
"Apa pintunya tadi kamu kunci?" tanya Julie kepada Dario sambil setengah berbisik.
Dario menggeleng. Dipikirnya tak akan ada orang yang masuk kecuali dokter dan perawat.
Pintu akhirnya dibuka dan Dario dengan cepat melesat pergi ke kamar sebelah.
Ruangan kamar VVIP itu luas sekali. Ada kamar tidur untuk keluarga pasien. Dario menyelinap masuk dan menutup pintunya.
Awalnya pintu terbuka sedikit lalu makin melebar.
Celia Adams dengan gaun rumah sakitnya yang berwarna putih itu tampak berdiri di ambang pintu.
Rambutnya acak-acakan dan senyumnya mengerikan. Penampilannya persis seperti hantu jahat dalam film.
Julie menahan nafasnya. Ia mundur ke ujung bed dan diam-diam memencet tombol darurat untuk memanggil perawat. Ia pencet tombol itu berkali-kali.
Bibirnya memucat sementara Celia terus mendekat dengan langkah yang menakutkan.
"Hei, sahabatku. Aku melihat ada laki-laki berbadan tinggi menuju ke sini. Mana dia? Dia orang jahat. Ambil anakmu atau dia akan mengambilnya," kata Celia sambil mendekat masuk ke dalam ruang rawat Julie.
Julie mempertimbangkan untuk kabur lari lewat pintu yang terbuka itu tapi ia takut luka di perutnya belum sembuh benar untuk gerakan-gerakan berbahaya macam itu.
Julie memencet tombol darurat sekali lagi. Celia terus maju dan mengamati sekliling. Ia mencari sosok yang ia maksud itu.
Dario membuka pintu sedikit dan melihat Celia mendekat ke arah Julie. Ia terkejut bukan main lalu membuka pintu dengan cepat. Ia bermaksud menangkap Celia dan mendorongnya. Dario tahu Celia sedang mengalami gangguan ingatan dan luka di kepalanya. Mengapa ia lolos lagi dari penjagaan ketat dokter?
Saat Dario bersiap, rupanya sekumpulan perawat berlari-lari menyusuri koridor dengan alat perlengkapan yang lengkap.
Mereka tentu mengira terjadi sesuatu dengan Julie dan ia butuh pertolongan darurat. Ternyata Julie hanya meminta tolong dari Celia.
Para perawat dan dokter jaga terlihat terkejut.
"Tolong, dia pasien yang kabur. Aku tidak sakit atau terluka. Tolong!" Julie berkata cepat.
Celia menoleh ke belakang. Di depan pintu sudah muncul sekitar tiga perawat dan satu dokter jaga. Di depan kamar penunggu pasien, Dario juga sudah bersiap menangkap perempuan gila itu.
Celia berteriak sambil menutup telinganya.
Ia ditangkap dua orang perawat dan satu dokter itu untuk dibawa pergi. Sementara perawat satunya mengambil kursi roda untuk Celia. Tapi ia tak bisa ditaklukkan dengan mudah.
Dario hampir muncul untuk menenangkan Julie tapi langkahnya kembali mundur saat dilihatnya Maria Adams muncul di depan pintu.
Rupanya ia menyadari kalau Celia tadi kabur. Ia ikut mencari anak itu.
"Hei, lepaskan aku. Aku harus membantu sahabatku. Anaknya akan diculik," kata Celia berteriak-teriak. Perawat menyeretnya di sepanjang lorong karena ia terus memberontak.
Nyonya Maria Adams berdiri di ambang pintu kamar Julie dengan wajah bingung.
Julie merasa makin gugup. Mengapa nyonya itu masih berdiri di sana.
"Ah, maaf. Anakku sedang dalam masa pengobatan. Apakah anda mengenalnya sebelumnya? Dia terus menerus mengatakan kalau anda adalah sahabatnya," tanya Nyonya Maria dengan sopan.
Julie menggeleng cepat.
Dalam hati ia takut Nyonya Maria mengenalinya. Meraka pernah berpapasan beberapa kali do kantor Axton saat Julie dulu masih menjadi sekretaris Dario. Dan mereka pernah berpapasan di rumah sakit juga saat ia bersama Athena.
Mungkin ingatan tua nyonya itu sudah tak terlalu tajam lagi.
Nyonya Maria menangguk. "Maaf dia jadi kabur lagi. Aku meninggalkannya ke kamar mandi sebentar dan ia melompat lewat jendela," kata sang nyonya lalu ia pergi.
Julie menghela nafas lega. Ia seperti mendapatkan serangan jantung mendadak pagi-pagi.
Dario segera keluar dari tempat persembunyiannya setelah mantan mertuanya itu pergi. Ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Ia bersandar di balik pintu dengan nafas terenggah-enggah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dario kepada Julie.
Julie mengangguk walau wajahnya pucat. Pagi yang sungguh menegangkan.
***
"Ya?" Nyonya Maria melangkah mengikuti Celia yang sdanag ditenangkan perawat itu sambil menerima telepon dari suaminya.
"Celia mengamuk lagi. Naiklah taksi. Aku tak bisa mengantarmu," sahutnya lagi.
Maria Adams terlihat kesal. Suaminya terus menyuruhnya ini dan itu sementara ia kerepotan mengurus Celia yanga kondisinya makin tak jelas.
"Hei, aku juga sibuk. Kalau tidak, suruh orang-orang itu menemuimu di rumah. Toh urusan itu belum jelas. Brankas apa. Siapa tahu isinya cuma surat wasiat tidak penting. Jangan pakai uangku untuk membayar orang-orang bodoh." Maria Adams berkata kesal sambil menutup teleponnya.
Dilihatnya Celia yang matanya tengah melotot dan badannya melemas karena suntikan obat penenang dari dokter. Ia tak lagi memberontak dan kursi roda itu didorong dengan tenang.
Sungguh miris. Maria Adams merasa sedih.
Celia yang menyebalkan itu kini tak bisa ia ajak bertengkar lagi. Bagaimanapun sebagai seorang ibu, Nyonya Maria merasa amat terpukul.
***
Frans Adams mengumpat kesal di rumah tuanya. Ia mendorong kursi rodanya dengan susah payah.
Ia berusaha menelpon Travis Topper untuk membicarakan masalah Dante Bank lagi. Wajahnya kesal bukan kepalang.
"Ya, Frans," jawab suara di seberang telepon.
"Hei, aku tidak bisa menemuimu. Bagaimana kalau besok," kata Frans.
Travis menyetujui. Telepon ditutup.
Sehari penundaan berarti sehari untuk Dario mengulur waktu dan menyusun rencana agar lebih matang.
......................
...👻👻👻...
Hallo. Jangan lupa VOTE dan tinggalkan likes serta komentar. Kali ini endingnya nggak dibuat nggantung deh. Nantikan update selanjutnya ya.
Selamat haru Rabu.💕