Mama'S Twin

Mama'S Twin
Kabar dari Dokter



Julie terlihat mondar-mandir sambil menunggu teleponnya itu diangkat.


Dario duduk di tepi ranjang dan memandangi Julie dengan gelisah.


"Hallo, Ann," sapa Julie begitu panggilannya itu diangkat.


"Iya, Julls," jawab dokter Anna dari seberang sana.


"Apa kau ada di rumah sakit?" tanya Julie langsung tanpa berbasa-basi.


"Ya, aku tinggal di sini sejak salju turun, karena banyak pasienku. Ada apa, Julls? Apa ada masalah dengan si kembar?" tanya dokter Anna dengan khawatir.


"Ah tidak. Mereka semua baik-baik saja. Aku ingin meminta tolong sesuatu," kata Julie.


"Apa itu?" tanya dokter Anna penasaran.


"Nyonya Sanio sepertinya sedang kritis. Dia jatuh sakit beberapa hari dan tidak sadarkan diri hingga sekarang. Entah apa penyebabnya. Polisi membantu mengevakuasi dia karena terjebak di badai dan tidak bisa datang ke rumah sakit. Pengawalnya bilang, sekarang dia sudah ditangani dokter. Tapi Dario tidak bisa ke sana untuk melihat sendiri. Bisakah kau menjenguknya dan memastikan keadaanya untuk kami?" tanya Julie.


Dokter Anna terdiam sejenak. Julie meminta tolong padanya untuk menengok nyonya Sanio? Apa ini tidak salah? Jelas-jelas Julie dulu sangat menghindari sang nyonya.


"Baiklah," kata dokter Anna. Walaupun sebenarnya ia juga agak ragu. "Nanti akan kukabari lagi Julls. Tenangkan dirimu dan berikan salamku untuk Dario. Aku ada operasi beberapa menit lagi. Bye."


Dokter Anna menutup telepon. Julie lalu duduk di samping Dario.


"Aku sudah bilang kepada dokter Anna. Tenanglah! Tunggu sampai cuacanya membaik dan jalanan tak lumpuh. Nanti kau bisa pergi ke sana menengok sendiri," kata Julie. Dario mengangguk.


Semua orang baik lelaki maupun perempuan punya hak yang sama untuk merasa sedih, merasa kecewa, dan terguncang.


Dario mungkin lama pulih karena ia juga punya trauma masa kecil soal kematian ayahnya. Mengetahui fakta bahwa nyonya Sanio bukan ibu kandungnya ternyata memakan waktu berhari-hari agar ia bisa kembali tenang dan bisa berpikir jernih.


"Julls, menurutmu kenapa Mama merawatku seperti putranya sendiri? Aku anak selingkuhan dari suaminya. Kita tidak ada hubungan darah apapun. Mengapa dia tidak membuangku saja?" tanya Dario seakan menggumam.


Julie mengelus-elus punggung suaminya itu.


"Entahlah, Dario. Aku juga tidak tahu. Tapi di balik semua sikapnya padamu, aku yakin dia menyayangimu. Kau tak patut membencinya. Sebaiknya tanyalah padanya kalau dia sudah sadar atau sudah pulih kesehatannya. Ini pula kesempatanmu untuk melakukan tes DNA diam-diam di rumah sakit sementara dia sedang tidak sadar. Aku berharap cuaca segera membaik dan kau bisa pergi," kata Julie lagi.


Julie memeluk Dario. Ia tahu pria itu terkadang tak butuh kata-kata apapun. Ia hanya butuh sentuhan menenangkan.


***


Sementara hari-hari berjalan lambat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan di apartemen itu selain menunggu saja.


Kehadiran si bayi kembar membuat Dario sedikit teralihkan. Ia selalu memeluk bayinya bergantian dan menimangnya penuh sayang.


Di hari ketiga sepertinya salju sudah mulai berkurang.


Shan menelpon Dario untuk pertama kalinya setelah ia cuti karena istrinya melahirkan.


"Hallo, Shan. Apa kabarmu? Bagaimana istrimu? Maaf aku tidak menelponmu karena takut mengganggumu," kata Dario.


"Syukurlah, Pak. Semuanya lancar. Istri saya sudah siuman dan bayinya juga sudah sehat sekarang. Maafkan saya. Saya tidak bisa membantu banyak. Anda pasti juga sedang banyak masalah," kata Shan.


"Kamu juga sedang banyak masalah. Tenangkan dirimu! Jangan pikirkan aku. Aku tidak apa-apa. Ada Julie di sini. Aku justru mencemaskanmu. Untuk sementara ini, cutilah dulu. Temani istri dan keluargamu. Aku yakin kau juga perlu waktu untuk dirimu sendiri. Aku akan mengurus diriku sendiri dan bertanya padamu jika aku butuh bantuan. Terima kasih telah menghawatirkan aku, Shan. Padahal kau juga sedang sibuk dan banyak pikiran," kata Dario.


Mereka berbincang beberapa patah kata lagi lalu telepon ditutup.


Julie sedang menimbang Bertha sedangkan Brenda tidur di dalam box bayinya.


"James tidak mengabari sejak siang. Sebaiknya kau telepon juga," kata Julie menyarankan.


Dario mengangguk. Ia berjalan agak menjauh ke dekat jendela agar suara berisiknya tidak mengganggu tidur si kembar.


James rupanya tak segera mengangkat telpeonnya. Dario mengerutkan keningnya. Ia begitu cemas. Hanya James yang bisa dia andalkan saat ini karena keadaan membuatnya tak bisa kemana-mana.


"James, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Dario dengan cepat begitu panggilan telepon itu diangkat.


"Ya, Pak. Dokter baru saja menemuiku dan aku merekam semua perkataannya. Akan kukirimkan padamu sebentar lagi. Tadinya aku ingin menyarankan dokter agar menelponmu saja tapi rupanya ia lebih menyarankan untuk merekam pembicaraan itu saja," kata James.


"Baik, cepat kirimkan padaku! Apa kondisi Mama sudah pulih?" tanya Dario lagi.


"Ya, dia tidak bangun. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada perkembangan, namun baiknya kondisinya stabil. Dengarkan sendiri rekaman itu, Pak. Agar anda tahu apa kata dokter," kata James.


Dario mengiyakan. Ia menutup telepon lalu menunggu dengan tidak sabar. Apa kata dokter soal mamanya?


Dario duduk di sofa sambil melihat Julie yang sedang menidurkan bayi.


Ia memutuskan untuk memutar isi percakapan suara itu tanpa menunggu Julie.


Setalah beberapa saat Julie menghampiri Dario dan menemukan suaminya itu telah berlinangan air mata.


"Ada apa, Dario?" Julie menggengam tangan Dario dengan cemas.


Bersambung...