Mama'S Twin

Mama'S Twin
Memata-Matai Nyonya Besar



Julie menoleh ke belakang. Ternyata Dario yang menarik tangannya tadi.


"Julie, masuk mobil saya. Cepat," katanya menggandeng tangannya dan membukakan pintu mobil untuknya.


Julie duduk dengan lega. Hampir saja ia lepas kendali. Ia begitu terkejut dan takut.


Dario terlihat berbicara pada sopir Julie. Lalu ia bergegas masuk menyusul Julie di mobilnya.


Kaca mobil ini lebih gelap daripada kaca mobil Dario sebelumnya. Mobil ini juga lebih biasa. Bukannya mewah selevel yang biasa Dario pakai. Mobil umum dalam kota yang biasa dimiliki orang-orang pada umumnya.


"Mobil Mama di seberang. Warna merah," kata Dario.


Julie melihat dari kejauhan nampak Nyonya Sanio berjalan didampingi karyawannya. Athena tak tahu mengenai Nyonya itu. Tapi tentu saja ia bisa menebak. Tak ada orang lain di rumah sakit yang datang bersama pengawal macam itu. Athena tampak berjalan agak jauh di belakangnya.


Jukie menelpon Athena. Dilihatnya gadis itu mengangkat teleponnya dan duduk di kursi tunggu dekat lobby.


"Ya," jawab Athena. Ia juga mengawasi Nyonya itu masuk ke dalam mobil.


"Julie, bilang padanya untuk pulang ke Rumah Asuh diantar sopir. Kamu akan sama saya," kata Dario. Ia memasang setbeltnya dengan cepat.


Julie mengatakan perintah Dario pada Athena lewat telepon. Sementara Julie berbicara, Dario membantunya memasang sabuk pengamannya juga. Julie terlihat tak mengerti mengapa Dario terburu-buru melakukannya. Tapi ia diam saja.


Telepon ditutup. Julie melihat Dario dengan heran.


"Kita ikuti mobil Mama. Mau kemana dia? Pelayan di rumah bilang ia dihubungi Frans Adams tadi pagi," kata Dario.


"Tapi tadi bilang dia akan menemui dokter Anna Tomya. Apa dia tahu tentang saya?" tanya Julie dengan nada khawatir.


Kota Suresh cukup padat saat jam makan siang. Mobil berlalu lalang. Apalagi rumah sakit ini dekat sekali dengan banyak restoran pilihan di kota. Dario mengikuti mobil merah itu dengan hati-hati agar tak dicurigai.


Mamanya hanya membawa satu pengawal saja yang sekaligus menyetir mobilnya. Mau kemana dia? Dario bertanya-tanya dalam hatinya.


Mobil merah itu terus melaju. Meninggalkan pusat kota. Jalan yang dilalui makin sempit. Dario memelankan laju mobilnya. Ia menjaga jarak agar tak terlalu dekat.


Dario membelokkan mobilnya dan membelokkannya di sebuah ladang hijau. Ia tahu mobil akan mengarah kemana. Rumah orang tua Celia.


Julie memandanginya dengan penuh tanya. Mengapa tak mengikuti lagi? Mengapa malah berhenti?


"Mama menuju kediaman orang tua Celia," katanya pelan. Mesin mobil dimatikan. Dario membuka jendela supaya angin segar masuk. Di depannya padang rumput nan hijau membentang seperti karpet. Beberapa kuda dan sapi nampak dilepas oleh penggembalanya. Musim semi yang indah.


Dario menghela nafas panjang. Ia menggigit bibirnya. Nampak sedang berpikir keras. Jalannya buntu. Ia tak mungkin mengikuti dengan lebih dekat lagi.


"Bisa jelaskan ada apa? Kenapa dan bagaimana sekarang ini. Saya tidak mengerti," kata Julie kesal karena merasa tak paham apapun dari tadi.


"Julie, ceritanya cukup panjang," kata Dario. Ia menatap Julie seakan memohon. Dia sudah cukup pusing dengan masalah ini. Mengapa kebahagiaannya yang sekejap ini berubah menjadi masalah lagi.


"Dario, saya punya banyak waktu untuk mendengar," kata Julie dengan tegas.


Dario menatapnya. Apakah Julie bisa dipercaya? Ini rahasianya.


...----------------...


Tunggu episode selanjutnya ya. Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak ya.