Mama'S Twin

Mama'S Twin
Sisa-Sisa Semalam



Julie duduk di depan meja riasnya dengan cermin besar itu.


Dirabanya lehernya yang jenjang itu. Bulu kuduknya berdiri lagi. Bekas sentuhan Dario dan jamahan bibirnya semalaman.


Ia pikir ia tak akan pernah merasakan apa itu kebahagiaan dari sepasang kekasih yang memadu cinta. Peristiwa menegangkan dengan Dario dulu itu membuatnya begitu trauma.


Tapi Dario kini sudah teramat berbeda di matanya. Ia kini merasa seperti mereka betulan pasangan kekasih yang telah jatuh cinta. Ia menikmati semua hal manis yang semalam ia rasakan.


Julie meraba bibir tipisnya itu. Setelah malam panas yang membuatnya melayang-layang, kini pikirannya kembali membumi.


Pagi-pagi sekali Dario bergegas mandi dan berpakaian lalu kembali ke kantor. Shan menelponnya pagi itu karena Nyonya Sanio mendadak mengunjungi kantor Axton dan mencari Dario.


Dario memberikan handphonenya dan tak ingin diganggu. Ia tak pulang ke rumah semalaman.


Nyonya Sanio mengira anak itu kabur lagi karena tak pulang dan tak bisa dihubungi.


Dikecupnya Julie yang masih terbaring tidur itu lalu ia bergegas pergi.


Julie terbangun dan Dario menjelaskan secara singkat mengapa ia harus bergegas ke kantor. Sampailah ia terduduk di sini sambil melamunkan apa yang terjadi semalaman.


***


"Nona, Julie. Saya sudah siapkan sarapan," kata Bibi Emily di balik pintu.


"Iya, saya mandi sebentar," kata Julie lalu beranjak dari kursi meja riasnya itu.


Ia mengambil handuk dan membuka gaun tidurnya.


Diamatinya perutnya yang telah membuncit itu. Julie merabanya. Lalu tangan itu naik ke dada dan pundaknya.


Julie melihat lebih dekat ke kaca besar di kamar mandi itu.


Banyak sekali jejak merah di kulitnya. Ia memejamkan mata. Mengingat bagaimana semua jejak itu tercipta.


Dario melakukannya dengan lembut. Ia selalu menatapnya seakan minta persetujuan. Julie tak mengatakan apapun. Ia hanya pasrah dan tak melawan. Hasratnya ikut bergejolak. Jadi begitulah yang orang-orang sebut sebagai surga dunia?


Ternyata memang benar surga.


***


Dario menyetir sendiri. Shan menunggu di kantor sambil mengendalikan Nyonya Sanio yang terus-menerus menuduh semua orang membohonginya dan menyembunyikan Dario.


Memang tak ada seorangpun yang tahu kemana Dario pergi. Hanya Shan satu-satunya yang tahu kalau Dario di apartemen Julie.


"Tidak mungkin kau tak tahu. Kamu selalu mengikutinya kemana-mana," Kata Nyonya Sanio sambil berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk Shan.


Shan yang gagah berani dan berbadan tegap itu seperti kehilangan wibawanya di depan Nyonya Besar ini. Ia hanya menunduk ke bawah.


Jangan sampai ia geram dan membuka mulut. Apapun akan ia tanggung asal rahasia Bossnya tetap aman.


"Saya pulang ke rumah lebih awal, Nyonya. Istri saya yang sedang hamil minta ditemani untuk cek kandungan ke dokter. Pak Dario meminta saya pulang lebih awal." Shan mencoba berbohong.


Menyebut-nyebut kata hamil, Nyonya Sanio terdiam.


Ia teringat foto ultrasonografi yang ditemukan di jas Dario dan disalahpahaminya itu. Ya, Shan memang tak berbohong.


"Lalu kemana dia?" tanya Nyonya Sanio. Nada bicaranya menurun, tak semelengking tadi.


Shan yang berdiri di dekat pintu mendengar suara langkah mendekat. Ia langsung menoleh. Dibukanya pintu itu.


Dario masuk ke ruangannya dengan santai.


"Terimakasih, Shan," katanya santai lalu menuju mejanya.


Nyonya Sanio melihat ke arahanya dengan wajah siap marah.


"Oh, hai Ma," kata Dario dengan cuek.


"Kemana saja kamu? Mau kabur lagi dan tidak pulang ke rumah?" tanya Nyonya Sanio tanpa basa-basi.


Dari perjalanan dari apartemen Julie menuju kantor, ia sudah bersiap mengarang cerita.


Soal apartemen Xavier, memang benar adanya. Apartemen itu ditawarkan kepada Dario. Letaknya dua lantai di atas apartemen Julie.


Satu unit apartemen tak terlalu besar di lantai nomor sembilan. Ia berniat membelinya sebagai alibi kalau menginap di tempat Julie.


"Siapa Xavier?" Nyonya Sanio bertanya menyelidik.


"Kawan kuliahku di LA. Tanya saja padanya. Dia anak menteri luar negeri. Mama pasti kenal papanya. Aku berniat membeli apartemennya agar aku tidak perlu pulang jauh-jauh ke rumah Mama kalau bekerja terlalu larut," kata Dario.


Nyonya Sanio terdiam. Ya, jarak antara kantor dan rumah megahnya memang agak jauh.


"Baik, beli saja. Tapi serahkan satu kunci cadangan untuk Mama. Agar Mama bisa menyeretmu pulang kalau kau berbohong," kata Nyonya Sanio lalu beranjak ingin pergi.


Dario mengangkat kedua tangannya tanda setuju. Tak masalah. Malah bagus karena Mamanya percaya.


Nyonya Sanio baru beberapa langkah hendak menuju pintu lalu ia berhenti dan menoleh ke belakang.


"Ah, satu lagi yang penting untukmu Dario. Berita perceraian akan segera dirilis. Jangan berkata bodoh dan memicu gosip di depan wartawan," kata Nyonya Sanio.


Dario mengangguk saja. Ini tentu saja mudah.


Setelah Nyonya Sanio pergi, dilihatnya setumpuk berkas di meja kerjanya.


"Apa ini, Shan?" tanya Dario.


Shan tersenyum kecil. "Grace mengantarnya pagi tadi. Pekerjaan Anda kemarin yang tertunda karena menemui Nona Julie dan juga setumpuk lagi adalah daftar pekerjaan yang perlu diperiksa hari ini," jawab Shan.


Dario terperangah dan mengeluh. Ia meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ah, banyak sekali. Bagimana aku bisa pulang cepat," kata Dario dengan kesal.


"Anda ingin pulang cepat?" Shan nampak terheran.


Dario dulu suka berlama-lama di kantor dan lembur karena menghindari istrinya yang suka menuntut. Atau seringnya menghindari pesta dan acara sosialita kelas atas yang sering diadakan ibunya dan istrinya itu.


"Ya, aku tidak sabar untuk bertemu kembali dengan istriku. Ah, baru saja aku pergi. Belum ada satu jam. Tapi aku sudah rindu ingin pulang," kata Dario mengeluh seperti anak kecil.


Shan menahan tawanya. Tentu saja Dario kini sudah berubah. Istrinya saja sudah berubah orang. Bukan Celia lagi melainkan Julie.


***


Julie selesai sarapan dan bersantai. Ia duduk sambil berjemur di balkon apartemen yang terpapar sinar matahari langsung.


Dipakainya kacamata hitam dan ia asyik menggulirkan layar ponselnya itu ke atas dan ke bawah.


Ada berita apa di dunia maya dan dunia nyata. Ia melihatnya melalui sosial medianya.


Saat sedang asyik stalking, sebuah notifikasi pesan masuk ke handphonenya.


Ia membukanya dengan penasaran. Ia menggunakan akun instagram anonim untuk sekedar hiburan dan mengunggah beberapa foto. Tapi ia tak mengunggah foto wajahnya. Hanya pemandangan dan beberapa hal yang menarik baginya.


[[ "Hai Julls, ini Davin. Aku tahu ini kau hanya dengan melihat foto profilmu yang gambar bunga itu. Hanya Julie seorang yang suka bunga Lily.


Apa kabar Julls? Kau masih di Suresh?" ]]


Julie mengangkat kacamatanya saking kagetnya.


Davinno Shimmar adalah mantan kekasihnya. Untuk apa ia menghubunginya lagi?


......................


......................


......................


Yuhuu akhirnya lulus review editor setelah seharian nyangkut.😭😭😭 Senin nih ayok tunjukkan vote kalian di cerita ini ya kalau suka.😍😍🙏🙏🙏