Mama'S Twin

Mama'S Twin
Konferensi Pers



Dario memakai kacamata hitamnya. Pengawal sudah siap mengamankannya untuk sampai di lokasi konferensi pers.


Ia berjalan dan seperti tepat di dugaannya, wartawan menyerbunya tanpa ampun.


Pengawalnya yang berbadan besar dan tegap itu melindungi Dario dari keberingasan mereka yang haus gosip dan berita.


Dario tidak langsung duduk di meja yang telah dipersiapkan. Ia berjalan menuju ke belakang area, Mamanya sudah menunggu.


Di depan meja konferensi pers wartawan duduk dengan tenang. Mereka wartawan senior dari media besar.


Sedangkan yang di luar tadi adalah wartawan kelas teri yang mencari berita dan tak mendapat akses masuk ke depan.


Di kamar hotel VVIP itu, Nyonya Sanio sedang duduk sambil melihat layar televisi besar berisi berita Celia itu.


"Kemarilah," kata Nyonya Sanio begitu Dario datang memasuki ruangan mewah itu.


"Duduklah sini," katanya lagi.


Dario duduk di kursi sambil mengamati berita.


"Aku sudah menemukan pelakunya. Pelaku yang sengaja menyebar video dan foto panas itu ke internet," kata Dario.


"Siapa?" tanya Nyonya Sanio.


"Ludwig Cello,"kata Dario.


Nyonya Sanio menatap putranya tak percaya. Benarkah perkataannya itu?


"Mengapa dia melakukannya?" tanya Nyonya Sanio.


"Mungkin untuk menaikkan namanya. Tapi ya baguslah. Nama kita bersih," kata Dario.


Nyonya Sanio menggeleng.


"Tidak juga. Masyarakat menuduh kita membongkar aib Celia Adams. Mama tidak ingin nama Axton jadi kotor. Kita keluarga berkelas. Tidak pantas mengumbar aib mantan menantu seperti ini," kata Nyonya Sanio.


"Tentu saja pantas. Jangan dengarkan kata orang. Biarkan nama Axton sedikit kotor kali ini. Aku yang akan menanggungnya," kata Dario sambil berdiri dan menunjukkan dokumen berisi bukti itu di depan mamanya.


"Dario," seru Mamanya agak tak setuju.


Tapi terlambat. Dario sudah keluar dari ruangan itu dengan cepat dan duduk disambut oleh blitz kamera wartawan itu.


***


Dario menatap satu per satu wartawan itu. Ruangan itu penuh sesak. Padahal akses sudah dibatasi. Tapi keingintahuan media soal berita menggemparkan ini sangat besar.


Dario dan Celia bukanlah artis atau pelaku hiburan. Tapi mereka adalah pengusaha yang namanya naik daun dan sering muncul di media.


Mereka dianggap selebriti. Apalagi Dario yang berwajah tampan itu disebut-sebut sebagai pengusaha berwajah paling tampan menurut majalah bisnis bergengsi.


Ditambah lagi ada nama Ludwig Cello, model yang dikenal banyak orang itu sebagai tersangka perebut istri orang.


Nyonya Sanio mau tak mau menyusul putranya ke meja konferensi pers. Diperlihatkannya senyumnya yang paling ramah kepada setiap kamera yang menyorotnya.


Dario memberikan isyarat pada Mamanya untuk bicara. Mikrofon dinyalakan.


"Baik, saya sebelumnya membuat konferensi pers ini untuk memberitakan suatu hal penting. Tapi kalian pasti mengira bahwa semua ini bertujuan untuk mengkonfirmasi berita tentang skandal Celia Adams." Nyonya Sanio berkata dengan jelas dan lugas.


Para wartawan menyimak dengan seksama dan suasana menjadi hening seketika.


"Sebenarnya konferensi pers ini untuk mengabarkan soal berita perceraian putra saya dengan istrinya. Mereka resmi sah bercerai seminggu yang lalu. Ini dokumennya." Nyonya Sanio menunjukkan kertas keputusan dari pengadilan itu ke arah wartawan.


Kamera sibuk menyorotnya lagi. Hanya beberapa detik saja sang nyonya besar menunjukkannya. Ia lalu menyimpannya kembali.


"Mengenai penyebab perceraian ini saya tidak akan memberitahukan. Tapi sepertinya berita skandal ini disangkut-kaitkan dengan Axton Group. Untuk itu biarkan putra saya yang berbicara," kata Nyonya Sanio mengakhiri pembicaraannya.


Dario melihat Mamanya lalu mengangguk. Nyonya Sanio sepertinya berubah pikiran.


Sebenarnya bukan begitu. Nyonya itu tahu kalau bagaimanapun ia mencegah, Dario pasti akan membuka seluruh bukti. Jadi agar menghindari perselisihan di depan kamera wartawan sebanyak ini, ia mengalah saja.


Membongkar aib mantan keluarga sendiri sebenarnya bukan perbuatan berkelas. Skandal ini saja sudah menunjukkan kebusukan asli Celia. Tapi Dario belum puas rupanya.


"Ya, skandal itu benar adanya. Tapi bukan saya yang menyebarkannya. Dari alamat IP di internet yang diselidiki tim saya, saya sudah tahu siapa pelakunya. Tapi itu bukan wewennag saya. Pihak kepolisian bisa menyelidikinya dan mengumumkan hasilnya secara jelas pada kalian semua." Dario berkata dengan penuh percaya diri.


Wartawan menggumam dengan penasaran seperti kumbang.


Dario bersiap bicara lagi. Wartawan kembali hening.


"Saya tahu tidak pantas mengumbar aib rumah tangga saya di media. Tapi skandal sudah terlanjur menghebohkan. Kesannya saya suami yang tidak bisa mengendalikan kelakuan istrinya. Kesannya saya tidak punya harga diri sama sekali karena membiarkan istri saya berselingkuh dengan pria lain. Saya mengetahuinya dan menyelidikinya dengan mengumpulkan bukti-bukti. Ini buktinya," kata Dario sambil mengacungkan dokumen itu ke depan wartawan.


Semua wartawan riuh lagi. Padahal dario belum membuka apa saja isinya.


Saat suasana riuh itu menggema di ruangan, suara teriakan seorang wanita memecah kehebohan itu.


"Tunggu," teriak Celia Adams yang rambutnya mencuat sana-sini dan berantakan itu.


Dalam keadaan kacau ia berteriak-teriak layaknnya orang gila.


Kamera wartawan dalam sekejap mengarahkan lensanya pada sosok itu.