nyonya Maria berteriak-teriak ketakutan. Celia yang pingsan makin memucat dan tak mau bangun.
Sirine ambulance mengiung dengan bunyi yang memekakkan telinga.
Dario hendak kembali lagi ke kantornya setelah berpamitan dengan Julie.
Saat melewati koridor rumah sakit itu dilihatnya dari pintu depan Nyonya Maria nampak menangis histeris sambil memanggil-manggil nama Celia. Entah apa yang terjadi tapi ia ditahan suster.
Sial! Dario mengumpat dalam hati.
Dari sekian banyak rumah sakit, mengapa Celia dilarikan ke sini?
Dario melihat mantan mertuanya yang histeris itu lalu berlalu pergi mencari jalan lain. Ia tak mau berurusan lagi dengan mereka. Ia juga tak mau tahu apa yang menimpa mantan istrinya itu. Tidak penting.
Ditelponnya Shan agar ia berjaga dan meminta tambahan orang untuk mengawal Julie.
Ia jadi tak bebas lagi keluar masuk rumah sakit itu karena ada orang yang dikenalnya.
Dario menyetir mobilnya dengan wajah kesal.