
Pria berwajah jenaka itu muncul dari balik pintu. Rambutnya botak di depan. Ia terlihat masih muda. Mungkin seusia Dario.
Ia mengulurkan tangan, Dario membalas jabatan tangannya.
"Saya William Topper, manager bank senior untuk mengurus brankas dari nasabah prioritas. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.
"Saya menerima surat wasiat dari mendiang Papa saya. Namanya Omar Axton. Dia punya satu brankas di sini untuk saya buka," kata Dario menjelaskan.
Dario menyerahkan kartu identitasnya untuk diperiksa.
"Anda memegang kuncinya?" tanyanya memastikan.
Kunci? Dario tidak menemukan kunci atau benda apapun di ruang kerja Papanya. Ia sudah menggeledah seluruh ruangan di Valex dan tak menemukan apapun yang berwujud seperti kunci.
"Kunci seperti apa?" Dario tampak tak mengerti.
William Topper melihatnya dengan alis mengernyit.
"Begini, Tuan. Brankas milik Omar Axton sudah diasuransikan ke bank selama 50 tahun dengan perjanjian resmi. Kalau dia meninggal, dia sudah mencatat nama anda dan Nyonya Sanio untuk ahli waris. Kunci itu seharusnya ada. Warnanya emas, ada ukiran Dante Bank di ujungnya. Hanya ada beberapa puluh yang dibuat untuk nasabah khusus, termasuk Omar Axton. Anda yakin tidak punya kunci itu?" William menanyainya sekali lagi.
Dario menggeleng. Kunci macam apa? Apa Mama menyimpannya?
"Di dalam catatan, setahun setalah kematian Papa anda, ada yang datang kemari untuk membuka brankas itu. Dia juga tidak bawa kunci. Tentu saja petugas bank menolaknya. Apalagi dia bukan salah satu nama yang disebut sebagai pewaris." William menjelaskan.
"Siapa orangnya?" tanya Dario penasaran.
"Frans Adams. Mungkin rekan bisnis atau seseorang kerabat? Saya tak tahu. Bukan saya petugas yang bekerja waktu itu," kata William.
Dario makin memicingkan matanya. Ya, dugaanya benar. Semua ini ada sangkut pautnya dengan Frans Adams.
"Jadi saya tidak bisa membuka brankas itu tanpa kunci?" tanya Dario.
"Bisa. Kalau anda punya kodenya. Kode yang hanya pihak bank dan Omar Axton yang tahu."
"Saya punya kodenya," jawab Dario dengan yakin.
Ya, waktu itu Julie membantunya di Valex untuk memecahkan teka-teki kode itu.
"Anda bisa memakai kode itu sekali saja. Kalau salah, anda tak bisa mengulangi dan akan diblacklist pihak bank. Karena dianggap mencuri," kata William menegaskan.
Dario tanpa ragu mengangguk setuju. Ya, dia snagat yakin. Julie tak mungkin salah. Kode itu Julie yang memecahkan.
"Ikuti saya," kata William.
***
Frans Adams bersusah payah mendorong kursi rodanya menuju meja di sisi kamarnya.
Kini ia tak bisa lagi menyuruh-nyuruh pelayan sesukanya. Anak dan istrinya sama sekali tak bisa diandalkan.
Ia berusaha membuka buku agendanya. Ia berusaha mencari kartu nama Travis Topper.
Frans tersenyum senang saat menemukan kartu nama itu. Ya, ini bisa menjadi jalannya.
Kunci brankas itu ia curi diam-diam di ruang kerja Sanio Axton saat ia lengah. Beberapa tahun yang lalu saat ia belum lumpuh, Sanio mengadakan pesta di rumah. Ia datang dan menyelinap untuk menggeledah ruang kerja Nyonya rumah itu.
Frans tersenyum sinis. Ia merasa di atas angin. Ia akan menang sekarang.
***
Dario berdiri di depan kotak besi itu. Ruangan ini dijaga khusus oleh penjaga berbadan besar.
William Topper berjalan ke arahnya.
"Anda yakin sudah siap?" tanyanya memastikan.
Dario mengangguk.
"Ingat perjanjian yang telah anda tandatangani tadi? Kalau anda gagal membuka, anda tidak akan pernah bisa membukanya lagi. Kecuali Nyonya Sanio mungkin, karena namanya juga terdaftar di daftar pewaris. Kalau dalam kurun waktu 50 tahun tak terbuka, sistem otomatis akan menghancurkannya." William menjelaskan dengan nada yang mudah dipahami.
Dario mengangguk yakin.
William langsung membuka slot di depan kotak besi itu. Ada papan untuk memasukkan nomor kode. Ia melihat ke arah Dario dan mengangguk, mempersilahkannya untuk memasukkan kodenya.
Dario mengetikkan kode yang waktu itu diberitahukan Julie.
Nomor punggung pemain rugby favoritnya semasa kecil, dikalikan tujuh, dikurangi dua.
Dario mengetik dengan hati-hati.
Tombol merah di papan itu menyala. Jantungnya berdebar. Ia melihat ke arah William yang nampak santai.
Satu detik.
Dua detik
Tiga detik.
Ia masih menunggu.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Hai guys. jangan marah karena kugantung. Kasih aku semangat yang banyak lewat like dan comment juga rate.
Besok pagi sekali akan terbit menemani minggu kalian. Mungkin akan update 2 atau 3 kalau rame?
Selamat membaca.