
Shan berlari mengikuti Dario dengan cemas.
"Shan, tak perlu ikut. Julie pulang di apartemen. Aku sangat yakin. Kau naik saja ke atas lagi. Bilang pada Grace kalau akan ada urusan mendadak. Tunda rapat direksi," kata Dario cepat-cepat.
"Anda yakin? Darimana anda tahu kalau itu Julie?" tanya Shan ragu. Ia tentu khawatir atas keselamatan bossnya itu.
"Aku yakin, Shan. Dia mengirimi pesan dengan nomor baru. Itu Julie," kata Dario sambil menahan senyum. Ia sangat berharap.
Shan diam saja emlihat bossnya seperti hilang akal. Dario lalu berlalu pergi begitu saja.
Ia berlari menuju mobilnya dengan bergegas. Debaran di dadanya yang bertalu-talu seperti genderang itu membuat adrenalinnya memuncak.
Julie akan kembali. Istrinya pulang. Setelah putus asa mencari, akhirnya ia pulang dengan sendirinya.
Ah, apakah ini bukan tipuan? Ia tak peduli. Ia begitu yakin dengan kata hatinya.
Dario lupa membawa kunci mobil cadangan. Biasanya ia akan menyamar dengan mobil lain kalau ke apartemen Julie. Tapi ia tak peduli lagi.
Ia mengendarai mobilnya itu dengan cepat. Seolah seluruh waktu terhenti dan hanya ada dia yang berlari cepat.
***
Julie naik ke apartemen itu. Roy sang penjaga melihatnya dengan terkejut.
Ia buru-buru meraih teleponnya.
"Tak perlu menelpon siapapun. Dario menuju kemari. Aku sudah memberitahukannya sendiri," kata Julie sambil tersenyum.
Athena mengantar Julie masuk.
Nyonya Emily-kepala pelayan itu menyambutnya dengan haru. Begitu pula pelayan yang lain.
"Nona, saya Begitu khawatir sampai-sampai tak bisa tidur saat malam hari," kata Bibi Emily yang berhati keibuan itu.
Julie memeluknya. Selama ini perempuan setengah baya itu melayaninya dengan teramat baik.
"Ah, maafkan aku. Mulai sekarang aku tak akan kemana-mana lagi. Maaf telah membuat kalian khawatir," kata Julie.
Athena yang berdiri menyaksikkan itu semua hanya berdecak kesal saja.
"Dengarkan, kau dilayani seperti ratu di tempat ini. Bibi, jangan biarkan anak ini lari lagi. Aku akan memukul kepalanya dengan sendok nasi. Aku tidak akan membantumu lagi lain kali, Julls. Dario akan mencekikku kalau tahu aku membohonginya," kata Athena dengan jenaka.
Julie hanya tertawa saja. Ah, Athena tak tahu saja alasannya kabur. Kehamilannya begitu ia cemaskan. Bayi ini butuh tempat yang aman. Kemarin-kemarin ia merasa tempat ini tak membuatnya aman.
"Ah, sebaiknya aku pulang. Jangan sampai Dario melihat batang hidungku. Hei, jangan lupa beritahu smeua agar tutup mulut kalau aku ke sini," seru Athena sambil mengambil tasnya.
"Tempat ini dilengkapi CCTV," kata Nyonya Emily.
Anthena mengerang kesal. Julie hanya tertawa.
"Tenanglah, aku akan membuatnya melupakan CCTV. Pulanglah. Terimakasih banyak kau sudah banyak kurepotakn," kata Julie sambil memeluknya.
Athena berlalu pergi menuruni lift.
***
Julie membuka pintu kamar mewah itu. Masih wangi, bersih dan rapi seperti sedia kala.
Nyonya Emily mengikutinya dari belakang. Berjaga kalau-kalau Julie butuh bantuan atau sesuatu yang lain.
Pandangan Julie terarah pada gaun tidurnya yang ia tergeletak di ranjang lebar itu.
"Bibi, mengapa bajuku di situ?" tanya Julie dengan heran.
Nyonya Emily tersenyum dengan canggung.
Hati Julie merasa berdesir mendengar soal itu. Ah, Dario begitu merindukannya sampai seperti itu?
Julie menahan air matanya. Ia meminta Bibi Emily menyiapkan jus buah. Ia ingin meminum vitamin dari dokter Anna. Biasanya jus buah akan membuatnya tak merasa mual.
Bibi Emily undur diri dan menutup pintu kamar itu kembali dengan pelan.
Julie meletakkan tasnya di ranjang. Tas biasa saja tapi berisi hal penting untuknya. Bukti pernikahan, perjanjian pernikahan dan hasil tes DNA bayinya ada di situ semua. Ia membawanya kemana.
Ia lalu membuka lemarinya. Dario memenuhi lemarinya itu dengan semua pakaian mahal dan cantik. Ia memlihi gaun santai yang belum pernah dipakainya. Sekarang perutnya makin membesar. Gaun itu sepertinya cocok.
Ia bersiap untuk mandi. Pasti Dario sedang menuju kemari. Pemeriksaan di rumah sakit seharian ini membuatnya lelah dan merasa badannya kotor.
***
Athena melihat sebuah mobil datang di basement, ia menduga itu Dario.
Merasa agak panik, ia bersembunyi di balik tiang besar basement itu.
Ya, dugaannya. Dario membuka pintu mobilnya dengan tergesa. Ia lalu lari menuju pintu lift.
Athena bahkan terlihat saat Dario lewat di sampingnya tapi karena begitu tergesa dan antusias, Dario tak melihat keberadaannya.
Ia hanya berlari saja menyusuri koridor menuju lift. Ia menuju lift khusus yang menuju ke lantai tujuh tempat apartemen eksklusif dan mewahnya itu berada.
Begitu pintu lift terbuka, wajah Roy yang pertama ia lihat.
"Roy, Julie pulang?" tanyanya dengan cepat.
"Ya, Pak. Nona Julie pulang," kata Roy sambil tersenyum.
Dario menepuk punggung anak buahnya itu dengan keras karena kesenangan. Ia lalu berlari masuk.
"Nona Julie sedang mandi," kata Bibi Emily begitu Dario sampai di depan pintu kamar Julie.
Dario sepertinya tak peduli. Ia langsung masuk saja.
Benar, Julie tak ada. Ia lalu membuka pintu kamar mandi mewah itu dengan tak sabar.
Cklik!
Pintu terbuka. Dario dengan nafas tersneggal-senggal melihat Julie di depannya.
Julie yang secantik biasanya berdiri dengan rambut basahnya.
Ia menatap Dario dengan mata teduhnya.
Wajah yang ia rindukan itu kini berada di depannya.
Dario menatapnya dengan wajah tak percaya. Dia langsung masuk begitu saja dan memeluk istrinya itu.
"Dario, biarkan aku berganti baju dulu, okay?" kata Julie di sela-sela pelukan itu.
Tapi Dario tak peduli. Ia terus memeluk istrinya itu erat-erat. Seolah ia akan menghilang kalau melepaskan wanita itu dari pelukannya.
......................
......................
Dear readers. Tayang lebih pagi hari ini. Tinggalkan jejak dan jangan lupa komentar, vote, favorit, like. Jangan sungkan untuk mengingatkan typo ya. Akan diedit kalau masih ada yang lolos.
Author tahu banyak yang kesel karena Julie kabur mulu. Sekarang udah ketemu, eps selanjutnya mau bahas mereka dulu. Yg lain minggir.
Jadi maunya gimana nih?