Mama'S Twin

Mama'S Twin
Pernikahan




"Sudah kamu tandatangani?" tanya Dario. Ia sedang menelpon seseorang. Sepertinya Celia.


"Bagus. Kirimkan ke kantor. Uang cerai akan saya kirim setalah pengadilan memutuskan," kata Dario singkat sebelum ia menutup telepon.


Dario akan kembali masuk namun langkahnya dikejutkan oleh sebuah sosok.


Julie sudah berdiri di depan pintu. Ia melihat Dario sambil mengacungkan sebuah surat. Ya, surat perjanjian itu. Julie rupanya sudah mendengar percakapannya tadi.


Celia sudah menandatangani surat cerai. Dario cukup lega. Tak ia sangka Celia tak mengelak. Ia bisanya begitu licik. Kali ini mungkin ia sudah jera.


Dario tersenyum. Pemandangan sore yang sangat indah dari balkon apartemen itu. Senja di Kota Suresh yang hiruk-pikuk.


Diraihnya surat dari Julie. Ia hanya menambahkan beberapa poin saja. Dario mendatanginya dengan cepat.


Ya, pernikahan untuk status saja. Demi ia bisa mengakui anaknya. Tapi tidak untuk publik, tidak untuk diketahui Nyonya Sanio.


Julie tersenyum menerima surat itu kembali dan menyimpannya.


***


Dario menyetir ke kantor pagi itu. Ia menukar mobilnya. Shan sudah menunggu. Mereka berpakaian rapi. Setelan jas hitam dan dasi dengan warna senada. Ini hari yang penting.


Julie mematut diri di depan cermin kamar Athena. Cermin tinggi itu memantulkan bayangan wanita cantik dan anggun yang mengenakan gaun putih.


"Perfect," kata Anthena. Ia menjadi satu-satunya pendamping dan saksi dari pihak perempuan.


Dario mengetuk pintu kamar itu. Athena membukakan pintu.


"Pengantin sudah siap," katanya ceria.


Dario melihat Julie dari belakang. Cantik dan anggun. Rambut pirangnya tergerai sepinggang.


Julie menoleh ke arahnya. Ia tersenyum. Menikah bukanlah impiannya. Tapi memakai gaun seindah ini juga amat menyenangkan. Athena mendekatinya dan memasangkan veil di kepalanya. Sempurna.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Dario.


Julie mengangguk. Athena mengikutinya di belakang.


Bangunan Rumah Asuh yang megah dan klasik itu adalah sebuah kastil. Pohon mapel dan pohon tabebuya mengelilingi pekarangan bangunan itu.


Dua buah mobil terparkir di halamannya yang tertutup daun-daun yang rontok.


Mereka berangkat dengan dua mobil yang berbeda. Julie semobil dengan Athena. Athenalah yang menyetir mobil itu.


Dario semobil dengan Shan. Ia melihat jam tangannya berkali-kali dengan tegang. Dario tentu saja bilang pada Grace kalau Nyonya Sanio menelpon, bilang saja ia keluar kota sebentar untuk urusan kerja. Sepanjang hari itu ia ingin bebas. Ini hari pernikahannya.


Dario ingat pernikahan pertamanya dengan Celia. Megah, meriah tapi tanpa rasa, karena terpaksa. Tapi ia berbakti sebagai suami dan menantu yang baik selama 7 tahun ini. Kalau cinta, apa itu disebut cinta? Ia berusaha mencintai Celia. Tapi apa balasannya kini? Ia telah selingkuh. Kalau ditanya apakah dia sakit hati, ya tentu saja ia sangat sakit hati.


Dario berusaha membuka lembaran barunya. Ia ingin berfokus pada Axton dan Julie, serta bayi yang dikandungnya.


***


Athena dan Shan menandatangani dokumen itu sebagai saksi.


Pernikahan sekarang tercatat secara resmi. Thomas Dean secara langsung mendampingi Dario. Ia menepuk pundak sahabatnya itu. Tak banyak tanya, tak banyak tahu. Cukup janji antar laki-laki yang bisa dipercaya. Thomas berutang budi padanya. Dario yang royal membiayai kuliahnya selama di Frankfurt. Keluarga Thomas lenyap karena kebakaran. Ia menjadi yatim piatu dan yayasan hanya menanggung hidupnya sampai usia 18. Thomas teman SMA nya yang cerdas. Beasiswa saja tak cukup untuk menyambung hidup. Uang hanya cukup untuk membayar kuliah saja. Dario membantunya secara cuma-cuma tanpa sepengetahuan Mamanya. Uang sakunya tak terbatas. Mama memberinya banyak uang dan Dario tak suka hura-hura seperti anak orang kaya pada umumnya.


***


Pernikahan telah usai diurus.


Mereka kembali ke Rumah Asuh untuk mengganti gaun itu. Tak mungkin Julie kembali ke apartemen dengan gaun pengantin.


Dario menunggunya di bawah pohon tabebuya. Bunga-bunganya bermekaran. Angin berhembus menggoyang-goyangkan ranting pepohonan. Sepertinya sebentar lagi musim berganti.


Julie melangkah keluar dari pintu utama Rumah Asuh itu. Sepatunya bergemerisik menginjak daun-daun kering itu. Dario menyambutnya. Ia menepuk kursi kayu kosong di sebelahnya. Julie duduk.


"Ada keluhan soal kehamilan akhir-akhir ini?" tanyanya cemas.


Julie menggeleng. "Hanya mual. Dokter Anna bilang itu wajar saja," jawab Julie.


"Syukurlah. Kapan ada jadwal periksa lagi?" tanya Dario.


"Pekan depan."


"Biar aku antar."


Julie menatap Dario dengan tatapan kesal. Ya, mereka tak boleh terlalu sering terlihat berdua di rumah sakit. Itu ruang publik. Resiko ketahuan akan lebih besar. Dario dikenali banyak orang.


"Aku akan pergi bersama Anthena tentu saja," jawab Julie dengan ketus.


"Baik. Tapi aku akan datang diam-diam," kata Dario bersikeras.


"Tidak," kata Julie cepat.


"Julie, itu juga anakku. Aku berhak tahu keadaanya," kata Dario memaksa.


"Ya tapi tidak dengan pekan depan. Saya akan kasih tahu hasilnya kepada Bapak. Atau Bapak bisa tanya langsung pada dokter Anna," kata Julie.


Dario menghela nafas panjang. Ia memandang Julie dengan wajah minta dikasihani.


"Julie, jangan panggil saya Bapak lagi. Kamu isteri saya sekarang, bukan sekretaris saya lagi. Panggil Dario saja," katanya pelan.


Julie menatap anak-anak Rumah Asuh yang berlarian menangkap kupu-kupu. Ia menoleh ke arah Dario yang terlihat lemas. Ya, dia kasihan juga.


"Oke. Datang diam-diam dan hati-hati. Saya akan beritahu jamnya," kata Julie. Ia akhirnya luluh juga.


Dario memandangnya sambil tersenyum. Ya, Julie sudah lebih menerimanya sekarang ini.