Mama'S Twin

Mama'S Twin
Diagnosa Dokter




Dokter Anna menujukkan hasil pemeriksaan itu.


"Ya, benar bayi itu cocok DNA nya dengan Dario. Berarti memang anak kandungnya," kata dokter Anna.


Dario tersenyum senang. Matanya berbinar. Semantara itu Julie hanya biasa saja mendengarnya.


"Ada satu hal lagi," kata dokter Anna.


Dario mengerutkan keningnya. Apa itu? Kini Julie tampak memasang wajah serius.


"Selamat, bayinya kembar. Untuk jenis kelamin, akan lebih akurat lagi saat usia kandungan sudah lebih besar. Ya, tapi saya menduga mereka perempuan," katanya menjelaskan.


Dario menatapnya tak percaya. Foto ultrasonografi berupa gumpalan tak berbentuk itu dipandanginya seperti orang jatuh cinta. Di sudut matanya, melelah air mata. Dario menyimpannya.


Julie duduk dengan tenang. Apalagi ini? Kembar?


"Nona Julie harus lebih berhati-hati lagi dan menjaga diri. Ada dua bayi di rahim anda sekarang. Mereka menggantungkan hidupnya pada anda. Jangan ragu untuk konsultasi langsung dengan saya. Akan saya berikan kontak pribadi saya," katanya menenangkan.


Julie berjalan keluar rumah sakit dengan gontai. Dario makin memperlakukannya seperti ratu. Ia diam saja saat Dario membukakan pintu mobil untuknya. Ia duduk di kursi mobil dengan pikiran melayang-layang. Benarkah ini? Ia akan punya bayi kembar?


Dario tak berhenti menyunggingkan senyumnya. Ia menyetir dengan hati yang membuncah. Kebahagiaannya berlipat. Ia akan punya anak. Ah, akhirnya. Ia lelaki sejati, ia tidak mandul seperti yang Celia tuduhkan padanya.


Julie melamun. Ia menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Tapi ia masih mengingat jelas arah jalan menuju Rumah Asuh.


"Ini bukan ke arah Rumah Asuh?" Katanya bertanya. Duduknya kini tegak. Dipandangnya  Dario dengan wajah penuh tanya.


"Ya, sekarang kamu tidak bisa tinggal di situ lagi. Saya sudah bilang sama Athena. Barang-barang kamu dipindahkan tadi pagi saat kita berangkat. Tak perlu khawatir. Saya akan mengurusnya," kata Dario menjelaskan.


"Saya mau turun," kata Julie tegas.


"Julie, apa maksudmu?" Dario terdengar panik.


Julie melepas set beltnya. Dario makin panik. Ia menepikan mobilnya. Mobil berhenti di tepi jalan. Di sampingnya ada danau dengan air hijau mengkilat. Indah sekali. Diatas mobil ada pohon tabebuya besar yang sedang berbunga lebat berwarna merah jambu. Kota Suresh sedang memasuki musim semi.


Dario mengunci mobilnya dari kabin kemudi. Julie tak bisa keluar. Ia mendengus kesal.


"Julie, maaf. Tapi, kalau saya tak memaksa kamu tak akan mau," katanya membujuk.


"Turunkan saya, biar saya pulang ke tempat Athena. Saya tidak sudi datang ke rumah kamu," kata Julie.


Julie pernah beberapa kali berkunjung ke rumah megah itu untuk urusan pekerjaan. Pernah Dario sakit dan ia harus meminta tanda-tangannya ke rumah. Celia menatapnya seperti harimau kelaparan. Ia seperti ingin menerkamnya. Celia terkenal pencemburu. Apalagi kepada staf atau karyawan kantor yang cantik. Ia akan makin beringas mencari gara-gara dan membuat mereka tak betah di kantor.


"Bukan. Bukan ke rumah saya. Saya siapkan apartemen khusus yang saya rahasiakan dari mama dan istri saya," kata Dario.


Julie menatapnya dengan tatapan yang dingin.


"Julie, please. Apa saya harus menandatangani surat perjanjian agar kamu percaya. Saya bersumpah tak akan memberitahu mereka soal kehamilan kamu kecuali atas persetujuan kamu," kata Dario putus asa.


"Ya. Harus. Bikin suratnya dan tandatangani," kata Julie ketus.


"Oke. Apa yang membuat kamu takut dengan mama dan istri saya? Kamu tahu kan saya akan membela dan melindungi kamu," kata Dario meyakinkannya.


Julie berpaling sambil tertawa sinis. Ia melihat angsa-angsa yang berenang di danau dan burung-burung yang beterbangan keatas pohon.


"Bapak tahu kan, saya siapa? Saya lemah dan tak ada yang bisa menolong saya kalau mereka menyakiti saya atau anak saya. Mereka kuat. Saya tidak buta. Selama bekerja di Axton, tentu saja sudah melihat sepak terjang kelakuan istri Bapak. Saya merasa lebih aman kalau pergi menjauh dan menghilang," kata Julie. Matanya berapi-api.


"Julie, saya bersumpah atas nyawa saya sendiri. Saya akan melindungi anak kita," Dario meyakinkan.


"Anak saya. Bukan anak kita," kata Julie dengan wajah datarnya.


"Julie. Tinggalah di tempat yang saya siapkan. Kamu bisa pergi kemanapun kamu mau. Ada sopir dan mobil khusus. Saya janji Celia atau Mama saya tak akan bisa melacak keberadaan kamu. Ada pelayan dan penjaga. Kamu tinggal fokus pada kehamilan kamu. Anna bilang bayi kembar harus butuh ekstra kehati-hatian. Apalagi kamu masih muda. Tolong saya. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu," kata Dario memohon dengan setengah putus asa.


Julie memandangi bunga tabebuya yang berguguran, jatuh di atas kaca mobil. Bunga tabebuya merah jambu, mirip dengan bunga sakura.


"Saya bisa tetap mengunjungi Rumah Asuh dan membawa Anthena ke tempat itu?" Tanyanya mulai luluh.


Dario mengangguk. Tentu saja boleh. Mobil itu melaju lagi. Gedung apartemen yang tinggi menjulang itu berseberangan dengan kantor Axton. Mobil berhenti di sebuah basement. Mereka naik menuju lantai atas.


Gedung Phoenix lantai 7. Ada lift khusus menuju ke lantai itu. Sebelumnya lantai itu dihuni orang seorang CEO perusahaan rekanannya. Dario membelinya diam-diam. Mereka bersahabat baik. Semua rahasia akan aman. Semua penjaga dan staff ia pilih baru untuk menjaga kerahasiaan.


Ada penjaga berbadan tegap yang menyambut di depan lift. Orang asing yang menyasar tentu saja akan segera diusir. Dario mempersilahkan Julie masuk. Ia membimbingnya, merangkul pundak nya sedikit. Julie tentu saja menepisnya. Ia merasa tak nyaman.


Sangat mewah. Smeua furniture diatur dengan elegan. Ada kolam renang juga. Kursi santai manis yang menghadap kaca lebar. Dari sana bisa melihat penjuru kota Suresh dari atas. Julie terpana diam-diam. Ya, cantik sekali pemandangan ini.


Semua staf berdiri berjajar. Dario memperkenalkan mereka.


"Ini Pak Roy, penjaga utama dan dua orang ini anak buahnya yang akan bergantian menjaga. Dia tinggal di sini tentu saja. Dia mantan pengawal presiden. Jangan khawatir. Tempat ini akan aman di bawah pengawasannya," katanya menjelaskan. Pak Roy mengangguk hormat. Perawakannya tinggi dan besar.


"Ini Nyonya Emily. Dia senior dan banyak pengalaman. Dia bisa membantu kamu banyak hal. Termasuk soal kehamilan dan mengurus bayi. Dia dulunya perawat. 5 orang lagi di bawah pengawasannya. Semua sudah punya tugas masing-masing. Bersih-bersih, menyiapkan makanan dan lainnya. Kamu tinggal bilang semua keperluan kamu," kata Dario pada Julie.


"Dan mereka sudah menandatangani perjanjian. Kamu akan aman di sini. Semua bisa menjaga rahasia. Soal kehamilan kamu, dokter Anna akan mengawasi khusus," katanya menjelaskan panjang lebar.


Julie hanya menyimak sambil menatap kosong ke depan. Setelah semua staf pergi, Julie berjalan menuju kamar utama. Ia melihat sekeliling. Mewah, teramat mewah. Ia duduk di tepi ranjangnya yang besar dan empuk.


Dario mengikutinya. Ingin rasanya ia membicarakan soal mendaftarkan pernikahan. Tapi ia tak Ingin merusak suasana hati Julie. Ia bersabar.


Ponsel Dario berbunyi. Ia mengangkatnya segera dan menyingkir dari kamar itu.


"Hallo, Darwin," katanya sambil berjalan menjauh.


"Ya, Pak. Saya ingin melapor. Ada transaksi besar ke rekening baru. Nyonya Celia yang melakukan transaksi," jelas Darwin. Ia adalah staff khusus yang mengurus keuangan keluarga.


"Mungkin Celia transfer ke rekening baru Mamanya?" katanya menduga-duga.


"Bukan, Pak. Sudah terlacak. Atas nama Ludwig Cello. Alamatnya di luar kota Suresh," kata Darwin menjelaskan lagi.


Ia duduk di sofa mewah apartemen itu. Siapa Ludwig? Sepupu Celia? Ia sering sekali menghabiskan dana yang cukup besar untuk keluarganya berhura-hura.


"Baik. Setujui transaksinya," jawab Dario cepat.


Celia hanya bisa menghabiskan uang saja. Ia tak tahu bahwa semua transaksi diawasi. Dario tahu berapa juta dollar yang habis dalam satu bulan hanya untuk tas-tas mahal dan perkumpulan sosialitanya. Ia tak bisa melarang. Nyonya Sanio akan selalu membela menantunya dibandingkan anaknya sendiri.


Dario duduk termenung. Mungkin Ludwig itu designer khusus atau siapalah. Celia juga sering memesan gaun-gaun mahal.


Tapi perasaanya agak lain kali ini. Ia memutuskan untuk menghubungi Shan, orang kepercayaannya.


"Hallo, Shan," katanya begitu panggilannya tersambung.


"Ikuti Celia dan awasi apa yang dilakukannya seharian ini. Suruh orangmu yang tak dikenali. Kalau perlu dekati sopir pribadinya yang sekaligus mengawalnya kemana-mana. Tawari uang yang besar kalau mau buka mulut atau melaporkan info khusus," katanya memerintahkan.


Sebelum Dario kembali ke kantornya, ia pamit pergi pada Julie. Julie hanya mengangguk saja. Ia tak berkata sepatah katapun. Masih duduk termenung di tepi ranjangnya. Sikapnya masih dingin pada Dario.


Dario mengendarai mobilnya sendiri. Ia berpikir sepanjang jalan. Celia akhir-akhir ini tak seposesif dulu lagi padanya. Ia juga agak cuek. Ah, apakah mungkin dia...


Dario menggelengkan kepalanya. Ah tak mungkin Celia selingkuh darinya, batinnya dalam hati.


......................


Brti komentar yuk. Apakah aku harus lanjut?