Mama'S Twin

Mama'S Twin
Racun



Cuaca makin memburuk. Berita-berita di semua siaran televisi melaporkan berita badai salju ini.


Mark tak mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah keluarga Adams. Ia harus pergi ke sana apapun yang terjadi. Ia tak tahan lagi.


Sungguh ia ketakutan melihat keadaan Nyonya Sanio sekarang.


Mark naik ke tangga menuju pintu rumah itu. Tangannya kebas dan kakinya dingin. Ia melepas sepatu boot yang ia pakai dan melepas kaos kakinya yang basah.


Diketuknya pintuΒ  rumah itu berulang kali. Serbuk obat itu ia masukan ke dalam jaketnya.


Tidak ada jawaban. Mark mengetuk lagi. Bibirnya mulai pucat.


Tok...tok...tok....


Mark makin mengetuknya dengan keras dan cepat. Ia bidadari kedinginan kalau tak bisa masuk ke dalam rumah.


Nyonya Maria yang membuka pintu setalah beberapa kali ketukan lagi.


"Hei, mengapa tak bilang kalau kau akan datang," kata nyonya Maria sambil menengok ke arah kiri dan kanan. Ia takut ada yang melihat mereka.


Ditariknya Mark agar cepat masuk.


Mark menurut saja. Ia melepas mantel musim dinginnya dan meletakkannya di tempat gantungan mantel di dekat pintu.


Setidaknya rumah ini menghangatkan dirinya.


Mark melihat Celia yang tengah tertidur di sofa dan berselimut tebal. Pipinya nampak memerah karena cuaca dingin. Mark melihatnya dengan tatapan iba.


"Apa keadaannya sudah membaik?" Mark melihat ke arah Celia.


Mareka duduk berhadap-hadapan di dekat jendela dan berbicara dengan suara pelan.


"Ya sudah agak lumayan. Aku mengambilnya dari rumah sakit karena biayanya terlampau besar. Apalagi cuaca begini. Aku tidak bisa menengoknya setiap hari ke rumah sakit. Sekarang dia harus tetap meminum obat penenang setiap hari." Nyonya Maria terdengar sedih saat mengatakannya.


Mark dengan tangan gemetar lalu mengambil bungkusan obat yang tadinya disembunyikannya itu.


"Ini, Nyonya," katanya dengan takut-takut.


Bungkusan itu digeser dari meja di depannya hingga mendekat ke arah tangan sang nyonya yang sedang memandanginya dengan tatapan tak tertebak itu.


Nyonya Maria mengambilnya dengan cepat dan melihat ke arah plastik transparan itu.


"Mengapa belum habis?" Nyonya Maria terlihat geram.


Mark menggeleng dengan takut-takut. Meskipun rumah ini sudah hangat tapi tangannya masih terasa dingin. Ia menembus jalanan yang tak bisa dilewati mobil dengan berjalan kaki menuju ke sini.


"Saya takut, Nyonya. Resikonya besar. Saya takut tertangkap. Bisa habis saya." Mark terdengar resah.


"Katamu Shan sudah tak berjaga di rumah? Seharusnya pengawalan tidak seketat dulu. Kamu bagaimana sih?" Nyonya Maria terdengar marah.


"Ada pak James yang menggantikan. Saya takut. Jujur saja saya sangat takut. Dia hampir sama teliti dan cerdasnya seperti pak Shan. Dia bahkan sudah menanyai kepala pelayan soal makanan yang dimakan nyonya Sanio seminggu terakhir ini. Saya takut."


Nyonya Maria mendengar penjelasan Mario dengan wajah kesal.


"Dia sekarat. Entahlah. Dia tak bangun dan lemas. Sebenarnya apa isi obat itu, Nyonya?" Mark terlihat penasaran.


"Kau tak perlu tahu. Kawanku yang merupakan ahli pengobatan yang memberikannya. Yang jelas dia akan mati perlahan dan susah ditemukan jejaknya di dalam tubuh." Nyonya Maria tersenyum menyeriangi.


"Saya tidak mau melakukannya lagi kalau begitu. Saya tak mau membunuh orang lagi," ujar Mark dengan wajah pucat.


Nyonya Maria memerah wajahnya seperti tidak terima.


Brak!


Dipukulnya meja itu. Ia lalu melirik ke arah Celia yang rupanya terkejut juga tapi untungnya tak terbangun, ia hanya mengganti posisi tidurnya saja.


"Kau sudah berjanji, Mark. Kau tak bisa lari."


Mark menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Ia benar-benar sudah tak bisa lari lagi.


"Saya tak bisa lagi. Sya sudah pernah membunuh pak Timos waktu dia membocorkan rahasia perselingkuhan Celia. Itu sudah membuat saya tak bisa tidur dan mimpi buruk karena takut suatu saat akan terungkap dan saya ketahuan yang menjadi pelakunya." Mark berkata dengan nada agak meninggi. Ia juga harus membela dirinya di depan nyonya angkuh ini.


"Kau bilang kau berhutang nyawa pada Celia. Celia yang berbaik hati memberikan uangnya untuk pengobatan ibumu. Jangan lupakan itu. Kau harus membayarnya dengan nyawa nyonya Sanio," ujar nyonya Maria sambil mengungkit-ungkit kelemahan Mark.


Mark terlihat memandang meja kayu itu dengan tatapan putus asa.


"Bunuh aku saja, Nyonya. Aku sudah tak sanggup lagi." Mark nampak pasrah.


Nyonya Maria mendengus kesal.


"Sudah berapa dosis yang kau berikan?" tanyanya kemudian.


"Entahlah. Tanganku gemetar waktu memberikannya." Mark nampak mengingat.


"Ceritakan berapa kali dan bagaimana kau memberikannya. Cepat." Nyonya Maria memerintahkan Mark dengan nada tegas.


"Aku memberikannya saat dia memintaku membelikannya kopi saat ia pulang dari bermain golf. Kejadiannya sebelum salju turun. Saya pikir itu kesempatan yang tepat untuk saya. Saya memasukkan serbuk itu ke dalam kopi lalu memberikan kepadanya." Mark menjelaskan.


"Seberapa banyak?" Nyonya Maria nampak belum puas dengan penjelasan Mark.


"Sesendok kecil mungkin," jawab Mark dengan agak ragu.


"Kalau begitu seharusnya dia sudah mati," kata nyonya Maria dengan entengnya.


"Dia meminum sedikit lalu ada seseorang yang menabraknya. Kopi itu tumpah. Sejak saat itu saya tak berani lagi memberikannya karena dia langung jatuh sakit." Mark menjelaskan dengan tangan gemetar.


Nyonya Maria memandanginya dengan alis berkerut.


Bersambung...


......πŸ’―βœ…πŸ’°πŸŽπŸ’•πŸ”₯......


...----------------...


...Maaf ya kemarin bolong update. Author habis vaksin jadi rada letoy. πŸ˜‚...