
Athena terus memegangi tangan Julie yang berkeringat. Ia menatap sahabatnya itu dengan gemas dan bertanya-tanya.
Julie hanya diam saja. Ia memberi kode dengan anggukan kepala dan lewat matanya kalau semuanya baik-baik saja.
Julie masih terus fokus menguping percakapan Frans Adams dan istrinya.
"Apa? Brankas di bank? Apa isinya uang?" tanya Maria Adams. Nadanya tiba-tiba berubah senang ketika mendengar kata uang.
"Ya, mungkin. Omar meninggalkan brankas itu sebelum meninggal dan istrinya yang bodoh itu rupanya tak tahu apa-apa. Kunci brankas itu kucuri bertahun-tahun lalu dan dia tidak menyadarinya." Frans berkata dengan percaya diri.
"Baiklah kita akan menunggunya," kata Maria Adams sambil mendorong kursi roda suaminya itu menuju ruang tunggu.
"Jangan di sini. Aku sudah bilang kita akan ke cafetaria rumah sakit yang sepi. Bawa aku ke sana," kata Frans.
Mereka rupanya berjalan menjauh. Julie memeberanikan diri menoleh ke belakang.
"Kita ke cefetaria," kata Julie pada Athena.
Athena menahan tangannya.
"Julls, fokuslah. Kita akan menemui dokter Anna. Jangan menempatkan dirimu ke dalam hal berbahaya. Siapa mereka?" Athena nampak khawatir.
"Ini lebih penting. Aku harus menguping. Ayolah bantu aku. Dokter Anna masih satu jam lagi akan datang sesuai janjinya. Please, Athena," kata Julie memohon.
Athena memandangi Julie dengan pasrah. Sahabatnya itu sangat bersikeras rupanya.
"Bagaimana kita akan menguping? Mereka akan ke kantin," kata Athena nampak bingung.
Julie terdiam sejenak. Ia melihat ruangan terapi tempat Frans Adams keluar tadi. Nama temannya yang disebut-sebut itu rupanya belum keluar.
"Kita pura-pura memesan makanan dan makan. Posisinya seperti tadi. Aku membelakangi mereka dan kamu duduk di depanku. Jadi kamu bisa melihat mereka," kata Julie.
Anthena nampak tak yakin.
"Kau yakin mereka tak mengenalimu?" tanya Athena.
"Yakin. Frans Adams saja aku belum pernah melihat wajahnya. Kalau Nyonya Maria beberapa kali kulihat saat menemui Celia yang menyusul Dario ke kantor. Tapi dia rupanya dia tak ingat padaku," kata Julie.
Athena walaupun ragu tapi ia tetap menuruti apa kata Julie.
"Baiklah, kita bisa mengobrol apa saja untuk terlihat tak menguping. Ingat ya, aku mengkhawatirkanmu. Kita nanti fokus untuk menemui dokter Anna," kata Athena.
Julie mengangguk. Ia lalu menyikut lengan Athena saat dilihatnya pria tua tampak keluar dari ruang terapi rumah sakit itu.
Pria itu berambut putih dan memakai baju kotak-kotak. Wajahnya kecil dan badannya cukup tambun.
Seorang perempuan berseragam seperti perawat mendorong kursi rodanya.
Setelah agak jauh, Anthena dan Julie mengikuti mereka. Begitu mereka sudah dekat dengan area kantin, Julie bisa melihat sosok Frans Adams.
Frans Adams berbadan kurus dan berambut putih juga. Ia terlibat sakit. Berbeda dengan temannya tadi yang nampak segar dan bugar.
Nyonya Maria malah seperti tampak muda bersanding dengannya. Tentu saja semua kecantikan itu mahal harganya. Ia bisa menyewa klinik kecantikan manapun untuk merawat wajahnya kalau banyak uang. Dulu mungkin bisa karena uang Dario.
"Aku akan pura-pura menerima telepon dan kau memesanlah minuman atau apapun," kata Julie memberi instruksi.
Julie lalu duduk tak jauh dari mereka dan mengambil posisi membelakangi mereka.
Rupanya kantin cukup ramai. Beberapa bangku terisi. Posisi mereka yang berdekatan dan di pojokan memungkinkan mereka mendengar percakapan satu sama lain.
Tentu saja Julie sangat berharap ia bisa mendapat sedikit informasi.
Athena datang dengan dua gelas jus buah segar. Julie menyambutnya dengan mengambil satu gelas dan ia letakkan di meja depannya.
"Ah, Maria rupanya ada di sini. Iri sekali melihat temanku diantar istrinya untuk berobat. Lihatlah aku hanya diantar perawat," kata Travis Topper dengan gayanya yang jenaka.
Nyonya Maria yang mendengar ini tentu saja hanya tersenyum tipis. Ia mengantar suaminya karena terpaksa. Mau bagaimana lagi. Mereka tak punya perawat atau pelayan lagi sekarang karena bangkrut.
"Bisa saja kau ini. Aku ingin minta tolong kawanku. Travis Topper yang hebat tentu bisa menolongku, kan?" kata Frans Adams menyanjung.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Travis.
Frans Adams mengeluarkan sebuah kunci emas dari saku kemejanya.
Benda itu ia amati dengan bangga lalu ia pinjamkan kepada Travis Topper.
"Apa ini?" tanya Travis agak bingung.
"Lihat ukiran tersembunyi di ujung mata kunci itu, Travis," kata Frans Adams.
Maria Adams rupanya ikut tertarik menyimaknya.
Julie yang mendengar hal itu segera meraih tangan Athena. Ia memberi kode untuk memotret mereka diam-diam.
"Dante Bank?" Travis terdengar heran sedih berhasil membaca kode itu.
"Ya, itu kunci khusus untuk membuka brankas rahasia dari nasabah prioritas bank. Itu bukan punyaku tentu saja," kata Frans.
"Lalu?" Travis masih belum mengerti.
"Ya, putramu yang hebat itu kan punya jabatan di Dante Bank. Aku bisa membayar kalian untuk ini," kata Frans dengan penuh arti.
Travis tak menjawab apapun. Tapi ia mengangguk sambil tersenyum senang mendengar kata uang.
Julie yang tak bisa melihat adegan itu memberi kode dengan mata pada Athena.
Athena tak membalas apapun. Hanya saja matanya melotot ketakutan.
"Apa?" bisik Julie pada Athena.
"Nyonya Maria melihat ke arahku," kata Athena berbisik-bisik dengan cepat. Matanya nampak syok saat mengatakannya.
......................
......................
Lanjut? Silakan tinggalkan jejak.🙏🌻