
Dario duduk dengan tegang.
Nyonya Sanio masuk ke kamarnya. Ia tersenyum melihat putranya itu akhirnya pulang. Ia tak curiga sama sekali karena Dario masuk ke kamarnya tanpa izin.
"Maaf, kupikir Mama di kamar," kata Dario berusaha agar tenang dan tak gugup.
Didorongnya laci yang yak sempat tertutup itu dengan lututnya pelan-pelan.
"Kemana saja kamu. Mama harus ancam Grace setiap hari agar kamu pulang," kata Nyonya Sanio.
"Grace bahkan juga tak tahu aku dimana. Sudahlah, tak penting. Yang penting Dario sudah pulang," katanya berusaha santai.
Nyonya Sanio masih terlihat awet muda dengan setelan baju golf mahalnya.
Ia berkacak pinggang melihat Dario.
"Mama ingin banyak bicara denganmu. Nyalakan ponselmu dan jangan kabur dari rumah lagi seperti anak kecil. Mama perlu mandi. Tunggulah di pinggir kolam," kata Nyonya Sanio.
Dario mengangguk. Ia melirik laci itu. Ya, sudah tertutup seperti sedia kala dengan aman.
Ia beranjak dan meninggalkan kamar Mamanya. Dario menutup pintu dan menuju garasi. Dilihatnya deretan mobil yang berjejer itu.
Tiga mobil yang biasa Celia pakai juga masih di rumah ini. Berarti Mamanya sudah benar-benar muak dengan mantan menantunya itu.
Saat pertama kali ia menyetujui perceraian itu, Nyonya Sanio merasa kasihan dan meminta Dario memberinya uang cerai yang pantas.
Lalu perceraian itu batal karena Celia berhasil mengambil hati Mamanya lagi dan membuat sandiwara agar Mama percaya kalau ia tak selingkuh dengan Ludwig.
Baguslah Mama tahu kebusukan menantu tersayanganya itu dengan mata kepalanya sendiri. Sekarang bahkan tunjangan cerai itu juga dihapusnya sendiri.
Thomas Dean, sahabatnya yang pejabat di kantor catatan sipil itu bilang kalau Nyonya Sanio yang mengirim dan mengurus berkas itu mewakilinya.
Dario tersenyum. Harusnya ini waktu yang tepat untuk mengambil hati Mamanya.
Walaupun Julie melarangnya untuk memberi tahu Mamanya soal pernikahan, tapi Dario akan mencoba.
Tak perlu menyebut nama Julie. Ia ingin Mamanya tahu kalau ia sudah menikah lagi dan bahkan sebentar lagi bisa memberinya cucu.
Bukankah kehadiran cucu biasanya akan meluluhkan hati yang keras.
Lagipula mamanya mengenal Julie dengan baik sejak dulu. Ia tahu Julie adakah salah satu karyawan Axton yang kompeten dan diandalkan.
Julie juga cantik dan cerdas. Mengapa tidak?
Dario lalu berjalan ke pinggir kolam renang dan duduk di kursi empuk itu.
Ia teringat pada Julie yang suka sekali berenang. Ah, apapun yang ia lihat akan membuatnya teringat pada Julie-nya
***
Nyonya Sanio mandi dengan cepat. Ia lalu berganti pakaian.
Setelah selesai ia membuka berkas di laci meja kerjanya.
Ia seperti teringat sesuatu. Kemarin ia ingat betul kalau menguncinya. Tapi sekarang laci ini tak terkunci.
Nyonya Sanio terdiam sejenak. Ya, usia tua membuat ia pikun dan gampang lupa mungkin.
Sayang sekali foto ultrasonografi kandungan yang ditemukan di saku jas Dario itu tak bisa ditemukannya lagi.
Ia begitu yakin dokter Anna yang mengambilnya. Ia jadi tak bukti untuk mendesak Dario.
Tapi ia punya bukti hasil pemeriksaan itu. Dario putranya itu tak mandul atau ada masalah dengan kesuburan.
Dario bisa mendengar langkah Mamanya mendekat.
Wanita paruh baya itu duduk lalu meletakkan dokumen itu di meja.
Dario meliriknya. Ia sudah membaca isinya diam-diam tadi. Tapi Ia harus pura-pura tidak tahu.
"Bacalah," kata Nyonya Sanio.
"Apa isinya?" tanya Dario.
"Isinya surat hasil pemeriksaan yang asli. Yang selama ini kita lihat itu sudah disabotase hasilnya dan ditukar Celia. Kamu baik-baik saja dan tidak mandul," kata Nyonya Sanio.
Dario tertawa kecil dan meraih map itu. Ia berpura-pura membacanya dengan tak tertarik.
"Saya sudah bilang, kan. Saya tidak mandul, Ma. Saya melakukan pemeriksaan diam-diam di tempat praktik Anna Tomya. Saya yakin dia kompeten dan salah satu dokter terbaik. Saya tahu Celia membohongi saja sejak lama. Tapi Mama tidak percaya, kan?" Dario kini merasa di atas angin.
"Ya, Mama memang dulu lebih mempercayai menantu Mama. Karena dia selalu bersikap manis. Mana Mama tahu kalau dia pembohong."
Dario diam saja. Ya, ia akui kehadiran Celia di keluarga itu membuat Mamanya tak sepi lagi. Ia ingin anak perempuan sejak dulu.
Celia memang manis awalnya. Ia berusaha mencintainya walaupun mereka dijodohkan. Tapi apa yang ia terima? Celia memperdaya keluarganya dan menipu. Ia bahkan juga diselingkuhi.
"Kalau kamu bisa punya anak, berarti foto ultrasonografi kandungan yang ada di saku jas jamu itu anakmu?" tanya Nyonya Sanio tiba-tiba dengan nada tajam dan dingin.
Dario seperti tersambar petir. Tak ia sangka pertanyaan itu akan begitu menohoknya.
Ia tahu karena dokter Anna Tomya sudah memberitahunya kemarin. Tapi mengapa Mama seperti yakin dan menanyainya dengan nada setajam ini.
"Foto apa?" Dario berusaha cuek.
"Jangan pura-pura tidak tahu ya. Mama tidak bodoh. Kamu punya simpanan?" tanya Nyonya Sanio.
"Simpanan apa?" Dario berusaha mengelak.
"Dokter Anna bilang kamu membawa seorang gadis untuk periksa kandungan. Siapa dia?" Nyonya Sanio menatap putranya itu dengan tatapan tajam.
Dario menunduk dan mencoba melihat ke arah lain. Ia gelisah.
Apa yang harus dikatakannya? Apa ia harus berbohong dan mengarang cerita?
Apa ia harus bilang kalau itu bayinya dengan Julie? Tapi ia sudah menandatangani perjanjian dengan Julie kalau ia tak akan memberitahukan soal ini dan pernikahannya.
Tapi Julie kini juga menghilang darinya.
"Jawab Mama Dario. Bayi siapa itu?" tanya wanita itu sekali lagi.
Dario mengusap-usap pahanya dengan kedua tangannya. Ia menjadi gelisah dan tak bisa berpikir.
"Mmm...itu bayi..."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Hari Minggu mau upload berapa nih?...
...Besok Senin. Jangan lupa vote novel ini ya biar makin semangat lanjut terus. Yuk, tinggalkan jejak.😍...