
James baru saja hendak menelpon polisi saat pelayan berteriak-teriak menghampirinya.
"Hei, ada apa?" tanya James ikut panik.
Dona langsung berlari ke arah kamar sang nyonya.
"Nyonya tidak sadar, Pak. Saya bangunkan untuk minum tapi dia tak bergerak." Pelayan itu berkata dengan wajah pucat. Tangannya gemetar dan meremas ujung bajunya.
James berlari secepat kilat menyusul Dona. Dadanya berdebar. Sang nyonya yang biasanya marah-marah saja itu kini sakit. Sungguh, ia lebih rindu kena omelan sekarang ini.
Dona tampak bersimpuh di kaki ranjang dan menggengam tangan itu. Bibir nyonya Sanio memucat.
James berdiri di ambang pintu dan kembali meraih handphonenya. Ia hendak menelpon polisi lagi, bukan untuk melaporkan Dario yang menghilang, tapi untuk membuka jalan.
James menunggu telepon darurat itu diangkat dengan tak sabar. Ia berlari ke ujung jendela dan membuka tirai. Dilihatnya salju makin lebat.
"Hallo, Pak," ucap James dengan lega setelah telepon itu diangkat.
"Ya, ada yang bisa kami bantu?" tanya polisi di seberang.
"Pak, nyonyaku tak sadarkan diri. Kemarin dokter datang tapi sepertinya kami butuh ke rumah sakit. Salju tebal sekali dan mobil kami tak bisa lewat. Bagaimana ini?"
"..."
"Ya, berapa lama? Satu jam? Pak tolonglah bisakah lebih cepat?"
"..."
"Baiklah. Kami tinggal di Distict 1. Agak pinggir, rumah kami sesuai alamat di daftar telepon. Atas nama nyonya Sanio Axton. Ya, pagar bata warna merah. Baik, kami akan menunggu," kata James sebelum menutup telepon.
"Bagaimana ini?" Dona tiba-tiba lari tergopoh-gopoh dan sudah berdiri di samping James.
James terlihat frustasi. Tangannya memijit-mijit kepalanya yang rasanya ingin meledak saja karena pusing memikirkan keadaan ini.
"Saljunya lebih dari 30 cm. Ini badai salju. Akan ada petugas pemadam kebakaran dengan mobil pengeruk salju. Memakan waktu kurang lebih satu jam sampai ambulance bisa lewat. Polisi akan mengawalnya," kata James.
"Kita tidak bisa apa-apa selain menunggu," kata Dona sambil mengikuti langkah kaki James yang kini berdiri di ambang pintu dan melihat pelayan sedang menunggui nyonya Sanio.
James lalu duduk di sofa. Mantel hangatnya ia benahi lagi. Dona duduk berhadap-hadapan dengannya. Dona cukup berumur, ia ikut sang nyonya sedari Celia pindah ke rumah ini.
"Dona, apakah ada yang janggal sebelum Nyonya sakit? Dia pergi kemana? Menemui siapa? Atau menerima makanan dari siapa?" James tampak mengernyitkan dahinya. Ia merasa gagal karena telah terlewat momen ini. Ia cuti dua hari dan begitu kembali bekerja, nyonya sudah terpuruk keadaanya.
"Sebelum salju turun, nyonya bermain golf untuk yang terakhir kali. Dia pergi ke pesta seseorang, entah siapa itu. Anda mungkin bisa bicara dengan sopirnya. Dia hanya menengok apartemen tuan Dario saja lalu pulang. Waktu itu siang hari. Saya yang menemani." Dona berusaha merunut kejadian.
"Siapa sopirnya?" James beratnya. Sopir lama sang nyonya baru-baru ini memang berhenti bekerja.
"Mark."
"Makanan?" James bertanya lagi dengan mata menyelidik.
"Nyonya makan seperti yang kami makan. Kami semua tak apa-apa. Dia sudah lama tak makan di luar. Makanan yang diterima dari kolega atau apapun selalu anda cicipi terlebih dahulu, bukan?" Dona menegaskan.
"Ya, kau benar. Lalu apa ini?" James berpikir keras.
Ia memikirkan nasibnya bisa saja berada di ujung tanduk kalau Dario sampai kembali dan marah.
James sebelumnya cukup senang karena ia naik jabatan. Sebelumnya jabatan kepala kemanan dijabat oleh Shan. Tapi semenjak Dario pindah ke apartemen, urusan rumah ini Shan limpahkan pada James. Sahn berfokus pada Dario saja. Nyonya Sanio sendiri yang menyetujui dan bahkan menaikkan gajinya.
Lalu pikiran James kembali memikirkan keberadaan Dario. Kemana tuan muda itu menghilang?
James buru-buru meninggalkan pesan suara.
"Pak Shan. Dimana anda dan tuan Dario? Nyonya jatuh sakit dan tak sadarkan diri. Petugas sedang berusaha mengevakuasi kami yang terjebak di badai salju. Dokter juga tak bisa datang. Beri tahu tuan muda secepatnya. Nomornya juga tak bisa dihubungi dan apartemennya kosong."
"Tut."
Sambungan mati lagi. Apa Shan berada di tempat yang susah terjangkau oleh sinyal? Apa cuaca buruk membuat ia terjebak juga? James bertanya-tanya dalam benaknya.
***
Dario sedang membuka laptopnya. Ia berhari-hari pusing memikirkan hal ini.
Pekerjaannya sebagian terabaikan. Ia hanya berpesan pada Grace agar mengirimkannya lewat email saja. Handphonenya dimatikan. Dario bilang hubungi dia lewat Julie kalau ada sesuatu yang mendesak.
Julie menemaninya. Si kembar sudah tertidur lelap. Cuaca dingin membuat bayi itu tambah nyenyak saja. Mereka tak pernah sakit atau ada keluhan apapun selepas pulang dari rumah sakit. Julie merawat mereka dengan intens dan penuh kehati-hatian.
Tiba-tiba entah mengapa Dario berpikir untuk mengecek CCTV apartemennya yang berada di atas apartemen Julie ini.
Terakhir nyonya Sanio mendatanginya setelah ia hampir terpergok. Setelah itu Dario begitu yakin kalau nyonya Sanio tak menaruh curiga apa-apa. Ia mungkin putus asa karena tak menemukan jawaban apapun atas kecurigaannya. Semuanya penyelidikannya berhenti istri Shan.
"Kau mau makan malam lebih cepat?" tanya Julie.
Dario menggeleng. "Nanti saja, Julls," sahut Dario.
Dario mengarhakan tangannya pada mouse pad dan alisnya berkerut.
Hari ini sekitar beberapa jam yang lalu ada orang yang berdiri di depan pintu apartemennya?
"Julls, lihat ini!" seru Dario.
Julie lalu berbalik arah. Ia yang sebelumnya ingin menengok si bayi kini berdiri di belakang Dario. Tangannya menyentuh pundak Dario yang sedang duduk dan menatap pada layar komputernya.
"Siapa dia?" Julie ikut terheran. Ia menempelkan dagunya di pundak lelaki itu.
"Entahlah," kata Dario menatap cemas.
***
Sementara itu seorang pria dengan mantel memakai sepatu boot dan nekat menembus badai salju yang lebat.
Nafasnya tersenggal-senggal layaknya orang ketakutan.
Pria itu adalah Mark.
Di tangannya ada sebuah serbuk yang dibungkus kertas. Ia ketakutan. Ia ingin menghilangkan barang bukti.
Bersambung...
......................
...💕💕💕...
...Ayo tebak-tebakan di kolom komentar yok. 🔥🔥🔥...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya guys 🎁💯💕💰...