Mama'S Twin

Mama'S Twin
Membohongi Nyonya



"Grace," serunya tertahan.


"Maaf, Pak. Saya memanggil nama anda berkali-kali tapi Anda tidak bangun juga." Grace tampak tak enak hati karena telah menyentuh bossnya itu.


Dario lalu melepaskan tangannya dari genggaman Julie dan memberi isyarat pada Grace agar beranjak ke ruangan sebelah.


Kamar rawat VVIP itu teramat luas. Ada kamar lain untuk keluarga pasien dan ruang tamu yang lengkap dengan segala kenyamanannya layaknya hotel berbintang.


Dario duduk di sofa dengan pelan. Grace duduk di sampingnya.


"Ada apa? Kenapa kamu tahu saya ada di sini?" tanya Dario sambil berbisik.


"Pak Shan yang memberi tahu. Dia sedang dibuntuti pengawal. Aku kesini untuk meminta tanda tangan anda karena ini sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi." Grace berkata pelan sambil menyodorkan berkas.


Shan pasti sangat terpaksa melakukannya. Keberadaan Julie hanya segelintir orang saja yang tahu. Grace yang sebelumnya tidak tahu apa-apa kini menjadi tahu.


Dario menandatangai berkas penting yang diminta itu dengan cepat.


"Grace. Kau orangku. Aku tahu kamu bisa tutup mulut soal ini," kata Dario sambil melirik ke arah Julie.


Grace diam saja. Sejujurnya ia terkejut melihat Nona Julie terbaring dengar perutnya yang besar dan semua alat itu tersambung ke tubuhnya.


Grace adalah karyawan junior yang belum lama bekerja. Untuk menjadi bagian dari Axton tentu saja harus lolos seleksi yang ketat.


Grace dilatih oleh Julie sebagai seniornya. Saat Julie menghilang dan tiba-tiba resign, wanita itu merasa kehilangan. Tak disangkanya ia akan bertemu lagi dengan Julie di tempat seperti ini.


Dario menatap sekretarisnya itu dengan tatapan tajam. Grace memucat.


"Nona Julie hamil?" bisik Grace takut-takut.


"Ya, dan dia sakit. Jangan sampai orang lain tahu soal ini. Kamu harus saya sumpah," kata Dario dengan tegas.


"Aku bersumpah," kata Grace menjawab dengan cepat.


"Grace, aku memberimu gaji dan uang bonus yang sangat banyak. Tutup mulutmu sampai kau mati. Simpan saja yang kau tahu dan aku tak akan memberitahukan lebih detailnya. Berjaga jika ada seseorang yang mendesakmu untuk membongkar semuanya, kamu tetap tak tahu banyak," kata Dario.


Grace mengangguk cepat.


"Buat jadwalku kosong beberapa minggu. Kalau ada sesuatu yang penting seperti ini, kamu bisa infokan beberapa hari sebelumnya. Kalau Mamaku bertanya, bilang aku sibuk. Atau bilang saja ada kunjungan ke luar kota atau ke luar negeri palsu. Aku bisa bekerja darimanapun." Dario menambahkan lagi.


Grace mencatat semua perintah itu di padnya. Setelah semua urusan selesai dan ia dipastikan akan bungkam, lalu ia berlalu pergi dengan takut-takut.


Dario kembali ke sisi ranjang Julie. Dilihatnya istrinya itu dengan wajah tak tega.


Dario lalu berusaha menelpon pengawalnya itu di seberang ruangan agar Julie tak merasa terganggu.


Ditunggungnya nada sambung itu berlalu, tapi Shan tak kunjung mengangkatnya. Dario nampak cemas.


***


Di rumah megah itu, tampak wartawan mengepung di area depan. Pengawal sebanyak itu tentu tak bisa membendung keingintahuan para kuli berita itu.


Nyonya Sanio tampak kesal. Ingin rasanya memanggil polisi tapi itu hanya akan membuat meraka makin mengulik lebih dalam lagi.


Keberadaan polisi yang menangkap Celia di ruangan konferensi pers itu saja sudah menunjukkan betapa berkuasanya keluarga konglomerat itu.


Bagaiman jika sampai polisi itu mengamankan wartawan? Maka ia akan dihujat balik. Selama wartawan belum melanggar hukum dan mengganggu privasi, ia mendiamkannya.


Di saat yang bersamaan, Dario menelponnya.


"Dario jangan pulang dulu. Wartawan berkerumun di depan rumah seperti kumbang berebut madu," kata Nyonya Sanio cepat begitu telepon diangkat.


"Ya, aku akan pulang ke apartemen Xavier. Lagipula aku ada kunjungan ke luar kota beberapa hari," jawab Dario.


"Baguslah," sahut Nyonya Sanio. Sejujurnya ia begitu risih pada mereka. Terkadang bersahabat dengan media itu menguntungkannya. Tapi di saat skandal meluas seperti ini, sebaiknya ia menghindar saja.


"Ma, satu hal lagi. Tolong suruh pergi pengawalmu itu. Sangat mencolok. Aku bukan anak kecil lagi. Itu hanya akan membuat orang curiga. Aku saja dan Shan. Sudah cukup. Telepon mereka dan perintahkan agar menyingkir atau aku akan memutar arah dan menabrak mobil mereka," ancam Dario.


Nyinya Sanio menghela nafas pelan.


"Oke," jawabnya menyerah dan ia segera menutup telepon.


Diperintahkannya para pengawal itu untuk menyingkir. Ia memberitahukan kepala pengawal yang saat ini sedang berada di sampingnya.


Nyonya besar itu tampak lelah dan memijat kepalanya dengan gelisah.


Ia tidak bisa keluar bebas lagi sementara ini. Padahal ingin sekali ia melihat pacuan kuda, bermain golf, mengunjungi pameran seni kawannya.


Ah, semua jadi kacau. Pasti wartawan akan mengikutinya.


Ia merasa stress dan butuh hiburan.


Tiba-tiba tercetus ide di kepalanya.


"Brad, siapkan mobil untukku ke Valex diam-diam tengah malam nanti. Pastikan aku tidak diikuti atau semacamnya. Wartawan-wartawan itu pasti sudah pergi tengah malam nanti. Aku ingin mengunjungi rumah lamaku dan mengunjungi makam suamiku," katanya memerintahkan.