
Dario bersiap pagi itu. Ia mengetuk pintu kamar Julie. Ia agak cemas juga karena Julie memaksa untuk ikut. Perjalanan ke Valex melalui jalur darat memang tak begitu jauh. Tapi Julie sedang hamil, terlalu beresiko.
Julie membuka pintu kamarnya. Ia sudah berpakaian rapi dan nampak siap.
"Okay, tunggu 5 menit dan aku akan siap," katanya lagi lalu menutup pintu dan menguncinya. Jantungnya berdebar.
Dario terlihat heran dan bingung. Namun ia menurut saja dan menunggunya di sofa ruang tengah. Pak Roy nampak mengantarkan pelayan itu untuk memasukkan barang-barang yang dibutuhkan di mobil.
"Ingat, semua ruangan dilengkapi dengan CCTV yang bisa saya akses dimanapun. Pastikan apartemen ini tetap aman dan tersembunyi dari orang di luar sana. Jangan biarkan orang lain masuk," kata Dario pada Roy.
Roy mengangguk paham. Pekerjaan barunya ini cukup mudah dan bayarannya mahal. Ia mantan pegulat dan petarung. Shan yang merekrutnya.
Sementara itu di kamarnya, Julie sedang melipat surat perjanjian pernikahannya dan surat hasil tes DNA. Ia menyembunyikannya di tas yang akan ia pakai. Kartu memori kamera berisi dokumentasi pernikahannya juga disembunyikan di tas itu.
Koper berukuran sedang berisi pakaian sudah ia siapkan kemarin. Roy sudah membawanya ke mobil.
Julie nampak sedikit gugup. Ia takut melupakan sesuatu. Ponselnya sudah, kartu telepon yang baru sudah. Kemarin ia minta tolong Athena untuk membelikannya sebuah nomor ponsel baru. Ah, buku tabungannya.
Julie membuka laci dan memasukkan semua buku rekeningnya. Tak ada yang tersisa. Semua dokumen pribadinya sudah aman di tas. Ia mengangguk mantap pada dirinya sendiri lalu keluar kamar.
"Aku siap," katanya sambil membawa tas salempang yang lumayan agak besar itu.
"Oke, ayo berangkat," kata Dario sambil mempersilahkan Julie jalan terlebih dahulu. Roy mengawalnya.
Mereka menuruni lift dan menuju basement. Roy membukakan pintu.
Dario memastikan semua sudah siap dan mobil abu-abu milik istri Shan itu meluncur pergi.
Kota Suresh belum bangun. Matahari terbit belum muncul juga.
"Kamu yakin dengan perjalanan darat ini aman untuk kehamilanmu?" tanya Dario sekali lagi.
"Ya, aman. Tenang saja," kata Julie.
"Nanti kita menginap di Valex. Bibi dan Paman yang menjaga rumah sudah saya kabari. Tempat sudah dibersihkan dan mereka bisa menyiapkan makan malam nantinya. Saya juga sudah bilang mereka untuk tidak memberi tahu Mama mengenai kedatangan kita. Lagipula sudah lama Mama tak kembali ke Valex. Rumah itu hanya akan membuatnya sedih lagu karena rindu Papa," kata Dario.
"Jadi Valex dan Stone itu satu distrik?" tanya Julie.
"Dia sudah berubah kan sekarang?" kata Julie sambil ikut tertawa. Ia masih ingat hari pertamanya kerja, wanita itu menjambak rambutnya karena ia terlalu dekat dengan Dario. Ia sedang menujukkan dokumen untuk diperiksa dan badannya agak membungkuk ke arah Dario. Celia yang baru datang itu menyerangnya. Julie bergidik ngeri mengingat peristiwa itu. Celia sangat agresif dan tak tahu aturan.
Julie tampak melamun. Ia membayangkan bagaimana kalau Celia sampai tahu soal pernikahannya dengan Dario dan bahkan kini ia hamil anak Dario. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Wanita gila itu bisa melakukan apapun untuk menyingkirkannya.
Julie merasa perutnya mulas membayangkannya. Ah, apakah anaknya bisa merasakan apa yang ia pikirkan? Ia mengelus perutnya. Ia berkata dalam hatinya kalau bayinya pasti akan ia jaga sepenuh hati dan ia lindungi dari orang-orang jahat.
"Ya, Julie. Kamu benar. Celia sudah berubah. Mungkin benar setengah tahun terakhir ini ia sudah tak terlalu posesif seperti dulu. Saya pikir Ia berubah menjadi lebih baik, ternyata ia seperti itu karena berselingkuh. Ia punya mainan baru dan laki-laki baru. Dasar..." kata Dario sambil tertawa.
"Apakah kamu tidak curiga?" tanya Julie lagi.
"Tidak. Dia bersikap manis seperti biasa. Ya, hanya saja sikap posesifnya berkurang. Saya pikir kita baik-baik saja. Saya membiarkannya melakukan apapun karena merasa bersalah juga karena tak bisa memberinya anak. Saya pikir saya mandul. Ternyata wanita itu memalsukan semua hasil pemeriksaan." Dario menjelaskan sambil sibuk menyetir.
"Mengapa tak pernah terpikir untuk mengecek ke Dokter Anna Tomya? Kalian bilang kalian sudah berteman cukup lama, kan?" tanya Julie penasaran.
Dario tertawa mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja Celia tak mau. Anna dan saya berteman sejak dulu. Kita sempat berpacaran beberapa bulan saat awal kuliah. Ya, waktu itu kita masih amat muda. Celia pencemburu. Lagipula hasilnya kan jelas kalau Celia yang bermasalah. Anna tak bisa disuap," kata Dario menjelaskan.
Percakapan kembali hening. Perjalanan ke arah timur membuat matahari terbit terlihat indah. Langit jingga itu dibelah oleh jalanan yang lurus dan sepi. Julie terkagum. Ia memotretnya dengan ponselnya.
Kota Valex masih berembun saat mobil itu tiba di rumah lama Dario.
Sepasang Paman dan Bibi yang berusia cukup tua menyambut mereka. Dario memperkenalkan mereka sebagai Michael dan Joan.
Dario membantu mereka memasukkan barang-barang. Ia sudah bilang bahwa ia ingin menginap selama beberapa hari.
Julie bersantai di kursi samping halaman rumah itu. Aneka bunga bermekaran. Rumah tua ini terawat dengan cukup baik.
Ada surat kabar tergeletak di meja. Mungkin milik Michael. Julie mengambilnya. Koran lokal biasanya hanya memuat tentang berita kriminal saja. Julie penasaran untuk membukanya.
Alis Julie berkerut membaca headline berita itu. TIMOS GERRARD, WARGA VALEX YANG MENGHILANG, DITEMUKAN TEWAS DI DANAU STONE.
Bibirnya tiba-tiba pucat. Foto itu Timos yang sama dengan yang dikenalnya. Timos? Timos Gerrard? Dia adalah sopir Celia Adams. Julie mengenalinya karena Timos pernah mengantarnya untuk mengambil dokumen Celia di kantor.
Firasatnya buruk. Ia mengambil koran itu dan bergegas mencari Dario. Ia butuh penjelasan.