
Julie memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia harus berpikir dengan tenang dulu.
Lagipula taksi ini melaju cepat dan sebentar lagi ia sampai di rumah Bibi Elly. Sebaiknya ia menelpon Dario nanti.
Julie turun dan membayar ongkos taksi itu dengan cepat. Ia disambut Bibi Elly di teras rumah.
"Aku begitu menghawatirkanmu. Ayo masuk, aku membuatkan sup labu favoritmu," kata Bibi Elly sambil berjalan ke dalam rumah.
Julie mengikutinya dengan raut wajah yang berusaha tersenyum.
Bibi Elly menarikkan kursi untuknya.
"Duduklah. Hasilnya baik-baik saja bukan? Bagaimana dengan bayinya?" tanya Bibi Elly penasaran.
"Baik, Bibi. Semuanya baik," kata Julie berbohong. Biarkan ia menyimpan kondisinya ini sendiri. Mungkin ia akan bilang ke Athena nantinya.
Julie memakan maskaan Bibi Elly yang selalu enak itu. Ia begitu dimanjakan di rumah ini. Julie merasa bersyukur.
***
Dario memasuki halaman rumah Mamanya yang luas itu. Mobil itu dilajukannya dengan perlahan.
Nyonya Sanio tak tahu ia pulang. Tapi Grace bilang pagi itu ia masih didesak dan diteror agar memberitahu dimana Dario berada.
Dario disambut beberapa pelayan. Mereka nampak saling memberi kode satu sama lain.
Tuan Muda pulang. Nyonya besar harus segera tahu.
Sudah cukup berminggu-minggu mereka menjadi sasaran empuk kemarahan Nyonya Sanio.
Para pelayan itu tampak ikut prihatin juga.
Semua yang bekerja di situ bukan orang sembarangan walaupun sekedar pelayan. Mereka punya manner dasar dan pengetahuan yang baik.
Dario naik menuju lantai dua, tempat dimana kamarnya berada.
Kamarnya dengan Celia Adams, mantan istrinya itu. Ia masuk dengan perasaan asing.
Semenjak ia sering mengunjungi Julie di apartemen, rumah ini seperti tak ada ikatan hati lagi dengannya.
Rumahnya adalah apartemen Julie, bukan di sini. Di sana ada cinta. Di rumah ini hanya ada istri bermuka dua dan Mama yang tak pernah memihaknya. Ia sudah muak.
"Mama saya kemana?" tanya Dario.
"Sedang bermain golf, Tuan. Dia kesepian sejak anda dan Nona Celia pergi dari rumah ini. Dia selalu bermain golf atau melihat pacuan kuda untuk membunuh sepinya," kata Dona-pelanyan senior itu.
Dario hanya mengangguk saja lalu masuk ke kamarnya.
Kamar itu terasa berbeda. Dario mengamatinya sejenak.
Meja rias yang biasanya penuh alat make up dan barang-barang Celia kini sudah tak ada.
Dario lalu membuka pintu ke arah ruang wardrobe, dimana tumpukan baju Celia akan memenuhi tempat. Kosong juga. Hanya baju miliknya.
Tas-tas mahal berderet, sepatu mahal aneka model, warna dan bentuk itu juga menghilang dari rak. Menyisakan sepatunya saja yang hanya beberapa biji. Dario memang tak terlalu suka bermewah-menahan.
Dario lalu menuju kamar mandi pribadinya. Ya, barang-barang Celia di sana juga sudah menghilang.
Ia tertawa senang sekaligus heran.
Mama yang mengusir perempuan ular itu? Ia juga meminta pelayan untuk membersihkan barang-barang Celia dari kamarnya?
Inilah yang ditunggunya. Celia ditendang keluar dari rumah dan Mama memihaknya.
Seharusnya ini menjadi waktu yang pas untuk berbicara baik-baik dengan Mamanya kalau ia sebenarnya sudah menikah lagi dengan Julie dan sekarang wanita itu sedang mengandung anaknya.
Kira-kira apa reaksinya?
Dario mengehela nafas panjang. Bagaimana ia hendak menyampaikan soal itu. Julie saja menghilang darinya.
Memikirkan itu membuatnya murung lagi.
Sepertinya itu bisa diatur nanti, sekarang ia harus mencari tahu soal brankas Papanya dan kunci Dante Bank yang tak ada di tangannya.
Ya, ia harus bisa mengulik itu dari Mamanya.
Ini kesempatan bagus untuk menyelinap ke kamarnya dan menggeledah laci ruang kerjanya.
Dario segera menuruni tangga. Dilihatnya pelayan itu tak ada di sekitar pintu kamar Mamanya. Dario langsung menyelinap masuk.
Kamar Mamanya tak pernah berubah semenjak puluhan tahun lalu. Ia masih mempertahankan gaya klasik dan elegan.
Ornamen kayu dan warna cokelat mendominasi seluruh ruangan itu. Nuansanya menjadi teduh dan hangat.
Dario baru saja datang ke meja kerja itu dan ia sudah menemukan satu dokumen yang mengejutkannya.
Ya dokumen perceraian dan keputusan resmi pengadilan Kota Suresh itu diletakkan begitu saja di meja.
Dario tentu saja penasaran. Ia langsung membuka sekilas dan membaca poin-poinnya.
Surat itu menyatakan ia resmi bercerai dengan Celia Adams.
Poin selanjutnya adalah harta bersama yang tidak ada sama sekali dan lampiran perjanjian pra nikah itu.
Ya, Celia tak mendapatkan sepeserpun hartanya karena sebelum menikah, Dario memintanya untuk membuat surat perjanjian pisah harta.
Mereka dulu dijodohkan. Celia yang dulu tergila-gila pada Dario tentu langsung setuju. Ia bahkan bersumpah bahwa ia tak akan meninggalkan Dario. Nyatanya setelah tujuh tahun pernikahan, ia malah selingkuh.
Poin berikutnya adalah soal tunjangan perceraian yang dihapus. Soal ini Shan sudah memberitahunya. Tapi tetap saja ia begitu senang lagi melihat poin itu secara langsung.
Dario menutup surat cerai itu. Ia harus berfokus pada tujuannya.
Dario lalu duduk di kursi tinggi yang empuk itu. Ia mulai membuka laci-laci. Tak ada apapun.
Ya membuka laci kedua. Yang Ia temukan malah berkas rumah sakit.
Dario pikir isinya adalah hari pemeriksaaan Mamanya di rumah sakit. Ia membukanya karena pemasaran.
Bukan, ternyata adalah surat hasil tes kesuburan milik Dario dan Celia.
Mata Dario makin terbelalak. Ini adalah surat hasil pemeriksaan resmi yang asli. Ya ia terima selama ini adalah palsu dan sudah ditukar.
Dario merasa geram. Benar, Anna Tomya sangat kompeten. Ia yakin kalau Dario subur hanya dengan sekali melakukan pemeriksaan.
Kini hasil itu didukung oleh semua bukti kecurangan Celia yang ia temukan ini.
Tapi, tunggu. Berarti Mamanya tahu? Mama tahu kalau ia normal dan bisa punya anak? Mama tahu kalau ia tak mandul?
Dario lalu ingat telepon Anna Tomya waktu itu.
Nyonya Sanio menemukan foto ultrasonografi bayi atas nama Julie. Untung saja nama itu dihapus saat fotonya dicetak. Jadi meninggalkan nama dokter pemeriksanya saja alias dokter Anna Tomya.
Dario mulai berdebar. Ya, selama ini ia terlalu fokus pada mencari Julie sampai ia melupakan hal ini.
Padahal ini penting juga. Ia bahkan belum menyiapkan alasan kalau Mamanya bertanya soal bayi siapa itu?
Dario menjadi gelisah. Ia menutup lagi dokumen itu.
Baru saja ia akan menutup kembali laci itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Nyonya Sanio muncul tepat di depan pintu. Ia terkejut melihat Dario duduk di meja kerjanya.
Dario sama terkejutnya. Ia seperti maling yang tertangkap.
Bersambung...
......................
......................
......................
Wow. Sudah lunas hutang Author untuk kalian dengan update 3x sehari.
Jangan lupa tinggalkan jejak, Guys.😍
Favoritkan atau vote cerita ini juga ya biar naik ranking novel terbaru. Udah masuk 100 besar nih. Yok bisa yok biar lebih rajin update lagi yok.😍