
"Bisa jelaskan tentang ini?" tanya Nyonya Sanio tanpa basa-basi. Matanya menujuk ke arah selembar foto hitam putih di meja.
"Itu foto ultrasonografi kandungan." Dokter Anna menjawab dengan singkat.
"Milik siapa?" tanya Nyonya Sanio lagi.
"Milik pasien."
Nyonya Sanio tertawa sinis. Ia lalu menatap ke arah dokter Anna dengan tatapan matanya yang tajam.
"Siapa nama pasiennya?" tanyanya lagi.
"Rahasia. Itulah mengapa namanya tidak tercantum di hasil pemeriksaan. Data pasien bersifat pri..."
"Cukup." Nyonya Sanio memotong kata-kata dokter Anna dengan nada suaranya yang tegas dan menyeramkan.
Sejujurnya, pertemuan menyeramkan ini bukan pertama kalinya bagi dokter Anna. 10 tahun yang lalu, ia pernah mengalami hal yang sama.
***
Di Sebuah cafe di pinggiran kota DC yang sedang bersalju, Anna yang masih menjadi mahasiswa kedokteran menatap takut-takut pada Nyonya besar di depannya.
Mereka duduk berhadap-hadapan. Nyonya Sanio duduk dengan mantel bulunya yang mewah. Di belakangnya berdiri seorang pengawal yang lebih mirip sepeti tukang pukul karena badannya yang besar dan menyeramkan.
"Kamu pacaran sama Dario, anak saya?" tanya Nyonya itu tanpa basa-basi.
Anna Tomya yang masih muda dan penakut mengangguk dengan ragu.
Nyonya Sanio muda tertawa sinis. Sama sinisnya seperti saat ini. Tawa yang menyeramkan dan mengintimidasi.
"Putuskan sekarang. Jangan bilang karena saya. Kamu tidak pantas dengan anak saya. Dario sudah dijodohkan. Campakan dia. Buat dia membencimu. Saya akan kasih uang banyak." Nyonya Sanio berkata meremehkan dan mengeluarkan beberapa gepok dolar dari tas mahalnya.
Tangan Anna Tomya gemetar. Ia belum pernah melihat uang sebanyak itu sebelumnya. Sebagai mahasiswa kedokteran yang hanya mengandalkan beasiswa dan keluarganya hidup miskin, ia tentu tergiur.
"Orang-orang saya akan mengawasi. Jangan takut, kalau kurang akan saya berikan lebih banyak. Saya banyak uang. Tapi, ingat satu hal. Tinggalkan Dario." Nyonya itu menatap Anna seperti elang yang ingin memangsa itik kecil yang yak berdaya.
Anna Tomya menggelang. Ia begitu pengecut dulu. Ia mulai menangis, tangannya gemetar. Ia mengingat orangtuanya yang miskin dan Ayahnya sakit-sakitan. Salah satu motivasi terbesarnya untuk masuk kuliah kedokteran adalah Ayahnya.
Beberapa gepok uang dolar itu disodorkan lebih dekat ke arah tangannya. Meja licin itu berdecit lirih. Tumpukan uang itu begitu menggodanya.
Dario adalah teman SMA-nya. Mereka bisa satu kampus karena Anna yang cerdas berhasil mendapatkan beasiswa.
Anna yang lemah dan butuh uang mengambil uang itu dengan tangan yang berkeringat. Dadanya berdebar. Ia memasukkannya ke dalam tas kuliahnya yang lusuh.
Nyonya Sanio tersenyum. Satu perempuan rendahan tersingkir dengan mudah.
***
Wanita yang ia remehkan itu kini menjadi dokter yang terkenal dan mumpuni di bidangnya.
Nyonya Sanio tentu saja tak bisa memberi dan menyuapnya uang lagi. Suami Anna Tomya adalah anggota parlemen di kota itu.
"Anna, saya tahu kamu profesional. Tapi jangan lupa, saya punya kuasa di rumah sakit ini. Saya bisa membuat kamu tersingkir dan tidak bisa diterima di Rumah Sakit manapun di negeri ini. Saya bisa rusak nama baik kamu dengan mudah." Nyonya Sanio mulai mengancam.
"Nyonya, berhenti mengintimidasi dan mengancam saya. Silahkan melaporkan. Saya bekerja sesuai dengan kode etik. Saya tidak takut," kata dokter Anna dengan berani. Kini ditatapnya mata Nyonya besar itu dengan tatapan berkilat-kilat berani.
"Bagaimana dengan nama baik suami kamu? Hah? Dia bisa saja dipenjara. Vallen Willson bermain kotor dengan perusahaan-perusahaan. Termasuk dia menawari kontrak busuk kepada Axton. Tentu saja Dario menolaknya. Hanya dengan satu kalimat keluar dari mulut saya, habis karir suamimu yang kamu bangga-banggakan itu." Nyonya Sanio kembali tertawa sinis. Ia merasa di atas angin.
Dokter Anna kini kembali memucat. Vallen tak pernah jujur soal pekerjaannya dan uang di luar gajinya yang terus masuk rekening. Jadi selama ini dia korupsi dan main suap. Ia baru tahu.
"Mau bilang apalagi kamu. Katakan itu milik siapa? Dan mengapa ada di saku jas Dario. Tidak mungkin kan Dario punya selingkuhan dan dia hamil anaknya?" tanya Sang Nyonya.
"Mungkin." Dokter Anna menjawab dengan bibir bergetar.
"Idak mungkin. Dario mandul. Puluhan dokter sudah mengeceknya," kata Nyonya Sanio.
Nyonya Sanio mendelik dengan mata terpicing. "Apa maksud kamu?" katanya dengan nada menyelidik.
"Berjanjilah dulu untuk tidak melaporkan suami saya. Saya perlu bukti," kata dokter Anna lalu mengambil ponselnya. Alat perekam itu dinyalakan. Dokter Anna melihat ke arah Nyonya Sanio.
Nyonya Sanio tak punya pilihan lain. Ia menangguk setuju.
"Dario normal, tidak ada masalah dengan kesuburannya. Ia tidak mandul ataupun punya masalah seksual lainnya. Semua baik."
"Mengapa hasil tesnya berbeda?"
"Mungkin menantu anda yang mandul atau punya masalah kesuburan. Saya bisa memeriksanya kalau anda mau. Jangan ragukan kemampuan saya sebagai Dokter spesialis. Tapi saya tidak yakin Celia mau saya periksa."
Nyonya Sanio mengepalkan jemarinya. Jadi kata-kata Dario benar. Ia sudah yakin ia tak mandul. Mengapa Celia bisa membohonginya sperti ini dan dia percaya saja.
"Lalu bayi siapa yang di foto ini?" tanya Nyonya besar itu dengan wajah penasaran.
"Bayi pasien." Dokter Anna bersikeras. Setidaknya ia tak membongkar semua rahasia Dario. Hanya sebagian saja. Ia akan mencoba sebisanya.
"Jangan main-main sama saya, Anna."
"Saya tidak main-main. Lihat, bahkan saya merekamnya," kaya dokter Anna sambil menunjuk ponselnya.
"Selingkuhan Dario? Pacarnya?" Nyonya Sanio tak mau menyerah. Ia akan terus mendesak.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Saya tidak bertanya." Kini dokter Anna tampak lebih berani menjawab.
"Siapa namanya?"
"Saya tidak tahu nama lengkapnya, Nyonya. Saya hanya memeriksanya saja dan menanyakan keluhannya. Itu saja tugas saya. Saya tidak berhak mengulik data pasien."
"Berapa bulan usia kandungannya?" Nyonya Sanio nampak tak menyerah.
"Musim dingin nanti anak itu sudah lahir," katanya mempersempit informasi.
"Itu anak Dario?"
"Saya tidak tahu, Nyonya. Dario hanya membawanya untuk diperiksa." Kini dokter Anna mulai berbohong.
"Bagaimana ciri-ciri wanita itu?"
"Ya, seperti perempuan pada umumnya. Tinggi, cantik, itu saja. Tidak ada ciri khusus, Nyonya. Pasien saya banyak dan tentu saja perempuan semua. Saya tidak bisa mengingat semuanya," kata dokter Anna. Ia mulai muak dengan percakapan ini.
"Baik. Saya akan pergi," kata Nyonya Sanio lalu beranjak pergi. Ia tak mendapatkan jawaban yang berarti.
Dokter Anna menghela nafas lega. Ia melihat foto ultrasonografi itu tertinggal di meja. Nyonya Sanio lupa mengambilnya.
Dokter Anna mengambilnya dengan segera. Ia memasukkan ke dalam tasnya dan berlalu pergi.
Ia menyetir dengan gelisah. Bagaimana ia menjelaskan ini semua pada Dario?
Untung saja Nyonya itu melupakan hasil foto itu. Ia padahal bisa saja menanyakannya pada dokter lain. Hasil itu mudah sekali terbaca. Tanggal perkiraan lahir dan juga kenyataan bahwa bayi itu kembar.
Ponselnya berdering. Ia makin tegang. Dario yang menelponnya.
...----------------...
...----------------...
Mari tinggalkan jejak. Nantikan episode berikutnya ya teman-teman.
Terimakasih banyak.