
Jangan lupa vote dan favoritkan cerita ini.
Like, komentar dan beri gift juga boleh banget. Mau kritik dan saran juga pasti akan Author baca. Mau gemes dan kesel sama cerita ini silahkan tuangkan ke kolom komentar. Dipersilahkan. Author akan membaca untuk perbaikan selanjutnya.😍🙏
...----------------...
...----------------...
Athena balas memandang Dario. Ia amat gugup tapi berusaha mengendalikannya.
"Ya, aku salah bicara. Aku pernah tinggal di Amberstone sebelum pindah ke Green Valley." Athena beralasan.
Dario diam saja. Ia yakin Athena berbohong.
"Tapi anak buahku bilang daftar namamu tak ada di sana." Dario masih berusaha mengejarnya.
"Ya, mungkin saja memang tak dicatat. Aku diantar Bibiku ke sana. Orangtuaku korban kebakaran di Amberstone. Panti asuhan itu tak cukup menampungku dan aku dipindah ke Green Valley," kata Athena.
Ya, fakta itu memang benar. Athena tak berbohong. Terlihat dari wajahnya yang bersungguh-sungguh.
Dario nampak berubah pikiran dan mempercayainya. Tak mungkin Athena mengarang cerita hidupnya sampai membawa-bawa orang tuanya hanya untuk menutupi kebohongannya.
"Aku hanya panik waktu itu. Jadi aku salah menjawab. Aku dan Julie bertemu di Valley. Bukan di Amberstone." Athena menambahkan.
Dario terdiam. Ia mendongak menatap pohon yang daunnya berubah warna menjadi oranye itu.
"Lalu ada perkembangan apa sekarang. Adakah yang tahu keberadaan Julie?" tanya Dario. Nadanya berubah pelan.
Julie yang mendengar percakapan ini lewat telepon jadi tegang lagi.
"Entahlah. Ia menghilang begitu saja dan ponselnya ternyata ditinggal. Kau kan yang membawanya?" tanya Athena untuk mengalihkan perhatian.
"Ya. Dia meninggalkannya di Valex. Dia menghilang di Valex. Aku mencari di setiap perhentian kereta. Setiap rumah asuh di kota anak buahku kunjungi. Julie tidak ada. Kau tak lihat betapa putus asanya aku?" Dario tersenyum tipis.
Julie yang mendengar kata-kata Dario itu merasa terenyuh.
Ternyata Dario masih berusaha mencarinya.
"Apa yang membuat dia kabur?" tanya Athena. Sesungguhnya ia juga penasaran. Julie tak pernah mau bercerita. Ia juga tak memaksanya. Ia hanya ingin Julie baik-baik saja.
"Entahlah. Dia memaksa menemaniku untuk ke Valex. Ada sesuatu yang harus kuselidiki mengenai kematian Papaku. Julie membantuku, lalu saat aku lengah dia kabur."
Athena terdiam menyimaknya. Matahari kian naik. Angin membuat karpet-karpet yang dijemur di tali-tali panjang itu menjadi bergoyang-goyang.
"Aku menemui pengurus Rumah Asuh tempat kalian dulu tinggal. Miss Allie memberitahu kalau Julie memang sempat mampir. Tapi dia pergi lagi entah kemana tanpa meninggalkan kontak dan alamat. Itu membuatku frustasi " Dario berkata dengan nada lemah.
Athena melirik ke arahnya dan ke handphonenya bergantian. Apakah Julie masih mendengar percakapan ini?
"Bukankah kau senang karena Julie pergi? Kau bisa lepas dari tanggung jawab dan melanjutkan hidupmu. Anggap saja Julie sudah tak menginginkanmu lagi," kata Athena.
"Dario, kau menangis?" seru Athena.
Julie yang kini mendengarnya sambil duduk di tepi jendela itu ikut menitikkan air matanya.
Dario meangisinya?
Julie melihat angsa-angsa yang berenang di tepi danau dengan mata berkaca-kaca. Terlihat pemandangan indah dari balik jendela kamarnya itu.
Sekumpulan angsa berenang bersama indukannya. Ah, apakah angsa besar yang satunya itu ayah angsa?
Julie lalu mengelus perutnya. Apakah bisa ia dan anaknya seperti sekumpulan angsa itu?
Tentunya menyenangkan sekali kan punya keluarga yang utuh. Tak seperti dirinya yang sebatang kara sejak kecil.
Kalau Dario ada di sampingnya, tentunya anak-anaknya bisa memiliki orangtua yang lengkap.
"Aku tidak apa-apa, Athena. Hanya saja memikirkan bagaimana anak-anakku nanti. Aku yakin Julie akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Tapi tak bisakah ia melibatkanku? Aku juga ayah kandungnya. Aku bisa terima kalau Julie tak menganggapku suami. Yang penting aku mencintainya dan selalu ada untuknya. Tapi aku hanya ingin anak-anakku juga mencintaiku dan menganggapku sebagai Ayah," kata Dario sambil sesekali kata-katanya tersendat.
Julie menahan isak tangisnya mendengar kata-kata Dario.
"Kau mencintainya? Maksudku kau mencintai Julie sungguhan?" tanya Athena.
"Ya, tentu saja. Dia gadis yang manis. Aku masih punya istri saat ia menjadi sekretarisku. Tentu aku tak bermain api dengannya. Aku tak menyelingkuhi istriku sebanyak apapun gadis-gadis merayuku. Aku juga tahu diri soal Julie. Ia begitu muda dan cerdas. Tentu saja ia profesional. Tapi sekarang aku sudah resmi bercerai. Istriku selingkuh." Dario mulai menemukan kembali kestabilan kata-katanya.
"Athena, Julie mengandung bayiku. Aku bukan hanya sekedar bertanggung jawab. Aku juga mencintai Julie sepenuh hatiku. Aku serius. Kau tak lihat bagaimana putus asanya aku mencarinya?" Dario berkata sungguh-sungguh.
Air mata Julie tumpah tak tertahankan lagi. Dario sungguhan mencintainya?
"Aku tidak berharap bisa membangun keluarga bahagia seperti idamanku, Athena. Karena itu tidak mungkin. Julie melarangku mempublikasikan hubungan ini ataupun kehamilannya. Dan aku memahaminya. Aku hanya ingin Julie dan anak-anak di dekatku. Kalaupun ia berpindah kota, tak apa. Yang penting aku diizinkan bertemu."
Athena terdiam. Tak disangkanya obrolan ini akan menjadi sejauh ini.
Athena berharap Julie mendengarnya.
"Aku akan segera memberitahumu kalau aku menemukan Julie atau tahu kabarnya," kata Athena.
Julie tak tahan lagi. Ia menutup panggilan telepon itu dan memebenamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya.
Ia menangis sejadi-jadinya.
Ya, ia memang harus kembali kepada Dario. Dario menginginkannya.
Bibi Elly yang mendengar suara tangis itu mengetuk kamar Julie dan membukanya. Ia begitu khawatir kalau sampai terjadi sesuatu.
"Julie," seru Bibi Elly dengan terkejut.
Dilihatnya Julie terkapar di lantai. Bibi Elly tampak histeris.