Mama'S Twin

Mama'S Twin
Membongkar Bukti



Sebelum pesawat lepas landas, Shan mengirimkan pesan pada Dario.


"Nyonya Celia akan kembali ke Suresh dengan penerbangan paling pagi."


Dario membaca pesan itu. Penerbangan Macau dan Suresh memakan waktu kira-kira 10 jam. Belum lagi transit dan lainnya. Dari bandara Kota Suresh butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumah.


Dario merenung. Ia harus bergerak cepat. Map cokelat berisi bukti-bukti itu ia ambil dari lacinya yang terkunci. Ia raih kembali ponselnya untuk menelpon Pak Timos. Ia meminta pria itu datang ke rumah jam 7 pagi. Ia harus mengaku apa yang ia tahu pada Nyonya Sanio.


Dario bergegas mandi lalu turun ke lantai bawah. Ia memastikan Nyony Sanio ada di rumah dan siap diajak bicara. Dario bertanya pada pelayan tentang keberadaan Mamanya itu. Pelayan bilang Nyonya Sanio sedang berada di taman belakang, merawat anggrek-anggrek hutan mahal kesayangannya.


"Hai, Ma. Selamat pagi," katanya menyapa. Dario duduk di kursi taman. Map itu ada di tangannya.


"Pagi, Sayang. Tumben sudah rapi. Mau ke kantor jam segini?" tanya Nyonya Sanio.


"Nggak sih. Celia sudah bilang Mama kalau pagi ini dia kembali dari Macau?" tanya Dario.


"Belum. Katanya masih 2 hari lagi. Dia kelihatannya senang sekali. Teman-temannya banyak di sana. Bagus juga dia pergi liburan sendiri. Dia kesepian karena kamu terlalu sibuk bekerja," kata Nyonya Sanio.


Dario hanya tertawa. Mamanya berhasil dibohongi Celia. Dasar gadis culas.


"Ma, Dario mau bilang sesuatu yang penting," katanya setelah tawanya reda.


Nyonya Sanio menatap putranya satu-satunya itu dengan heran. Ia meletakkan semprotan dan gunting tanaman itu di meja. Ia lalu duduk di kursi kosong di hadapan Dario. Ia terlihat siap mendengarkannya.


Dario meletakkan map cokelat itu di meja. "Buka saja, Ma. Lihat sendiri," kata Dario.


Nyonya Sanio membuka map itu. Alisnya mengkerut. Matanya tampak menatap tajam seperti tak percaya. Ia lihat lembar demi lembar kertas itu. Semuanya bukti yang berhasil Dario kumpulkan atas bantuan Shan.


Foto Celia yang sedang bermesraan di pesawat dengan pria lain. Lalu biodata singkat pria lain yang dimaksud itu, alias Ludwig Cello. Kertas berikutnya adalah bukti transfer dan transaksi besar dari rekening Celia untuk Ludwig Cello. Jutaan dollar jumlah totalnya. Dario saja juga terkejut saat pertama kali tahu nominal itu. Walaupun ia kata raya, tapi jumlah itu tetaplah besar.


Nyonya Sanio menutup map itu. Mukanya memerah. Tangannya tampak meremas dengan geram.


"Masih banyak bukti lain berupa video. Ada di handphone saya. Kalau perlu saya kirimkan ke Ma..."


"Cukup," kata Nyonya Sanio memotong kata-kata Dario.


Dario menatap Mamanya dengan tatapan bingung. Mengapa ia tak mendengarkannya?


"Mungkin dia selingkuh karena kurang perhatian dari kamu. Coba saja kamu ikut liburan ke Macau. Dia nggak akan selingkuh," kata Nyonya Sanio.


Dario tak mengerti lagi mengapa Mamanya masih membela Celia, bahkan bukti sudah di depan matanya. Ia merasa sesak. Mengapa Mamanya malah menyalahkannya?


"Mama dengar saya. Celia tidak pernah mengajak saya ke Macau. Dia hanya bilang akan pergi merayakan ulang tahun temannya di sana. Jelas-jelas itu sudah direncanakan sendiri. Kalau kurang perhatian, apa lagi yang harus saya lakukan. Saya secara terbuka mengizinkan dia ke kantor kapanpun untuk menemui saya. Saya selalu ikut di acara keluarganya, acara pesta temannya, reuni dan apapun yang ia mau saya turuti. Kalau masalah saya sibuk, ya itu wajar. Saya yang urus Axton sendirian. Ribuan karyawan menggantungkan hidupnya pada Axton. Saya tidak boleh lengah sedikitpun. Itu kan yang Papa mau dulu. Dario hanya ingin meneruskan kesuksesan dan tanggung jawab Papa atas perusahaan," katanya membela diri.


Nyonya Sanio diam saja. Celia menantu kesayangannya. Ia bersahabat dengan ibu dari Celia. Ayahnya bahkan dulu yang menyelamatkan Dario dan suaminya dari kecelakan kapal di danau itu. Ya, walau suaminya akhirnya tak tertolong.


"Dario, mungkin saja dia kesepian. Dia tidak bisa punya anak dari kamu. Sudah 7 tahun kalian menikah. Coba kamu tidak man..."


"Saya tidak mandul, Ma. Semua hasil pemeriksaan itu dipalsukan Celia," kata Dario berapi-api. Ia tak tahan lagi.


"Apa buktinya?" Nyonya Celia terdengar tidak percaya.


"Ayo kita lakukan pemeriksaan saya sendiri saja di rumah sakit lain. Kalau perlu di luar negeri. Tapi diam-diam. Tanpa Celia tahu. Saya normal dan saya bisa punya anak," kata Dario meledak-ledak.


Nyonya Sanio makin merah mukanya. Omong kosong apalagi ini.


Dari kejauhan tampak Pak Timos datang diantar pelayan. Dario melambaikan tangannya, memintanya mendekat. Pak Timos berjalan dengan gugup. Dia dijanjikan akan dibayar banyak kalau mau buka mulu soal Celia. Ia berdiri dengan takut-takut. Dario lalu berdiri dari duduknya dan meminta Pak Timos duduk.


"Ini Pak Timos, sopir pribadi Celia. Dia disuap banyak uang untuk diam saja soal perselingkuhannya dengan Ludwig Cello. Sekarang dia akan bilang yang sebenarnya," kata Dario.


Pak Timos melaporkan apa yang diketahuinya. Dario diam-diam merekam pembicaraan itu. Nyonya Sanio menyimaknya dengan geram. Perselingkuhan itu sudah terjadi setengah tahun ini. Pak Timos lalu disuruh pergi dan kembali bungkam soal ini. Ia mengangguk paham. Rekeningnya sudah bergelimang dollar sekarang.


"Gimana, Ma? Masih mau membela menantu Mama itu? Dario sudah setia dan menerimanya. Dario berusaha mencintainya walaupun dulu tak menginginkan perjodohan ini. Sekarang apa? Dario dibohongi mentah-mentah. Dario mau menceraikan dia," katanya tegas.


Nyonya Sanio melihat Dario dengan tatapan kaget. Ia tahu Dario marah. Tapi bercerai adalah hal lain. Nama besarnya dipertaruhkan. Ia tak tahu lagi harus bilang apa melihat kemarahan Dario yang begitu menggebu-gebu. Tak disangkanya Celia berbuat sedemikian gila di belakangnya.


"Dario, jangan gegabah. Dengar Mama..."


"Tidak. Keputusan Dario sudah bulat. Sudah cukup kebohongan dia selama 7 tahun pernikahan ini. Toh pernikahan ini bukan Dario yang mau. Saya akan urus semuanya dengan pengacara pribadi. Nanti Celia tinggal tanda tangan saja dan keluar dari rumah ini. Atau Dario yang keluar dari rumah ini," katanya lalu bergegas pergi.


"Dario, tunggu," teriak Nyonya Sanio.


Dario tak mendengarnya lagi. Ia berlalu pergi. Map itu masih di meja. Nyonya Sanio menyimpannya.


Dario mengendarai mobilnya menuju apartemen Julie. Ya, hanya perempuan itu yang menenangkan hatinya. Perempuan yang sedang mengandung darah dagingnya, anak kembarnya.


***


Julie menelpon dokter Anna. Ia bilang sering mimpi buruk. Dokter Anna menyarankannya untuk menerapi sndiri sendiri. Jangan pikirkan hal buruk sebelum tidur. Buat pikiran rileks dan senang.


Julie kini sedang menonton series tentang anak-anak kembar. Perutnya yang mulai membuncit sedikit ia elus dengan tangan kirinya. Tangan kanannya tak henti-hentinya mengambil kue cokelat dari toples kaca itu. Ia sesekali tertawa. Ya, benar. Jangan stress. Ada dua bayi yang menggantungkan hidupnya padanya.


Dario masuk ke apartemen itu dengan wajah ditekuk. Raut wajahnya berubah menjadi senyuman saat dilihatnya Julie sedang asyik tertawa-tawa sambil matanya tak lepas dari layar TV yang lebar itu.


Julie melihat kedatangan Dario. Ia masih tetap tersenyum. Ia menepuk-nepuk sofa di sampingnya, memberi kode agar Dario duduk di sampingnya. Dario bergegas berjalan cepat ke arahnya. Sikap Julie manis kali ini.


Julie menyodorkan toples cantik dari kaca itu ke arah Dario. Ia menawarkan kue cokelat. Dario mengambilnya satu sambil tersenyum. Hatinya yang semula panas kini menjadi sejuk.


"Enak kan? Ini buatan Athena dan anak-anak di Rumah Asuh. Katanya ini kue cokelat khusus dibuat untuk dewi-dewi yang sedang hamil di khayangan. Dasar anak-anak itu," kata Julie sambil tertawa.


Dario tersenyum simpul. Ia tak lepas memandang Julie yang sedang asyik melihat layar televisi.


Dario menyimpan masalahnya di rumah. Soal rencana perceraian dan Mamanya yang malah membela Celia tak ia katakan pada Julie. Ia tak ingin mengusik kebahagiaannya. Ia tak boleh banyak pikiran. Julie hanya harus fokus pada kehamilannya.


Julie masih tertawa-tawa bahagia. Dario menikmati momen ini. Julie bagaikan oase di padang yang tandus. Semua hari buruknya seolah hilang begitu ia melihat Julie tersenyum.


Julie menyandarkan kepalanya pada tangan sofa empuk itu. Lama-lama Julie tertidur. Dario tersenyum melihat wajah teduhnya. Toples kaca itu ia ambil dari tangannya pelan-pelan. Ia taruh meja dan ia tutup.


Posisi Julie nampak kurang nyaman. Dario memberi kode pada pelayan untuk membukakan pintu kamar Julie.


Dario dengan pelan dan hati-hati mengangkat tubuh Julie menuju kamarnya. Ia tiduran di ranjangnya dengan hati-hati dan ia selimuti.


Dario ingin rasanya tak beranjak dari sisinya. Tapi ia harus ke kantor. Setumpuk pekerjaan menunggu. Ia berpesan pada Nyonya Emily, kepala pelayan itu agar menjaga Julie dan menelponnya kalau ada sesuatu yang penting.


Dario lalu turun kembali ke basement. Ditolehnya kiri kanan dan belakang. Ia selalu waspada, takut ada yang mengikutinya. Bisa saja orang suruhan Celia atau Mamanya sendiri. Keamanan Julie adalah nomor satu baginya.


Dario tak khawatir soal kunjungannya ke apartemen ini. Ia selalu mampir dulu ke kantor. Mobilnya ada di parkiran khusus. Ia punya mobil lain atas nama orang lain yang ia pakai ke apartemen. Di apartemen juga ada mobil lain yang bisa Julie pakai dengan sopir. Ia ekstra hati-hati akan keberadaannya agar tak terlacak. Mobil putih itu juga ia ganti nomor platnya. Di tempat khusus di bagasi ada beberapa pasang plat nomor. Ia tinggal menggantinya sering-sering saat diperlukan. Ia memilih mobil yang tak terlalu mewah dan umum dipunyai banyak orang. Saat mobil berkeliaran di jalan, akan sulit terlacak. Dario cukup cerdas untuk ini. Tentu saja penyamaran ini dibantu oleh Shan.


...----------------...


Yuk, lanjut nggak nih? Episode selanjutnya mau gimana nih? Komen yuk.