Mama'S Twin

Mama'S Twin
Menginterogasi



...Selamat Senin jangan lupa VOTE 💯💕👍🔥🎁...


......................


Dario berlari memasuki lorong menuju unit apartemen miliknya itu sambil terenggah-enggah. Ia berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang.


Ia mengatap kartu agar lebih cepat. Ia lalu membuat kasur yang rapi itu jadi berantakan dengan menarik-narik selimutnya. Ia juga menjatuhkan beberapa barang dengan serampangan agar nampak seperti tempat yang dihuni.


Dario masuk kamar mandi dengan cepat lalu ia mandi lagi sambil membasahi rambutnya.


Ia lupa menyalakan pemanas air. Ia merasa agak dingin lalu ia memakai handuknya.


Begitu ia keluar dari kamar mandi, Nyonya Sanio sedang berdiri mematung sambil memandangi apartemen ini dengan berdecak keheranan.


"Setidaknya suruhlah orang menginap untuk mengurusmu. Kamar ini seperti kamp pengungsian saja," komentar Nyonya Sanio yang hari ini mengaenakan setelah warna hitam dan mantel bulunya  yang mahal.


Dario yang sedang mengenakan handuk kimononya tampak mengeringkan rambutnya sambil membuka lemarinya.


"Aku tidak nyaman kalau ada orang lain di dekatku. Aku akan lebih rapi lagi dan menyuruh orang untuk bersih-bersih selagi aku kerja. Jangan mengkhawatirkanku. Aku bukan anak kecil lagi, Ma," kata Dario dengan nada tak nyaman yang ditekannya.


Nyonya Sanio melempar tasnya lalu duduk di sofa depan seperti sedang di rumahnya sendiri.


"Aku hanya mengkhawatirkan anakku. Apa itu salah?" Nyonya Sanio mulai mendebat.


"Ma, aku bahkan sudah tua. Mana ada anak laki-laki yang tinggal dengan ibunya. Sudahlah, aku ingin mengatur hidupku sendiri mulai sekarang." Dario berkata ketus.


"Aku hanya menjalankan peranku sebagai ibu. Ingat baik-baik apa kata Papamu. Kamu harus mnejagaku dan menuruti ucapan, Nak." Nyonya Sanio melihat ke arah putranya.


Dario diam saja dan sibuk memasang kancing kemejanya. Ia membuang muka dari pandangan ibunya itu.


Ya, senjata Nyonya Sanio memang pesan dari Omar Axton yang terus diulang dan diulang lagi. Tentu saja Dario ingat. Papanya selalu berkata agar ia menjaga dan menuruti apapun kata mamanya.


Hal yang tak Dario tahu adalah Nyonya Sanio bukanlah ibu kandungnya. Rahasia ini masih terpendam begitu rapat.


Omar Axton yang merasa bersalah karena telah berselingkuh dan meninggalkan anak tentu memuja istrinya karena perempuan itu mau memaafkannya, menerimanya kemabli dan juga merawat Dario. Bahkan ia menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


"Hei, mengapa sesiang ini kau baru mandi? Biasanya kamu ke kantor pagi-pagi sekali." Nyonya Sanio terheran.


Dario menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasang dasi itu. Sial! Ia belum menemukan alasan.


Dario menghela nafas panjang. Ini di luar rencananya. Ia tak tahu ibunya akan bertanya pertanyaan semacam itu.


"Mama, aku baru selesai berolahraga di gym di lantai bawah apartemen ini. Jadi aku mandi lalu baru bersiap akan ke kantor. Tapi mama malah ke sini," kata Dario menyahut.


Nyonya Sanio diam saja. Ia melirik ke arah sekelilingnya. Tak ada tanda-tanda barang perempuan atau apapun. Ia masih penasaran dnegan wanita yang dibawa Dario ke Valex yang diduga sedang hamil itu.


Kalau benar wanita itu simpanan Dario, berarti dokter Anna bilang bayi itu akan lahir di bulan ini.


"Baiklah, mama akan pergi." Nyonya Sanio mengambil tasnya dan melenggang pergi.


Dario menghembuskan nafas lega.


***


Nyonya Sanio duduk berhadapan dengan Max di sebuah cafe di bawah gedung apartemen ini.


Max adalah petugas kebersihan yang disuapnya untuk memata-matai Dario.


Shan yang baru saja menemuinya untuk memberinya uang tutup mulut itu tampak mengintai dan mengawasi.


"Jadi apa yang kau lihat beberapa hari terakhir ini, Max?"


"Mmm-soal itu. Aku tidak menemukan hal janggal apapun, Nyonya," lapornya dengan gugup.


"Ceritakan apa yang kau lihat?" Nyonya Sanio terus mendesak.


"Ya, dia pulang dan berangkat ke kantor dengan baju rapi. Kadang dia memakai setelan olah raga untuk pergi ke gym di lantai bawah. Kadang juga ada tamu." Max berkata.


"Tamu? Tamu siapa?" tanya Nyonya Sanio dengan nada makin tajam dan penuh rasa penasaran. Ia condongkan duduknya agak ke depan.


"Ya, pria berbadan tinggi dan bersetelan hitam. Entahlah. Orang yang sama itu selalu datang. Saya sampai takut berpapasan dengan dia, " kata Max.


Nyonya Sanio merasa kecewa. Dipikirnya tamu yang datang adalah perempuan yang dicarinya. Ternyata laki-laki dan ia yakin bahwa itu cuma Shan.


"Baiklah, cukup sampai di sini. Aku tak akan membayarmu lagi. Tapi kalau ada hal janggal atau seorang tamu perempuan atau siapapun itu, kamu bisa melapor secepatnya padaku lewat asistenku. Aku akan memberimu bayaran banyak kalau kau berhasil melapor cepat. Aku ingin memergoki dia membawa tamu perempuan masuk. Mengerti?" Nyonya Sanio bersiap pergi.


Max mengerti. Ia bernafas lega saat Nyonya itu pergi.


Shan tentu saja bergegas pergi sebelum Sang Nyonya pergi. Ia berjalan secepat kilat seperti hantu.


Masalah apartemen aman. Dario dan Julie bisa hidup dengan tenang karena Sang Nyonya tak menaruh kecurigaan apapun.


***


Dario mendapatkan laporan dari Shan kalau keadaan sudah aman. Ia bersiap turun dan hendak memnuhi janji temu dengan William Topper.


Shan menyetirinya. Mereka menuju sebuah cafe biasa di pinggiran kota yang tak mencolok perhatian.


Sat Dario turun dari mobil, ia pastikan semua aman dan terkendali.


Dilihatnya William tersenyum ke arahnya lalu berdiri dan menjabat tangannya.


Shan yang menentukan tempat pertemuan ini. Cafe ini bahkan diberi tanda "Closed" sementara mereka berbincang.


Sang pemilik dan chef tampak tak berada di tempat. Pelayan hanya tersisa satu untuk mengantarkan minuman yang mereka pesan.


"Apa kabar, Pak? Anda terlihat lebih sehat daripada waktu itu," kata William berbasa-basi.


Tentu saja. Saat pertemuan mereka di bank itu, Dario sedang gelisah karena mencari Julie yang kabur dan menghilang.


Sekarang wajahnya lebih segar. Julie sudah melahirkan, anaknya sehat dan selamat lalau ia keluar dari rumah ibunya yang mengerikan itu. Ya, itulah alasannya terlihat lebih bahagia akhir-akhir ini.


Dario menanggapi pujian itu dengan senyuman saja. Ia tak ingin banyak basa-basi.


"Baik, Will. Jadi soal kunci itu, sebenarnya aku sudah tahu." Dario pura-pura memencet handphonenya lalu meletakkan benda itu di meja seolah-olah sedang serius. Padahal ia memencet tombol perekam untuk merekam percakapan itu.


"Maksud anda sudah tahu?" William terlihat bingung. Ia bahkan belum bicara apapun.


"Ya, aku tahu kalau ayahmu yang bernama Travis Topper itu dibayar oleh seseorang yang bernama Frans Adams untuk menghubungiku dan meminta tolong untuk dibukakan akses ke brankas bank." Dario berkata dengan tegas dan satu tarikan nafas.


William terlihat panik. Ia yang tadinya jumawa jadi menciut.


"Aku tahu segalanya, Will. Ingat! Aku bukan orang sembarangan. Aku punya banyak koneksi dan lainnya bahkan untuk melapor atasanmu dan memecatmu kalau kau macam-macam. Aku kenal petinggi Dante Bank." Dario kini menunjukkan posisinya.


Ia berbohong sebenarnya. Ia tak kenal bank asing ini tapi ia hanya sok-sokan saja. Tujuannya untuk membuat Will tak berani macam-macam padanya.


"Aku terkejut sekelas Dante Bank punya pegawai yang culas. Tapi tak apa, selagi aku bisa mamanfaatkanmu. Jadi apa yang Frans inginkan, hah?" Dario bertanya dengan menatap langsung mata lelaki yang kini gugup setengah mati itu.


"A-aku, aku belum tahu tapi sepertinya dia ingin membukanya karena ia punya kuncinya," kata William Topper.


Dario mengangguk. Ia menyodorkan selembar kertas padanya.


Will membacanya dengan tangan gemetar.


Bersambung...