
...----------------...
Hallo guys, ini bonus up untuk menemani malam minggu kalian. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.😘
Like, comen, favorit dan review atau hadiah sangat boleh sekali.😍
Jadi besok upload 1 atau 2 episode nih untuk menemani minggu kalian?
Komen di bawah ya.⏬
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
...----------------...
...----------------...
"Ya, Dario?" jawab dokter Anna.
Ia menepikan mobilnya di sisi jalan yang sepi itu. Di depannya danau berwarna hijau itu berkilat-kilat ditempa matahari kota Suresh. Musim panas sepertinya sudah datang.
"Ann, Julie menghilang. Ponselnya sengaja ditinggalkan. Kita sedang di Valex, di rumah lama Papaku. Aku sedang berusaha mencarinya dengan mengerahkan orang-orangku. Semuanya baik-baik saja kan, Ann?" tanya Dario dengan nada cemas.
Dokter Anna menatap pepohonan di depannya yang tertiup angin musim panas. Ia menggigit bibirnya dengan gugup. Bagaimana ia akan bilang pada Dario soal ini.
"Dario, aku minta maaf," katanya cepat. Ia tak bisa menyembunyikan hal ini atau membohonginya. Bagaimanapun Dario sudah percaya padanya.
"Maaf apa? Ann, jangan bilang kamu membocorkan rahasiaku pada Mama?" Nada Dario terdengar meninggi karena panik.
Pria itu nampak frustasi. Di rumah tuanya di Valex, ia meninju kusen jendela itu. Pikirannya teramat kacau.
"Anna, jawab aku," kata Dario sekali lagi dengan nada tegas dan dingin.
"Maaf. Aku tidak punya pilihan. Nyonya Sanio mengancamku. Dario, mengertilah soal posisiku," kata dokter Anna. Ia tak kalah frustasi.
"Sialan." Dario mengumpat pelan. Ia kini duduk di ranjang Julie yang telah kosong itu.
"Aku bilang soal kamu yang sebenarnya tidak mandul. Soal Julie, aku masih bisa merahasiakannya. Seharusnya kamu yang lebih berhati-hati lagi, Dario. Nyonya Sanio datang dengan membawa foto ultrasonografi bayimu. Dia bilang dia menemukannya di jas milikmu," kata dokter Anna. Ia berusaha membela dirinya.
"Apa? Foto itu? Mama membawanya padamu?" Dario nampak terkejut. Ia seperti tersambar petir. Diam mematung dan pucat pasi.
"Pikirkanlah baik-baik Dario. Kalau kamu jadi aku, apa yang bisa kamu lakukan? Aku sudah berusaha menutup-nutupi hal itu. Ada namaku di kertas itu sebagai Dokter pemeriksa. Untung saja aku tidak memasukkan nama Julie. Aku cuma bilang itu saja. Kubilang aku tak tahu menahu soal perempuan yang kamu bawa." Dokter Anna kini menjelaskan alasannya.
"Maaf, Ann. Aku sering memandangi foto itu. Aku lupa menyimpannya kembali. Memang salahku," kata Dario.
Telepon ditutup. Dokter Anna mengeluarkan foto yang ia ambil dari meja tadi. Untung saja dia cepat mengambilnya dan membawanya pergi.
Rupanya Nyonya Sanio tersulut emosi karena ia terus mengelak. Sampai-sampai ia melupakan kalau fotonya tertinggal.
Dokter Anna menyobek kertas itu menjadi kecil-kecil dan tak terbaca lagi. Ia lalu membuka jendela mobilnya dan meniup kertas-kertas itu keluar.
Foto kandungan bayi kembar itu berhamburan terbawa angin musim panas kota Suresh.
***
Nyonya Sanio meminta sopirnya untuk kembali ke restoran hotel. Foto bukti yang ia temukan di saku jas Dario rupanya tertinggal. Ia menyadarinya saat sudah berada di mobil mewahnya itu.
Nyonya Sanio kembali mengecek tasnya. Sial, tidak ada.
Ia segera meraih ponselnya. Ia harus menelpon dokter Anna lagi untuk memastikan.
"Hallo, dokter. Foto yang saya temukan di tas Dario sepertinya tertinggal. Apakah kamu menyimpannya?" tanyanya dengan nada tegas dan setengah mengancam.
"Saya tidak menyimpan apapun. Mungkin Nyonya lupa. Maaf, saya harus mematikan teleponnya. Saya sedang menyetir," kata dokter Anna lalu mematikan kembali ponslenya.
Sebenarnya ia belum menyetir. Pikirannya terbang berhamburan ke udara. Ia telah membongkar satu rahasia Dario yang disimpannya. Ia merasa hari ini sangatlah sial.
Lalu ia teringat kata-kata Nyonya Sanio. Suaminya-Vallen Wilson ternyata selama ini menyalahgunakan jabatannya di pemerintahan. Ia merasa lebih malu dan marah lagi.
***
Shan masih dalam perjalanan menjemput Detektif Andrew. Dario menunggu dengan tidak sabar. Matanya tampak memerah.
Julie kabur darinya lagi. Tapi kali ini tak terlacak. Kemana ia akan mencari Julie?
Orang-orangnya di Suresh sudah ia kerahkan untuk mencari Julie.
Apartemen lama itu sudah dihuni orang lain.
Apartemen mewah yang Dario berikan pada Julie juga kosong. Pegawai dan pelayan itu tak melihat Julie kembali.
Satu-satunya yang bisa ia selidiki adalah Athena. Orang-orangnya sudah mengintai di Rumah Asuh. Namun, tidak ada pergerakan apa-apa.
Athena beraktifitas seperti biasa, tak ada yang mencurigakan. Dario tidak punya petunjuk apapun. Ia merasa makin frustasi.
***
Sementara itu Nyonya Sanio tampak kesal. Celia tak ada di rumah. Entahlah dia juga tak bisa mencari Dario yang pergi dari rumah. Lapor polisi hanya akan membuat orang bertanya-tanya. Ada masalah apa di keluarga itu? Mereka mengambil langkah hati-hati.
Fasilitas Celia kembali. Ia tinggal di rumah megah itu lagi dan bebas menggunakan semua kartu dan uang Dario.
Nyonya Sanio ingin berbelanja untuk menghilangkan stressnya. Sebuah butik mahal menjadi tujuannya kali ini. Ia pelanggan VVIP dan sudah mendapatkan akses prioritas
Di perjalanan itu, ia melihat Celia sedang menggandeng tangan Ludwig dan memasuki sebuah hotel mewah. Nyonya Sanio yang sebelumnya sudah meyakini bahwa hubungan mereka berteman saja merasa curiga.
Ia meminta sopirnya memutar arah mobil dan mengikuti Celia.
Wanita yang bodoh, Celia mana tahu hotel itu salah satu aset Axton.
Nyonya Sanio dengan sahamya dan kuasanya, mudah saja mengambil kunci kamar tempat Celia dan Ludwig masuk. Bahkan petugas hotel mengantarkannya.
Nyonya Sanio kini mulai mencurigai menantunya itu. Dario semarah dan seyakin itu kalau Celia berselingkuh. Tapi dulu ia tak percaya karena Ludwig sendiri mengaku padanya kalau ia sudah punya kekasih.
Pintu itu berhasil dibuka dengan kartu. Nyonya Sanio menyelonong masuk.
Pemandangan menjijikkan dan gila itu terpampang di hadapan matanya.
Celia sedang asyik bercumbu dengan Ludwig.
Dasar, perempuan tak tahu diuntung.