Mama'S Twin

Mama'S Twin
Aku Anak Siapa?



"Siapa ibu kandungnya, Nyonya?" tanya Travis Topper. Rupanya ia ikut penasaran juga. Siapa yang tak tahu keluarga Axton yang terpandang itu? Tak ia sangka kalau keluarga Axton menyimpan begitu banyak kekelaman.


Frans Adams sepertinya enggan menjawab. Ia inget beberapa tahun berikutnya, rumah tangganya juga sedang goncang karena ia sedang selingkuh juga. Bedanya, ia tak ketahuan separuh itu.


Maria juga sempat akan menceraikannya waktu itu. Sepertinya lelaki sukses memang banyak godaan, terutama wanita.


Frans juga selingkuh dan punya anak yang ia buang karena pihak perempuan menyerahkan padanya. Sampai detik ini Maria belum tahu soal ini. Frans saja juga tak tahu sekarang anaknya dimana dan sebesar apa.


"Selingkuhan Omar itu juga wanita bersuami kalau tak salah. Suaminya tentara yang bertugas di luar negeri atau semacamnya. Ya, semacam itu lah. Namanya Katrina? Ah, aku agak lupa," jelas nyonya Maria.


"Bukan. Namanya adalah Cassandra Shoe," kata Frans membenarkan.


Nyonya Maria mengangguk-angguk. Ia agak lupa juga dengan kejadian itu.


Frans tentu ingat soal Cassandra. Selingkuhannya juga teman akrab Cassandra. Sungguh pergaulan masa lalu yang penuh skandal. Ia menyesal sekarang.


"Jadi bagaimana? Anda menyanggupi kalau saya berhasil membuat isi pengganti brankas yang kira-kita masuk akal?" Frans lalu mengalihkan pembicaraan pada brankas itu lagi.


Dario yang mendengar seperti tidak tertarik lagi soal ini. Yang lebih penting adalah fakta mengejutkan ini : ia bukan anak kandung Nyonya Sanio.


Shan memandangi bossnya dengan sedih. Jujur, ia juga terkejut dengan berita ini.


Tapi Shan masih berusha mendengar inti pembicaraan itu. Dario seperti patung. Otaknya tak bisa fokus. Pikirannya kosong.


Entah berapa puluh menit Dario mematung seperti itu. Lidahnya kelu dan bahkan ia tak bisa berkata-kata.


"Mereka sudah pergi, Pak," kata Shan pada akhirnya.


Shan menepuk pundak Dario dan meninggalkannya sebentar untuk mengecek. Ia memberi kode pada William Topper untuk menelponnya nanti soal kesepakatan ini.


Shan mengangguk pada manager restoran dan memberikan segepok dollar.


"Aku ingin waktu tambahan. Sekarang tiga puluh menit sampai satu jam." Shan berkata dengan mata serius. Ia ingin memberi waktu untuk Dario agar ia bisa fokus memikirkan semua ucapan tadi. Shan tahu Dario pasti terguncang.


Shan bergegas kembali dengan segelas minuman dingin.


Dario menerima dan meminumnya dengan mata terpejam. Ia pijit-pijit kepalanya dengan pusing.


'"Shan, katakan kalau ini hanya mimpi," katanya dengan nada menyedihkan.


Shan bingung menghadapi ini. Selama ikut Dario, ia tak pernah melihat laki-laki ini sesedih ini.


"Ini bukan mimpi, Pak. Saya juga mendengarnya dan terkejut," ujar Shan.


Dario lalu menatapnya. "Apa kau tak tahu apa- apa soal ini? Kau yakin?"


Shan mengangguk. "Ya, aku ikut anda sejak anda lulus kuliah. Soal masa kecil dan masa lalu anda aku tak tahu kecuali anda sendiri yang mengatakannya pada saya."


Dario menunduk lemah.


"Selama ini aku menurutinya karena baktiku dan menuruti pesan papaku. Bahkan kau pikir siapa anak lelaki di dunia ini yang mau diperlakukan seperti boneka. Dijodohkan, diatur hidupnya sedemikian rupa. Aku melakukannya demi apa kalau dia berbohong padaku?" Dario meluapkan emosinya.


Shan membiarkannya. Ya, ia perlu mengungkapkan. Jangan dipendam. Ini tempat yang tepat untuk melampiaskan perasaaan ini. Ia tak mungkin mengatakannya di apartemen karena ada Julie. Di kantor juga tak mungkin karena ada Grace dan yang lainnya.


"Aku sampai membuat Julie kabur dan ketakutan karenanya. Padahal apa salahnya jujur dan mengatakan kalau aku menikahinya dan kita punya anak?" Dario mulai meledak-ledak.


"Maaf, Pak. Nona Julie melakukannya karena ia takut akan privasi anaknya. Terlepas dari posisi anda sebagai pewaris Axton, ia tak ingin putrinya menjadi incaran. Saya bisa mengerti kalau ia ingin merahasiakannya lebih dulu," kata Shan.


Dario mengangguk. Ya, Shan benar. Setidaknya bersembunyi saja dari publik, jangan dari keluarga.


"Shan, kau bisa ke Valex untuk menyelidiki ini? Kita bisa tanya bibi Joan. Dia pasti tahu. Jangan lewat telepon, dia pasti mengelak." Dario mengatakan dengan wajah penuh harap.


Shan menunduk, wajahnya terlihat resah. Ia menggeleng. Ia tak menyanggupi permintaan itu.


"Mengapa?" Dario bertanya dengan heran.


Bersambung...