Mama'S Twin

Mama'S Twin
Perjalanan Menuju Cafe



Dario dan Shan sedang berada di mobil. Pagi itu mereka ingin menemui William Topper.


Sebuah tempat sudah diatur. Mereka akan menguping apa saja yang akan dibicarakan dua pria Topper dan Frans Adams.


Keadaan kantor terkendali, Nyonya Sanio tenang saja menikmati hoby golfnya, Celia Adams sudahlah Dario penculikan lagi. Lalu Julie dan si kembar, mereka hidup dengan nyaman si apartemen mereka yang aman dan tenang.


Sempurna!


Tak ada kata lain yang bisa menggambarkan keadaanya saat ini selain kata itu.


Seolah kalau ini merupakan sebuah cerita novel, maka akan berakhir dengan happy ending.


Namun apakah benar demikian?


Tidak!


Dario yang terkadang naif itu belum tahu kalau ada banyak tabir yang tersembunyi dan belum terbuka. Ia hanyalah anak malang yang mengira kalau Nyonya Sanio itu adalah ibunya, padahal bukan.


"Pak, sebenarnya ada yang ingin kukatakan," kata Shan sambil menyetir.


Dario memalingkan wajah dan menatapnya. "Ada apa?"


Shan menghela nafas panjang. Ia tak ingin merusak momen-momen bahagia ini tapi mau bagaimana lagi, berita buruk tetaplah berita.


"Sewaktu Nyonya Sanio pulang dari Valex, dia mendatangi rumahku dan bertemu Vanesha." Shan memulai ceritanya.


Alis Dhito langsung tertarik ke tengah. Ia pikir ia salah dengar.


"Ya, dia menyebut-nyebut soal Valex dan menyangka kalau Vanesha waktu itu datang ke rumah lama di Valex bersamaku. Dia mengira hal itu karena mungkin di Valex dia mendengar atau menemukan sesuatu yang mengarah pada Julie dan perempuan yang sedang hamil."


Kata-kata Shan berlanjut. Ia yakin tak salah dengar kali ini. Shan serius.


"Lalu?"


"Vanesha ketakutan. Dan dia baru berani bilang pada saya sekarang. Kupikir Nyonya Sanio sudah makin mencurigai anda. Anda harus lebih berhati-hati, Pak. Apalagi sekarang anda sudah tinggal besama di apartemen itu. Sebaiknya anda mengganti kode masuk apartemen anda." Togar menyarankan.


Dario mengangguk. Ia merenung lagi sambil melihat jalanan yang lurus di depannya itu.


***


Di rumahnya di pinggiran Sureshh itu, Frans Adams sedang memakai topi koboynya.


Maria Adams menatapnya dengan kesal. Ia harus menjadi sopirnya kemana-mana karena sekarang keluarga mereka tak mampu membayar sopir lagi.


"Cepatlah, aku bahkan harus meninggalkan Celia sendirian di rumah sakit untuk mengantarmu." Nyonya Maria mulai makin kesal lagi.


Frans Adams memutar kursi rodanya menghadap istrinya itu. Ia juga kesal karena teriakan itu.


"Untuk apa ke rumah sakit? Anak itu biar saja ditangani dokter. Nanti juga sembuh sendiri atau mungkin tak tertolong sepenuhnya dan menjadi gula sungguhan." Frans berkata dengan entengnya.


Nyonya Maria ingin melempar gelas ke muka suaminya itu saling jengkelnya. "Jaga mulutmu ya. Celia juga anakmu. Setidaknya pikirkanlah dia. Lagipula, kau hanya memikirkan brankas itu terus-menerus."


"Menurutmu aku memikirkan brankas itu untuk apa? Untuk siapa? Untuk kita agar kehidupan kita membaik lagi. Apa kau tak ingin kaya lagi?" Taun Frans mengumpat kesal.


Nyonya Maria enggan berdebat. Ia langsung saja meraih kunci mobil dan mendorong kursi roda itu keluar kamar.


Ia mendorong Frans Adams yang tampak menggerutu dengan rasa jengkel yang tertahan.


Disetirinya mobil itu menuju tempat yang telah disebutkan oleh suaminya itu.


Sebuah cafe tua dengan ornamen kayu dan berlampu temaram mendominasi bangungan itu. Namun suasana tampak sepi.


Dilihatnya William Topper dan Travis Topper sudah duduk dan menunggu di meja.


Frans Adams melambaikan tangannya dan meminta agar Maria Adams mendorongnya lebih cepat.


Maria menggerutu namun masih tetap melakukannya. Ianmenutuyti perintah suaminya yang banyak cakap itu.


***


Sedangkan di balik tembok, dua orang pria yang tampaknya sedang asyik menikmati hidangan itu memasang telinga untuk menguping.