Mama'S Twin

Mama'S Twin
Rahasia Masa Lalu



Nyonya Sanio duduk sambil membaca katalog seorang designer paling terkenal di Suresh. Ia butuh topi baru yang cantik untuk melihat pacuan kuda pekan depan.


Dario pulang. Wanita itu melihatnya. Ia lambaikan tangannya dengan wajah senang. Anak lelakinya pulang.


Dario berjalan mendekatinya. Taman belakang yang asri dan luas. Nyonya besar itu menunjuk kursinya di depannya. Dario mengikutinya dan duduk.


"Kemana saja kamu pergi? Menginap dimana? Mama tanya 5 hotel berbintang milik Axton Group di dekat kantor tapi namamu tak ada. Menginap di hotel lain untuk meninggalkan jejak dan menghilang dari Mama?" tanya Nyonya Sanio.


"Mama tak perlu tahu," jawab Dario singkat.


"Dia sudah Mama usir dari rumah ini. Sekarang di rumah Ibunya," kata Nyonya Sanio.


Dario tertawa kecil. "Mama berubah pikiran? Kemarin masih membelanya," kata Dario.


"Mama pikir kamu terlalu gegabah. Ya, Mama tahu kamu menyiapkan bukti itu sejak lama sampai benar-benar yakin. Kalau kamu sudah bilang cerai, berarti kamu sudah di titik terdalam kamu. Mama tahu perjodohan ini bukan atas kehendakmu, tapi kamu menerimanya. Bahkan sampai 7 tahun. Ini tidak mudah. Selain itu, keluarga itu tak punya bisnis lagi. Perusahaannya tumbang setelah Frans Adams jatuh sakit. Celia pasti akan menuntut harta banyak saat perceraian. Mama pikir tak apa merelakan beberapa persen saham Axton. Tak ada gunanya mempertahankan pernikahan kalau kamu tidak bahagia. Lagipula Mama mana terima hasil kerja kerasmu dibuat senang-senang dengan pria lain," kata Nyonya Sanio dengan nada santai.


Dario diam saja. Ternyata Mama kemarin hanya termakan emosi dan malah membela Celia.


"Celia tidak akan mendapatkan sepeserpun. Saya membuat perjanjian pranikah dan harta terpisah tanpa sepengetahuan Mama," kata Dario.


Nyonya Sanio mengerutkan keningnya. Apa maksudnya ini? Ternyata Dario 7 tahun yang lalu sudah berpikir sejauh itu. Ia mengangguk mengerti.


"Frans telah menua dengan penyakitnya. Ia butuh biaya berobat. Maria hanya tahu bersenang-senang. Celia apa lagi. Mama tahu setiap bulan berapa dollar uang keluarga kita untuk mereka. Itu karena Mama merasa berhutang budi," kata Nyonya Sanio dengan pandangan menerawang.


Bunga warna-warni, kupu-kupu beterbangan. Taman ini satu-satunya sudut di rumah megah ini yang menjadi favorit Nyonya Besar untuk menghabiskan waktunya.


"Itu kan masa lalu. Sudah cukup, Ma," kata Dario.


"Tidak semudah itu. Mama dan mereka bersahabat sejak lama. Sejak Axton belum sebesar ini. Kamu dan Celia masih belum sekolah waktu itu. Kalau bukan karena Frans Adams yang menolong, kamu tentu sudah tewas," kata wanita itu dengan bibir bergetar.


Dario mengelus nafas panjang. Pandangannya beralih ke kolam ikan itu. Ikan warna-warni bergerak kesana kemari dengan gesit. Air berkecipuk pelan.


"Mama hampir kehilangan kamu. Papa kamu memang tak tertolong, tapi Frans Adams juga menyelamatkannya. Mama bersumpah sampai detik ini tak akan naik kapal lagi. Tidak akan," katanya ngeri.


Dario memandangi Mamanya dengan prihatin. Ia tahu perasaanya.


"Dario sering mimpi buruk tentang kecelakaan itu," kata Dario tiba-tiba.


Nyonya Sanio menatapnya. Ia tak berkata apa-apa tapi dari sorot matanya ia seperti meminta Dario untuk bercerita lebih lanjut lagi.


"Soal Papa yang sebenarnya sudah tewas saat terjatuh ke danau," kata Dario. Ia juga sedikit gugup. Mimpi itu seringkali datang semenjak ia kecil sampai sekarang. Tapi hanya sepotong-sepotong.


Nyonya Sanio diam saja, tapi sorot matanya yang tajam melihat ke Arah Dario dengan penasaran.


"Ya. Papa diracun dan menggelepar di lantai setelah minum minuman itu. Dario kecil pura-pura tidur. Lalu ada tangan yang datang membawa kain ke arah hidung dan sepertinya Dario dibius. Karena setelah itu benar-benar tak ingat apa-apa lagi. Tau-tau terbangun dan sudah di rumah sakit," katanya menjelaskan.


"Dario, jangan gila kamu. Itu hanya mimpi. Di yacht itu cuma ada kamu, Papa kamu, Frans dan satu pengemudi saja. Mana mungkin Frans yang mela..."


"Mungkin, Ma. Kenapa tak mungkin?" tanya Dario. Ia tak tahan lagi untuk mengatakan hal ini. Ia sudah lama menyimpannya.


"Mereka bersahabat baik. Papa kamu dan papa Celia adalah teman seperjuangan. Axton dan Tunels tumbuh bersama-sama dari bawah," kata Nyonya Sanio.


"Ya, tapi Axton dan Tunels jelas berbeda misi. Tunels penuh kebobrokan dan kecurangan. Lihat sekarang, hancur dan lenyap kan. Masih untung Frans Adams tidak membusuk di penjara," kata Dario berapi-api.


"Dario, jaga mulut kamu. Bagaimanapun Papa Celia yang menyelamatkan kamu," kata Nyonya Sanio denagn wajah merah padam menahan marah.


"Dario tahu. Tapi bisa saja kan kecelakaan itu direncanakan dan yacht itu disabotase? Dario mungkin tidak bisa membuktikan karena semua hanya bersumber pada potongan mimpi-mimpi. Ingatan Dario semasa kecil juga tak sekuat itu. Tapi jangan tutup mata dengan kebusukan Frans Adams, Ma. Mentang-mentang dulu Papa bersahabat dengannya dan dia menolong Dario saat kapal itu tenggelam," kata Dario.


Nyonya Sanio melihatnya dengan tatapan tak mengerti.


"Tidak ada penyelidikan kepolisian atau laporan lain, kan? Karena waktu itu Mama mempercayai saja apa yang Frans Adams katakan. Kapal tenggelam karena kerusakan, meledak dan terbakar. Pengemudi kapal berenang membawa mayat Papa. Frans Adams menyelamatkan saya yang waktu itu seharusnya bisa ingat saat-saat kapal miring atau meledak. Tapi saya tak mengingat apapun," kata Dario.


Nyonya Sanio masih diam saja.


"Ma, Dario sudah cukup lama memendam trauma. Dokter dan obat juga tak banyak membantu. Mama ingat duku Dario kecil takut dengan Frans Adams? Mungkin karena dulu Dario pernah melihat kejahatannya terhadap Papa di kapal itu, bisa saja kan?"


Nyonya Sanio tetap diam. Ia terluhat mencerna kata-kata Dario. Ya, bisa juga seperti itu. Tapi apa benar? Sekarang sudah terlambat untuk menyelidiki. Sudah puluhan tahun berlalu.


"Jangan tutup mata dengan kebusukan Tunels dan Frans Adams. Mereka perusahaan keji, penuh kecurangan dan kebusukan. Main kotor dan merugikan banyak orang. Ma, sudah cukup. Jangan merasa terus-terusan berhutang budi," kata Dario pelan. Kini anda suaranya menurun.


"Ya, tapi berikan keluarga itu uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Beri Celia uang cerai yang pantas. Mama tak peduli lagi soal media, wartawan atau apapun. Biar saja mereka memberitakan apa yang mereka mau. Tak ada gunanya menjaga citra baik terus-terusan. Perceraian bukanlah kejahatan. Lakukanlah apa yang ingin kamu mau, Nak," kata Nyonya Sanio. Ia berlalu menepuk pundak putranya lalu masuk ke dalam.


Dario menghela nafas lega. Ya, surat cerai telah siap. Menunggu Celia saja untuk menandatanganinya. Ia bisa menikahi Julie diam-diam dan mendapat statusnya sebagai Papa kandung dari si kembar di perut Julie.


Dario beranjak naik ke kamarnya. Sebuah nomor di ponselnya siap dihubungi.


Thomas Dean. Sahabat lamanya, pejabat pemerintahan. Ia bisa mengurus pernikahan itu secara tertutup dan anak buahnya tetap bungkam.