Mama'S Twin

Mama'S Twin
Pertemuan Julie dan Celia



Dario memasuki apartemen itu dengan hati yang hampa.


Ia masuk ke kamar Julie dan mengamati semua kenangan itu. Dibukanya lemari pakaian istrinya itu. Semua masih tertata rapi.


Kemana ia harus mencari Julie?


Ia duduk termenung menghadap jendela. Di tangannya ada berkas rahasia milik Papanya itu.


Omar Axton rupanya meninggalkan sesuatu untuknya sebelum ia meninggal. Waktu itu umurnya masih belum genap 10 tahun.


Julie membantunya mnerjemahkannya. Karena itulah ia kabur? Ah, apakah keluarganya memang semenakutkan itu.


Dario tahu banyak perusahaan besar yang menyimpan kebusukan. Itu rahasia umum di kalangan atas. Ia juga tahu betul.


Setelah usianya cukup dan Axton diserahkan padanya, ia pastikan perusahaan itu bersih dari kebusukan dan suap.


Papa mungkin terjerat kebusukan itu karena sangkut paut dengan Frans Adams.


Masa lalu memang masa lalu. Tapi kecurangan dan kebusukan itu memakan korban juga.


Dario sangat yakin Papanya diracun oleh Papa Celia. Julie juga meyakini hal yang sama. Tapi bagimana cara membuktikannya? Shan dan Detektif Andrew sedang mencari solusinya.


Dario tak mau larut dalam kesedihannya. Ia harus mengurus semua hal ini agar punya waktu khusus untuk mencari keberadaan Julie.


Ia keluar dari kamar itu. Shan menunggunya untuk melapor.


"Duduklah, Shan," kata Dario sambil menunjuk sofa di depannya.


Shan duduk. Dario juga duduk. Mereka berhadap-hadapan. Dia lelaki dewasa yang sedang menatap serius satu sama lain.


"Benar bahwa Celia sudah diusir. Surat perceraian juga sudah ditandatangani dan dimasukkan ke pengadilan. Tinggal menunggu hasilnya saja. Nyonya Sanio yang mengurusnya." Shan melapor.


"Apa yang membuat Mama berubah secepat itu?" tanya Dario.


"Asistennya membocorkan pada saya. Sepulang dari menemui dokter Anna, Nyonya memergoki Celia sedang berselingkuh di hotel dengan Ludwig. Dia marah dan melempar semua barang-barang Celia keluar. Nyonya Maria Adams menjemputnya," kata Shan.


Dario tertawa kecil. Ya, kebusukan akan nampak pada akhirnya. Ia hanya harus bersabar menunggu waktunya. Celia sudah kena batunya.


"Sekarang dimana Celia?" tanya Dario penasaran.


"Di rumah lamanya di pinggiran Suresh yang berbatasan dengan Delphi. Rumah yang dulu ditempati itu atas nama Nyonya Sanio. Beliau juga mengusirnya. Keluarga mereka tak punya pilihan lagi selain merelakan aset itu." Shan menjelaskan penyelidikannya.


"Baguslah. Mama yang mengurusnya sendiri? Berarti dia sudah terbuka mata hatinya. Selama ini keluarga itu terus membuatnya tak tega dan tak enak hati," kata Dario. Ada kelegaan dalam suaranya.


"Celia diusir tanpa aset apapun. Hanya baju saja. Sepatu, tas, perhiasan dan semua itu disita oleh Nyonya Sanio. Semua kartunya dibekukan. Bahkan mobil juga ia ambil. Celia tak punya apa-apa lagi sekarang. Dan ada yang lebih mengejutkan lagi," kata Shan.


"Apa itu, Shan?" tanya Dario penasaran. Wajahnya tampak serius.


"Surat perceraian itu diubah. Dulu ada uang perceraian untuk Celia. Nyonya Sanio menghapusnya." Shan berkata dengan nada yakin. Ya, ia sudah melihat sendiri surat itu.


Dario tak bisa menyembunyikan senyumnya. Rasakan sekarang penderitaanmu. Celia tak bisa hidup bermewah-mewahan lagi dengan uangnya.


"Masih aman sejauh ini. Surat keputusan dari pengadilan belum keluar. Belum ada pernyataan resmi juga. Nanti akan saya siapkan konferensi pers kalau anda mau mengumumkan berita perceraian ini," kata Shan.


"Tidak perlu dulu. Ada yang lebih penting Kita harus ke Dante Bank. Antarkan aku sekarang, Shan," pinta Dario lalu bersiap.


"Maaf. Tapi sebaiknya anda pulang dulu. Nyonya Sanio masih mengancam Grace dan mendesaknya kalau anda belum pulang juga," kata Shan dengan khawatir.


"Baiklah, nanti aku pulang setelah urusan di Dante selesai," kata Dario.


***


Celia Adams membunuh bosannya dengan keluar untuk berbelanja ke supermarket di pinggiran kota Suresh itu.


Seumur-umur ia tak pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Tapi Maria Adams mendesaknya untuk berbelanja beberapa kebutuhan.


Satu-satunya asisten rumah tangga yang tersisa itu keluar dari pekerjaan karena gajinya menunggak. Ia juga tak tahan lagi dengan perlakuan kasar


Rumah itu kacau. Frans Adams yang terbaring lemah tak berdaya hanya bisa memerintah ini dan itu.


Maria yang jarang merawat suaminya itu jadi gampang naik darah. Belum lagi ia harus mengurus rumah dan menyiapkan makanan.


Celia yang melamun dan duduk-duduk saja itu habis ia marahi.


Karena kecerobohannya dan perselingkuhannya yang konyol itu keluarganya jadi jatuh miskin sekarang.


Celia diam saja. Ia memang bersalah. Ia tak bisa menolak begitu Mamanya memberikan satu lembar kertas berisi daftar belanja kebutuhan yang harus ia beli di supermarket.


Setelah mengeluh karena naik mobil butut mamanya dan harus menyetir sendiri, akhirnya ia sampai juga di supermarket itu.


Didorongnya troli belanja itu dengan malas. Ia memasukkan sebotol kecap dan satu kotak keju ke troli itu dengan wajah kesal.


Di antara kekesalannya mencari barang yang harus dibeli itu, dihatnya sesosok perempuan yang tak asing di depannya itu. Ia seperti mengenalnya.


Celia mendorong troli belanjanya makin mendekat lagi. Perempuan itu tak menyadari kehadirannya.


"Julie," seru Celia dengan terkejut sambil melihat perut Julie yang membuncit.


......................


......................


......................


Siapa yang ikut deg-degan dan sebel?


Yuk tinggalkan jejek di komentar. Jangan lupa like, favorit dan rate ya.


Tunggu update berikutnya.🌻