
Flashback.
Sanio muda sedang menyisir rambut panjangnya di dekat jendela rumah lama mereka di Valex. Tatapan matanya kosong.
Sudah berninggu-minggu ia meratap seperti orang gila.
Omar Axton menyelingkuhinya diam-diam dengan sahabat lamanya semasa kuliah. Hal itu diketahuinya setelah sekian lama semua itu tersembunyi darinya rapat-rapat.
Seperti kata pepatah, selama apapun bangkai disimpan, akan ketahuan juga suatu saat.
Yang membuatnya tak mengerti adalah perempuan itu juga merupakan sahabat dekatnya.
Cassandra dan dirinya bahkan sering menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol, ke dokter kandungan bersama atau membuat janji untuk berbelanja bersama di kota kecil yang damai itu.
Sanio tentu saja syok. Casaandra yang hamil itu mengaku kalau ia punya suami di luar kota. Tak ia sangka kalau suami Cassandra adalah Omar Axton, suaminya sendiri.
Mereka berselingkuh diam-diam selama dua tahun terakhir. Dan dengan bodohnya Sanio tak tahu apa-apa. Ia terus berteman dengan Cassandra dan bahkan menganggapnya sahabat.
Kejadian itu membuatnya terguncang. Apa Omar selingkuh karena ia tak kunjung bisa memberinya keturunan? Tapi kan suaminya itu tahu kondisinya tak memungkinkan.
Kehamilannya itupun ia usahakan dengan susah payah. Tapi di saat gembiranya menyambut kelahiran bayi itu ia malah mendapatkan berita semacam ini.
Selingkuhan suaminya juga hamil.
Kehamilan yang rentan karena rahimnya bermasalah itu membuatnya stress dan bayi itu meninggal di dalam kandungan.
Omar yang meminta maaf dan minta ampun padanya menemaninya menjalani proses kelahiran itu dengan wajah sedih.
Sanio hanya memandangi langit-langit rumah sakit yang putih dnegan tatapan kosong. Bisa ia dengar kalau dokter juga akan mengangkat rahimnya saat proses kelahiran yang menyedihkan itu. Ia tak akan pernah bisa punya anak lagi dan anak perempuan yang ia tunggi-tunggu tidak selamat.
Bayinya meninggal di dalam perut dan rahimnya harus diangkat. Suaminya juga selingkuh dengan sahabatnya sampai hamil. Sungguh tahun yang berat untuknya.
Sejujurnya Omar juga tak menyangka akan seperti ini kejadiannya.
Saat tahu Sanio hamil, tentu ia bahagia setengah mati. Tapi Cassandra juga bilang kalau ia hamil di saat bersamaan.
Sanio memulihkan diri dari trauma dan rasa kehilangannya di rumah itu. Di tahun itu, melahirkan dengan kecanggihan peralatan kedokteran yang belum seperti sekarang adalah menyakitkan. Ditambah lagi bayi perempuannya harus meninggal. Betapa kacau kondisi mentalnya.
Rumah di Valex adalah rumah peninggalan orangtuanya. Omar Axton ia usir dan ia lempar barang-barangnya keluar agar ia pergi saja ke rumah Cassandra.
Omar Axton yang merasa bersalah tak bisa apa-apa. Apalagi Cassandra yang tengah hamil besar juga membutuhkan dirinya. Bagaimanapun anak di perut Cassandra adalah anaknya juga.
Seperti orang gila, ia kadang tertawa-tawa dan berlagak seperti menimang bayi. Bibi Joan yang mengurus rumah merasa iba. Kadang saat Sanio sudah tidur, ia memberi tahun Omar agar berkunjung dan melihat istrinya itu. Ia meratap penuh penyesalan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia sendiri juga kacau.
Sampai akhirnya sore itu Omar Axton pulang ke rumah dengan membawa seorang bayi laki-laki. Matanya sembab bekas tangisan.
"Sanio, Cassandra meninggal saat melahirkan bayinya. Anak ini tak punya Ibu," kata Omar lirih.
Sanio dengan rambut mencuat dan wajah kusut itu melempar sisirnya lalu mendekat dengan mata antusias saat mendengar kata bayi.
Diambilnya bayi itu dan digendongnya. Bencikah ia? Anak itu anak selingkuhan suaminya.
Ia memandangi bayi itu sambil menangis. Omar Axton bersujud dan bersimpuh di bawah kaki istrinya. Ia menangis sampai pundaknya bergoncang-goncang.
Sanio diam saja. Ia menimang bayi itu seperti benda paling berharga sedunia.
"Sekarang ini bayiku. Aku ibunya. Anak ini kuberi nama Dario." Sanio berkata sambil tersenyum.
***
Sanio bangun dari mimpi buruknya di kamar lamanya di Valex itu.
Rumah ini menyimpan banyak trauma dan kesedihan untuknya.
Maka dari itu saat Axton Group sukses, ia langsung meminta pindah ke Suresh.
Biarlah Valex menjadi masa lalunya. Biarkan orang-orang di kota itu menggunjingnya karena merawat bayi selingkuhan suaminya. Ia tak peduli.
Dario ia besarkan seperti anak sendiri. Walaupun terkadang ia merindukan sosok anak perempuannya, tapi kerinduan itu terobati saat ia melihat Celia Adams kecil yang manis terlihat akrab bermain dengan Dario.
Belum juga kebahagiaannya pulih, saat berpiknik ke dekat Valex, suaminya tewas karena kecelakaan kapal.
Dario yang diselamatkan Frans Adams ia peluk dengan takut. Sanio sudah tak punya orang tua. Bayinya mati, suaminya sekarang juga mati. Kalau Dario mati, apalagi tujuan hidupnya?
***
Hari itu ia memutuskan untuk mengunjungi makam.
Makam Omar ada di samping kiri makam Cassandra. Makam putrinya yang ia beri nama Brenda itu ada di sebelah kanan makam Omar.
Angin musim gugur menerbangkan daun-daun kering.
Sanio yang dikenal keras dan seperti wanita berkuasa itu menumpahkan tangis dan kelemahannya di pemakaman itu.
Sesungguhnya ia kuat oleh keadaan. Ditempa dan dikeraskan hatinya tanpa bisa memilih.
Ia benci tukang selingkuh. Cassandra ia benci karna merebut Omar Axton. Suaminya itu juga dibencinya karena telah berkhianat. Tapi benci itu luluh menjadi cinta lagi.
Bagimana dengan Dario? Ia menyayangi anak itu sepenuh hati. Tapi rasa sayang itu menjelma menjadi rasa posesif dan ingin mengendalikan anak itu sepenuhnya.
...----------------...
......🌻🌻🌻......
Happy weekend guys. Jangan lupa tinggalkan jejak. Semua dukungan akan sangat berarti bagi Author.
Oh iya, sebelumnya novel ini ikut kompetisi Noveltoon dengan tema bayi genius. Editor minta ceritanya diubah seperti alur yang sudah biasanya ditentukan. Tapi penulis ingin alur ini sedikit berbeda dan bayi genius bukan hanya sekedar bayi pintar dengan kecerdasan tak masuk akal.
Genius amat luas artinya. Walaupun semua ini bukan cerita nyata, setidaknya penulis tak ingin membuat cerita yang di luar nalar.
Per hari ini novel ini mundur dari kompetisi dan akan terus lanjut sampai tamat ya. Terimaksih sudah membaca.
Nanti mungkin akan ganti judul tapi belum tahu judulnya apa. Ada ide?😂😂😂
Tulis di komentar ya.💙