
Michael yang nampak bingung itu lalu duduk di kursi yang kosong di samping istrinya. Mereka bertiga duduk melingkar mengelilingi meja di halaman samping yang berudara sejuk itu.
Udara mungkin sejuk dan menyegarkan karena tempat ini sangat jauh dari kota yang padat dan banyak polusi. Tapi hati meraka tidaklah sejuk. Ada gejolak membara dan debar yang membuncah seiring tarikan nafas gusar Sang Nyonya.
"Tuan Dario memang ke sini bersama seorang perempuan. Istri saya menyalahpahami kalau itu istrinya. Sebenarnya bukan hanya Pak Dario dan perempuan itu saja yang datang ke sini dan menginap," kata Michael tampak hati-hati menyusun kata-katanya.
"Lalu siapa lagi?" tanya Nyonya Sanio menyelidik.
"Ada Pak Shan dan satu laki-laki lagi. Mungkin temannya atau suami perempuan itu." Michael menghela nafas pendek-pendek karena gugup.
Nyonya Sanio mulai merasakan ada kejanggalan. Ia menerka-nerka kapan kira-kira Dario datang. Apakah ketika anak itu pergi dari rumah saat marah karena Celia membatalkan perceraiannya? Jadi anak itu kabur kemari?
"Sebutkan kapan dia datang ke sini dan berapa lama?" tanya Nyonya Sanio.
Joan diam saja. Bibi tua itu menangkap kode dari suaminya agar ia bungkam saja.
Michael menyebutkan waktu kedatangan Dario dan berapa lama ia tinggal.
"Tapi dia sendirian saja, Nyonya. Wanita dan pria itu pergi. Hanya sehari saja," katanya menambahkan.
Ya, hanya sehari saja lalu Julie kabur dan sejak mencarinya di setiap stasiun kereta.
Michael berpikir ia bisa memperbaiki kesalahan dari kecerobohan istrinya yang keceplosan bicara.
Setidaknya, ia tak berkata terang-terangan. Secukupnya saja.
Nyonya Sanio tapi tak selugu itu. Dario pernah tertangkap basah menyimpan foto ultrasonografi kandungan di jasnya, lalu sekarang Joan bilang ia punya istri?
Ya, walaupun Dario meyakinkannya bahwa itu salah paham dan ternyata foto itu milik istri Shan yang sedang hamil, tapi tetap saja, nalurinya sangat kuat. Ada yang janggal di sini.
Hening sejenak. Hanya angin kota Valex yang sejuk dan dingin itu menampar kulit mereka.
"Wanita itu hamil, kan?" Nyonya Sanio langsung menembak dua pekerjanya itu dengan tiba-tiba dan tanpa basa-basi.
Dilihatnya sepasang suami istri itu tampak terkejut dan saling berpandangan satu sama lain dengan gelisah.
Dilihatnya dahi Michael yang berkeringat di cuaca sedingin ini. Ia pasti tak bisa mengelak lagi sekarang. Begitu pikir Nyonya Sanio.
"Mmm...Y...ya, Nyonya. Sepertinya begitu." Michael menjawab gugup.
Ditatapnya keduanya dengan pandangan menyelidik. Nyonya Sanio menilai dan menimbang.
Michael tampak tertekan namun ia bisa mengelak dan menjawab pertanyaan dengan cepat. Tapi Joan tidak. Ia polos dan gugup.
"Baiklah. Michael, tolong diam. Aku akan bertanya pada istrimu saja. Joan, jawab pertanyaanku dan tatap mataku. Paham?" tanyanya dengan lirikan mata yang mengintimidasi.
Bibi Joan hanya mengangguk pasrah. Kedua tangannya saling bertaut dan meremas ujung apron yang dipakainya.
"Wanita yang hamil itu seperti apa? Katamu ada tiga lelaki yang ke sini. Dario, Shan dan pria satunya lagi. Jadi, wanita itu lebih terlihat dekat dan akrab dengan siapa?" tanya Nyonya Sanio.
Bibi Joan tampak menegang. Berbohong bukan keahliannya. Ia pemilik jiwa yang tulus dan jujur. Kini ia merasa terdesak.
Dirasakannya suaminya tampak menginjak kakinya dua kali di bawah meja.
Dua kali?
Joan tampak berpikir. Kalau dua kali artinya jawaban nomor dua dari tiga pilihan. Berarti ia harus menjawab Pak Shan?
"Jawab, Joan. Siapa? Dario, Shan atau pria satunya lagi?" Nyonya Sanio mendesaknya.
"Pak Shan, Nyonya," jawabnya cepat.
Michael tampak menunduk memandangi lantai teras yang dipahat dari batu alam ini. Arghhh. Ia mengumpat dalam hati.
"Shan?" Nyonya Sanio tampak berpikir.
"Tadi Michael bilang mungkin perempuan yang hamil itu istri pria satunya yang tadi. Jadi mana yang benar?" Nyonya Sanio menatap keduanya bergantian.
Joan tampak berwajah polos dan meyakinkan. Apa mungkin ia berbohong? Ia sudah lama kenal dan akrab dengan Joan. Bahkan sejak dulu sewaktu ia belum punya Dario.
Jadi kalau benar wanita hamil itu dekat dengan Shan, mungkinkah itu istrinya Shan? Tapi untuk apa dia kemari?
Nyonya Sanio kembali menatap sepasang suami istri itu yang tampak gugup. Ah, ia terbawa suasana dan emosi. Padahal mereka selama ini telah berjasa merawat dan menjaga rumahnya.
"Oh, maaflah. Aku hanya emosi sesaat. Jadi apa yang dilakukan Dario selama di sini?" tanyanya dengan nada santai.
"Dia banyak merenung dan hampir seharian selalu di kamar mendiang Pak Omar." Joan menjawab. Michael membenarkan.
Nyinya Sanio mengangguk-angguk paham. Apa anak itu merindukan ayahnya? Apa ia seperti dulu saat ia memarahinya, selalu mengadu pada papanya?
Anak malang itu mungkin begitu tertekan pada keputusan-keputusannya yang sepihak selama ini.
Ia tahu Dario lemah di hadapannya. Papanya selalu berpesan untuk menjaga dan mematuhi perintahnya sejak kecil. Maka dari itu ia memanfaatkan kelemahan anak lelakinya itu.
***
Dario bertanya dengan tak sabar pada dokter Anna. Shan mendampinginya.
"Bagaimana, Ann?" tanyanya dengan tatapan mata putus asa.
"Bayinya selamat. Dua anak perempuan cantik yang harus tetap berjuang sampai beberapa minggu ke depan di NICU. Tapi tenanglah. Alat di rumah sakit ini terbaik. Mereka akan tumbuh sempurna nantinya. Bersabarlah."
Ada kelegaan tersendiri dalam dadanya. Sebongkah batu besar yang menimpa dadanya seperti terangkat. Tapi masih ada satu batu lagi yang membuat dadanya terasa sesak.
"Bagaimana dengan Julie?" tanya Dario dengan tak sabar.
Dokter Anna terdiam sejenak.
"Bisa kubilang ia koma. Kondisi vitalnya stabil. Dia mengalami perjuangan dan komplikasi yang cukup berat untuk wanita seusianya."
Dan batu yang tersisa itu semakin membesar. Menghantam dadanya yang makin sesak dan sakit.
"Hei, aku juga pernah menjadi seorang ibu. Tenanglah. Dia pasti bangun walau harus berjuang sedikit lagi. Dia melalui banyak hal untuk sampai di titik ini."
Dan kaki Dario terasa makin lemas. Seakan semua tulang dicabut dari kakinya.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memintamu mengunggu dan bersabar," kata dokter Anna sambil menepuk pundak sahabatnya itu.