Mama'S Twin

Mama'S Twin
Kejutan-Kejutan



Maaf guys, kemarin nggantung. Tinggalkan jejak ya. Siang dan sore akan upload lagi untuk menemani hari libur kalian.


Jadi mau tayang jam berapa? Komen ya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


William hanya memandangi mesin pemindai kode itu dengan santai.


Dario yang tadinya merasa percaya diri, kini menjadi tak yakin.


Ia masih menunggu. Lima detik !


Yap, mesin itu mengeluarkan bunyi decitan lirih. Sebuah kotak keluar.


"Selamat, kode anda benar. Itu isinya. Silahkan diambil. Ada satu kotak lagi yang tersegel. Tuan Omar Axton sepertinya ingin isi brankasnya lebih aman. Jadi dia memasang kotak lagi dengan kode berlapis," kata William.


Dario merasa lega. Ya, Julie memang cerdas, tak mungkin ia salah. Ia mengambil kotak seukuran koper kecil itu.


"Ada ruangan khusus di sini kalau anda mau. Ada penjaga yang mengamankan. Kalau anda ingin langsung membawanya pergi boleh saja," kata William menawarkan.


Dario memegangi kotak itu. Terasa ringan. Ia menimbang-nimbang.


Ia bisa saja membuka di sini. Tapi ada Shan yang siap mengawalnya untuk sampai ke apartemen dengan aman.


"Ya, saya mau pakai ruangan itu." Dario akhirnya memutuskan.


"Baik, akan saya siapkan dan ada berkas yang harus anda tangani juga untuk bukti kalau asuransi brankas itu telah berakhir hari ini dan pihak kami tak ada sangkut paut lagi dengan mendiang Tuan Omar Axton dan pewarisnya." William kembali menjelaskan.


"Baik, saya setuju," kata Dario dengan mantap.


"Silakan ikuti saya," kata William sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


Ruangan brankas itu berlapis besi dan dijaga ketat. Sepertinya kalau terjadi kebakaran, apipun tak akan sanggup untuk melahap tempat ini.


Dario diantar ke sebuah ruangan tertutup. Hanya ada meja dan kursi. Dinding ruangan itu polos dan tanpa jendela.


"Tidak ada CCTV atau alat pemantau, penyadap atau apapun. Kami akan beri waktu satu jam untuk Anda. Tinggal pencet belnya kalau anda sudah selesai dan petugas kami akan membukanya," kata William lagi.


Dario mengangguk dan masuk. Ia menutup pintu itu lalu meletakkan brankas kecil seukuran koper itu di meja kayu itu.


Ada kode masuk lagi. Papanya benar-benar mempersiapkan ini semua dengan aman dan rahasia.


Dario teringat kode satu lagi. Julie bilang kodenya adalah nama anjing peliharaannya semasa kecil.


Ia memasukkan kode itu. ABBY. 1-2-2-25


"Klik."


Kotak itu terbuka.


***


Julie sedang berbicara pada Athena. Akhir-akhir ini pinggangnya sering sakit dan ia cepat sekali lelah dan berkeringat.


"Aku akan pergi naik taksi ke rumah sakit di Delphi. Aku sudah membuat reservasi untuk cek kandungan." Julie berkata sambil mengemasi tasnya.


Ia berencana akan pergi sendirian karena Bibi Elly sedang tak enak badan.


"Aku akan mengantar dengan mobilku," kata Athena dengan cemas.


"Tidak, Athena. Akan terlalu beresiko. Bagaimana jika orang suruhan Dario mengikuti kita?" tanya Julie.


Athena tak bisa berkata apa-ada. Ya, Julie benar. Saat keluar rumah, masih saja ada gerak-gerik mata-mata yang mengikutinya dari kejauhan.


"Baiklah, tapi jangan lupa kabari aku ya. Hati-hati, kandunganmu makin besar." Nada suara Athena terdengar khawatir.


"Tenang saja. Aku merasa aman. Delphi jauh dari siapapun yang kukenal," kata Julie sebelum menutup telepon itu.


Julie sudah memastikan kalau Celia aman dan tak bisa mengusiknya lagi.


***


Dario membuka koper itu setelah terdengar bunyi klik.


Koper itu berisi berkas-berkas. Dario mempelajarinya satu per-satu dengan cepat dan teliti.


Ada surat perjanjian Axton dan Tunels untuk merger perusahaan, tapi dibatalkan. Berkas tu bertanggal dua puluh tahun yang lalu.


Ada akta tanah berhektar-hektar di Green Valley.


Dan yang paling penting adalah 3 buku kecil itu. Tiga buku tabungan berlogo emas di tiga bank yang berbeda di Swiss. Semuanya uang itu mungkin akan lebih banyak lagi karena bunga dan deposito berjalan.


Dario juga punya satu akun Bank yang ia buat sendiri. Ia mewariskan uang itu pada sebuah yayasan amal jika ia meninggal.


Selama ini bank itu tidak menghubunginya. Apakah rekening bank itu tidak diwariskan padanya? Mungkin nama Mamanya yang dicantumkan.


Ya, itu tidak penting sekarang. Yang terpenting adalah semua isi brankas itu kini aman di tangannya.


Dario bertanya-tanya dalam hati mengapa Frans Adams bisa mengetahui brankas ini. Ya tapi itu tak dipikirkannya sekarang.


Ia harus pulang ke apartemen dan menyimpan kembali brankas kecil itu ditempat yang aman. Ya, apartemen Julie adalah tempat teraman baginya sekarang.


Dario mengunci kembali brankas kecil itu. Sekarang, hanya dia dan Julie yang tahu kodenya.


***


Julie berangkat ke rumah sakit dengan taksi. Ia masih agak takut juga sebenarnya.


Berkali-kali ditengoknya belakang untuk memastikan ia aman dan tak diikuti siapapun.


Julie mengelus perutnya. Seringkali Ia mengajak bicara bayi kembarnya di dalam perut itu. Ia merasa seribu kali sayang, bahkan lebih. Padahal melihatnyapun belum.


Kasih seorang Ibu. Julie berjanji akan melindungi bayi itu dari orang jahat manapun.


Menjadi anak Dario Axton adalah hal yang tak mudah. Mereka akan menjadi incaran banyak pihak. Julie harus pandai dan banyak akal.


Sesampai di rumah sakit, Julie langsung masuk ke ruang praktek dokter Felana. Ia sudah reservasi dari hari kemarin.


Dokter Felana sangat cantik dan muda. Ia memeriksa dengan teliti dan serius.


"Siapa Dokter kandungan anda sebelumnya, Nyonya? Anda pindah ke Delphi belum lama ini?" tanya dokter Felana dengan ramah.


"Ya, begitulah. Saya dulu biasa mengecek kandungan di Rumah Sakit Pusat Kota Suresh." Julie menjawab.


"Ah, baguslah. Delphi dan Suresh tak begitu jauh. Saya sarankan Nyonya untuk ke Suresh saja saat merencanakan kelahiran nanti. Rumah sakit ini mungkin bisa menangani. Tapi di Suresh lebih canggih dan terjamin. Maaf, Nyonya sebelumnya. Kandungan anda spesial. Anda terlalu muda untuk mengandung, apalagi bayi kembar. Untuk memperkecil resiko, saya sarankan yang terbaik untuk bayi anda," kata dokter Felana.


Julie menatap dokter itu dengan wajah murung dan cemas. Kembali ke Suresh?


"Apa ada masalah, Nyonya? Suresh tak terlalu jauh. Tapi untuk mendapatkan jaminan keamanan dalam persalinan, saya sarankan anda ke Suresh." Dokter Felana menjelaskan sekali lagi.


"Ya, apakah tidak ada rumah sakit lain di sekitar sini yang sebaik Suresh?"


"Suresh yang terbaik, Nyonya. Apalagi anda mengidap preeklampsia. Hal itu bisa berdampak serius. Bayi anda harus mendapatkan penanganan terbaik," kata dokter Felana lagi.


Julie mengangguk. Apa ia harus kembali ke Suresh? Kemungkinan untuk bertemu Dario dan yang lainnya lebih besar. Tapi bayinya butuh dokter terbaik.


"Saya beri kartu nama. Bilang atas rekomendasi saya. Dia dokter senior yang menangani pasien VVIP dan khusus. Tapi atas rekomendasi saya, anda bisa menghubunginya. Dia dokter terbaik di Suresh," kata dokter Felana.


Julie menerima kartu nama itu. Dibacanya dengan wajah tercekat.


Nama Dokter yang dimaksud itu adalah...