Mama'S Twin

Mama'S Twin
Menipu



Selamat hari libur semua. Selamat upacara.🇲🇨 Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"Julie, kau tak apa?" Bibi Elly menepuk-nepuk pipi Julie dengan pelan.


Julie mengangguk. Air matanya bercucuran.


Bibi Elly masih terlihat cemas. Ia membantu Julie bangun dan naik ke kasurnya.


"Ada apa? Bilang pada Bibi," tanya Bibi Elly.


"Tidak apa-apa Bibi. Aku hanya lelah dan ingin istirahat." Julie lalu berbaring. Bibi Elly membantunya.


"Baiklah, Bibi ambilkan air hangat dan perasan lemon untukmu." Bibi Elly lalu beranjak meninggalkannya ke dapur.


Julie merasa tertohok mendengar pembicaraan Dario dan Athena lewat telepon.


Ternyata Dario begitu tulus padanya. Kini ia harus mempercayainya. Ya, Dario pasti bisa menepati janjinya.


Tak masalah hidup di balik bayang-bayang. Ia tak butuh pengakuan atau apapun. Ia hanya butuh anak-anaknya hidup dengan orangtua yang lengkap.


Tak masalah terus bersembunyi di apartemen itu. Ia hanya butuh kenyamanan untuk anak-anaknya.


Kebahagiaannya sendiri adalah nomor dua.


***


Dario pamit pergi. Athena mengantarkannya sampai depan kastil itu. Ia melambaikan tangan dengan wajah sedih.


Athena berjanji akan memberitahukan soal Julie. Tentu ia bohong. Mana mungkin ia berani membongkar keberadaan Julie tanpa izin darinya.


Athena lalu masuk ke dalam lagi. Diperiksanya handphone itu. Ia melihat riwayat panggilan.


Tiga puluh menit lebih. Berarti Julie menyimak semua percakapannya dengan Dario.


Athena hampir kembali menelpon sahabatnya itu saat Dean memanggilnya.


"Anak-anak perlu tambahan matras dan ada yang sepatunya rusak. Kita harus membelinya," kata Dean.


"Baiklah. Aku akan keluar sore nanti." Athena berjanji.


Kesibukannya hari itu membuatnya lupa untuk kembali menelpon Julie.


Sore harinya, Athena berjalan menuju sebuah toko sepatu. Ukuran sepatu anak yang rusak sudah ada di tangannya.


Ia berjalan kaki saja. Toko sepatu langgannya hanya beberapa blok dari sana.


Pemilik toko sepatu itu selalu memberikan diskon kalau tahu Athena membelinya untuk anak-anak di rumah asuh.


Athena sebenarnya juga sekalian mengecek keadaan.


Ia sadar semenjak Julie kabur, ada pria berbaju hitam yang selalu mengikutinya pergi. Ia berjalan diam-diam di belakangnya dan pura-pura sibuk saat Athena menoleh.


Sosok itu kemarin sudah tak ada. Kini Athena menjadi yakin kalau ia aman mengunjungi Julie di perbatasan Delphi.


Athena berjalan menuju tikungan blok itu. Tiba-tiba ia menabrak seseorang.


"Brak."


"Aw," kata Athena mengaduh.


Seorang pria berbadan tinggi tegap tampak terburu-buru.


"Maafkan saya, Nona," katanya sambil memungut dompet Athena yang terjatuh lalu menyerahkannya.


Athena membersihkan lututnya yang kotor. Ia mendongak untuk melihat wajah lelaki itu.


Ketika ia melihat wajahnya, ia begitu terkejut. Laki-laki itu pun sama terkejutnya dengan dirinya.


Meraka saling menatap satu sama lain dengan bingung.


Athena tentu mengenali pria muda itu. Ia pasti orang suruhan Dario yang mengikutinya berninggu-minggu ini.


Is melihat lelaki itu tampak menunduk. Mereka berdiri berhadap-hadapan.


Athena tak tahan lagi. Ia tertawa terbahak.


"Hei, kau orang suruhan Dario yang ditugaskan untuk mengikutiku, kan?" tanya Athena sambil tertawa.


Pria itu menggaruk kepalanya dengan canggung. Ya, ia tertangkap basah.


"Ayolah. Mengaku saja. Sekarang ikuti aku. Tak usah jauh-jauh. Aku tidak kemana-mana. Hanya ke toko sepatu di ujung jalan. Sekarang bantu aku mengangkut sepatu-sepatu itu. Ayolah," kata Athena memaksa sambil menarik tangan pria itu.


Pria itu hanya menurut saja. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa.


Athena mendorong pintu kaca transparan toko itu. Pemilik toko menyambutnya.


"Hei, kau datang untuk berbelanja? Oh, siapa pria ini?" tanya pria tua itu dengan ramah.


"Oh baguslah," kata pria tua sambil mengambil kertas ukuran yang disiapkan Athena.


Pria pengintai itu diam saja.


"Iya, kan?" Athena menyikut lengan pria itu.


"Oh, iya," katanya dengan gugup.


Pria itu menurut saja. Ia membantu memilih sepatu. Athena yang ramah membuatnya buka suara.


"Jadi namamu Jimmy?" tanya Athena.


"Ya. Begitulah. Pasti aku akan dipecat jika atasnaku melihatku seperti ini," katanya dengan wajah kusut.


"Siapa atasanmu? Shan?" tanya Athena. Ia tentu saja mengenal Shan. Mereka menjadi saksi pernikahan Julie dan Dario.


"Kau tahu dia?" Jimmy terdengar panik.


"Ya, tentu saja. Tenanglah. Aku tak akan bilang. Apa ada orang lain lagi di sekitar sini yang mengawasiku?" tanya Athena lagi.


"Awalnya tiga orang. Lalu menjadi dua orang. Sekarang aku sendiri. Aku pengawal baru. Seharusnya aku masih latihan. Tapi Pak Shan bilang aku lolos lebih cepat karena ada tugas mendadak. Aku harus mengintai anda berminggu-minggu. Sungguh pekerjaan membosankan," kata Jimmy. Ia mulai akrab dengan Anthena.


Athena hanya tertawa mendengarnya.


Mereka mengangkut sepatu-sepatu itu dalam empat kantong besar.


"Masuklah dan bersenang-senanglah dengan anak-anak. Kau pasti bosan. Jam berapa kau selesai bertugas?" Athena bertanya padanya.


"Jam tujuh malam. Nanti akan ada petugas pengganti," kata Jimmy.


Mereka berjalan menyusuri jalan pinggiran yang tertutup daun-duan kering.


"Masuklah denganku. Ikutlah makan malam dengan kami. Kau suka anak-anak? Kau terlihat muda. Anak laki-laki di rumah asuh sangat suka bermain bola," kata Athena.


"Benarkah? Aku punya adik laki-laki. Dia juga suka bermain bola. Sayanganya dia meninggal tahun lalu karena kanker," kata Jimmy dengan sedih.


"Ah, maafkan aku. Kamu harus bertemu mereka. Pasti mereka menyukaimu," kata Athena sambil tersenyum ke arah pria itu.


"Baiklah." Jimmy menyetujuinya. Ia terlihat bersemangat.


Athena tersenyum penuh arti. Ya, triknya berhasil.


Ia akan membuat Jimmy sibuk lalu ia akan menyelinap keluar dengan mobilnya untuk mengunjungi Julie.


Tak perlu khawatir. Ada Dean dan Lena yang bisa menjaga anak-anak malam ini.


Jimmy disambut anak-anak dengan gembira. Ia juga terlihat menikmati waktu sorenya dengan bermain bersama anak-anak itu.


"Bersenang-senanglah. Aku akan menyiapkan makan malam." Athena tersenyum penuh arti pada Jimmy. Ia menepuk punggungnya menyemangati.


Mereka tampak berkerumun melihat Jimmy yang pandai memainkan trik bermain bola.


Athena memberi pesan singkat pada Dean dan Lena. Ada empat orang lainnya yang menjaga kastil ini. Athena bilang jangan sampai Jimmy tahu kalau ia pergi. Mungkin ia akan menginap.


Dean dan Lena mengangguk paham. Athena segera berlari menuju kamarnya untuk mandi cepat-cepat dan bersiap.


Ia mengambil kunci mobil dan menyelinap dari pintu dapur yang terhubung ke garasi.


Dikendarainya chevrolet hitam mengkilat itu keluar dari kastil itu.


Ya, Athena lolos dari orang-orang Dario.


Ia mengendarai mobil itu cepat-cepat di jalanan yang tak terlalu padat.


Tibalah Ia di kediaman Bibi Elly. Ia memarkirkan mobilnya di bawah pohon maple dan mengetuk pintu.


Bibi Elly membuka pintu. Ia tampak berkeringat


"Oh, hai Bibi. Kau sedang sibuk mengerjakan sesuatu?" tanya Athena.


"Ya, masuklah. Aku senang membantu Nona Julie berkemas." Bibi itu masuk ke dalam rumah.


"Berkemas?" tanya Athena dengan terkejut. Ia masih berdiri di depan pintu.


Bibi Elly menoleh ke belakang. Ia menghentikan langkahnya.


"Ya, dia akan pindah. Bibi sedih akan ditinggalkan. Padahal Bibi senang dia di sini," kaya Bibi itu dengan sedih.


Athena menutup pintu rumah tua itu lalu berjalan cepat mencari Julie.


Dilihatnya Julie sedang duduk dan membaca selembar kertas.


"Julie," seru Athena.


Julie terkejut melihat Athena yang tiba-tiba datang.


Athena melihat wajah sahabatnya yang pucat. Ia berlari dan memeluk Julie sambil menangis.