
Detik jam berjalan seperti detak jantung yang berdetak.
"Ah, aku senang sekali melihat wanita hamil. Jadi ingat masa mudaku. Aku tahu kehamilanmu dari Dario. Aku menemukan foto ultrasonografi janin di kantong jasnya. Dia bilang itu punyamu. Benarkah?" Nyonya Sanio menembaknya dengan pernyataan itu.
Vanesha tercekat. Shan memang tak pernah bercerita apapun soal pekerjaannya. Ia tak tahu sama sesekali apa maksud semua ini. Tiba-tiba ia merasa takut. Yang ia tahu Nyonya Sanio adalah wanita yang berkuasa dan kejam. Keramahannya hari ini adalah kepura-puraan?
Nyonya Sanio mengamati wajah istri Shan yang memucat.
"Vanesha, kau wanita muda yang cantik. Shannon pasti beruntung memilikimu. Aku menyukai pekerjaannya. Tapi tolong jujurlah padaku. Kamu hanya perlu mengatakan kejujuran itu dan aku tidak akan menyentuhmu." Nyonya Sanio mengubah nada suaranya menjadi dingin dan mengintimidasi.
Vanesha nampak gugup. Tapi ia hanya mengangguk saja. Ia memegangi perut buncitnya dengan cemas.
"Apa Dario pernah mengantarmu ke dokter?"
Vanesha menggeleng. Memang tidak pernah. Tapi pertayaan macam apa ini?
Pertama kali pertemuannya dengan Dario adalah saat lelaki itu hadir di pernikahannya dan yang terakhir adalah kemarin saat ia meminjamkan mobilnya saat Dario hendak kabur ke Valex.
Teka-teki ini memenuhi kepalanya. Ia takut ucapannya salah dan membahayakan pekerjaan suaminya.
Nyonya Sanio mengangguk. Kesimpulan dan fakta kedua : foto USG itu kebohongan. Bukan milik istri Shan.
Berarti siapa yang tahu selain Dario dan gadis itu sendiri? Dokter Anna. Ya, ia tahu target selanjutnya. Entah bagaimana ia akan mengulik perempuan keras kepala itu nanti.
"Tenang saja, Vanesha. Suamimu akan aman jika kau jujur padaku. Apa kau tahu soal Dario dan wanitanya?" tanya Nyonya Sanio.
"Nyonya Celia Adams?" tanya Vanesha. Ia benar-benar tak tahu.
"Bukan. Wanita yang lain. Mungkin dia juga sedang hamil sepertimu? Siapa dia? Kau tahu?"
Vanesha kembali menggeleng. Ia benar-benar tak tahu. Rupanya Shan benar-benar menjaga rahasia. Sampai istrinya pun tak tahu soal Julie.
Nyonya Sanio merasa yakin. Ia lalu mengangguk dan pamit pergi.
Vanesha mengangguk hormat saat mobil hitam itu berlalu pergi. Dadanya berdebar kencang. Mimpi apa ia semalam. Sampai-sampai nyonya menakutkan itu mendatangi rumahnya.
Dipandanginya buah-buahan segar di meja yang tadi tampak menggodanya itu.
Kini ia takut bahkan untuk sekedar melihatnya. Dilemparkannya sekeranjang buah itu ke halaman samping.
***
Di rumah sakit, Athena terpaksa pamit pulang kembali ke Rumah Asuh karena ada pekerjaan penting yang menunggunya. Namun ia berjanji akan datang lagi secepatnya.
Julie mengalami perkembangan yang bagus. Ia sudah bisa duduk dan tabung oksigennya dilepas. Namun dokter masih mengawasinya dengan ketat.
Wajah yang dulu pucat itu nampak lebih segar dan cerah. Handphone Julie dititipkannya lewat perawat. Dario belum boleh masuk.
Mereka hanya bertelepon dengan jendela kaca yang membatasi mereka. Tapi kebahagiaan Itu sudah tak terkira rasanya dirasakan oleh Dario.
"Aku ingin melihat bayi," kata Julie.
"Bersabarlah, aku akan memotretnya dari luar dan akan kukirimkan padamu fotonya," kata Dario
Ia melambaikan tangan. Julie membalasnya. Dario berlalu untuk ke ruangan bayi.
Namun saat ia hendak kembali melangkah, Shan mencegahnya dan menariknya dari belakang.
Dario amat terkejut. Ditatapnya Shan yang panik itu. Mereka bersembunyi di balik dinding.
"Ada apa, Shan?" tanya Dario.
"Nyonya Sanio di sini," bisik Shan.
Mata Dario membulat terkejut. Keringat kecil muncul di dahinya. Jantungnya berdetak kencang.
Dari kejauhan didengarnya suara langkah-langkah yang mendekat.
Bersambung...
...----------------...
...❤❤❤...
Terimaksih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak.👍