Mama'S Twin

Mama'S Twin
Dokumen Rahasia



Dario sedang di kamar untuk berganti pakaian saat Julie membuka pintu kamar dengan tergesa.


Julie langsung masuk saja dan mengunci pintu rapat-rapat. Dario yang kemejanya masih di tangan tampak bingung.


Julie menarik tangannya dan memintanya duduk. Dario yang bertelanjang dada itu menatapnya dengan tak mengerti.


"Hei, ada apa?" tanya Dario dengan cemas.


"Lihat ini. Ada hubungannya dengan Celia?" Julie menyerahkan surat kabar itu.


Dario membacanya dengan mata nanar. Timos Gerard ditemukan tewas di danau Stone?


Dario langsung meraih ponselnya dan menelpon Shan. Ia tak sabar menunggu telepon itu diangkat


"Hallo, Shan? Aman?"


"Ya, aman Pak. Ada apa?" tanyanya dengan siap.


"Shan, setelah Timos menerima uang karena mau buka mulut soal perselingkuhan, kemana dia pergi? Kamu tahu, kan?" tanya Dario.


"Dia kembali ke Valex. Dia bilang pada Celia dan orangnya kalau Ibunya sakit. Sejak itu dia memutuskan untuk tak kembali lagi dan mengganti nomor ponselnya untuk menghilangkan jejak," kata Shan menjelaskan.


Dario terdiam. Ia memandangi surat kabar itu sekali lagi.


"Shan, dia tewas. Mayatnya ditemukan di danau Stone. Menurutmu apa hubungannya dengan Celia dan orang-orangnya?" tanya Dario setengah berbisik.


Julie mengamati wajah Dario yang menegang. Sekarang perutnya seperti melilit. Kenyataan bahwa Celia dan anak buahnya masih sekuat itu membuatnya takut setengah mati.


Timos bisa tewas dengan mudah karena ia membocorkan rahasia perselingkuhan Celia. Bagaiamana dengan Julie? Ia juga bisa tewas di tangan wanita licik itu.


Dario meletakkan ponselnya. Ia lalu menggengam tangan Julie untuk menenangkannya.


"Hei, tenang Julie. Kita akan baik-baik saja. Saya akan melindungi kamu dan bayi kita. Shan akan menyusul kesini nanti untuk mengawal kita pulang," kata Dario menenangkan.


Julie hanya menjawabnya dengan mengangguk. Ia tak sepercayaa itu pada Dario. Ah, orang-orang berkuasa selalu punya cara untuk menyingkirkan orang-orang yang ia benci dan dianggap merugikan. Dario bisa saja begitu, kan? Pikiran Julie mulai goyah lagi.


Julie melamun. Ia yang paling lemah di sini. Ia yang tak punya siapa-siapa yang bisa ia percaya. Hanya Athena Morin saja satu-satunya yang bisa ia anadalkan.


"Aku akan menemui Bibi Joan dan memintanya menyiapkan makan. Aku lapar," kata Julie lalu beranjak dari duduknya.


Dario menarik tangannya. "Biar aku saja, kamu tunggu di sini. Akan kupanggil kalau sudah siap, okay?"


Dario tak menunggu jawabannya. Ia bergegas keluar.


Julie tak menyia-nyiakan waktunya. Ia segera meraih tasnya. Ia cek dokumen itu sekali lagi. Ya, aman. Ia harus menyusun rencana.


Julie mengambil ponselnya. Ia menghubungi Athena lewat pesan singkat.


[[ "Athena, aku sedang di Valex bersama Dario. Sebutkan rute terdekat untuk sampai ke Green Valey lewat jalur darat." ]]


Julie terlihat ragu. Ia kembali mengetikkan sesuatu untuk melengkapi pesannya.


[[ "Athena. Ini rahasia. Jangan bilang apapun soal ini pada Dario. Aku ingin kabur. Berikan nomor Miss Allie, pengurus Rumah Asuh di Valey. Bilang padanya aku akan berkunjung dalam waktu dekat." ]]


Julie sedang fokus mengetik pesan itu saat Dario tiba-tiba saja membuka pintu. Ia sangat terkejut. Ponsel itu hampir terjatuh ke lantai.


"Julie, mengapa kamu terkejut. Makanan ternyata sudah siap. Mari makan," ajak Dario.


Julie tersenyum dan menyimpan ponselnya di sakunya. Ia lalu beranjak keluar. Dario sudah menunggu.


"Nona, silahkan dinikmati. Semua dimasak menggunakan bahan alami yang mudah didapat di sekitar sini. Sup ini bagus untuk wanita hamil. Semoga anda suka," kata Bibi Joan.


Julie berterimakasih. Ia mulai mengambil makanan itu dan memakannya.


"Bibi, kapan terakhir kali Mama ke sini?" tanya Dario sambil makan.


"Sudah lama, Tuan Muda. Mungkin 5 tahun yang lalu," jawab Bibi Joan.


"Tidak. Mungkin 4 tahun, Tuan. Saya ingat dia kemari saat pemilihan gubernur. Ya, benar. 4 tahun yang lalu. Dia hanya sebentar saja lalu ke pemakaman dan pulang bersama pengawalnya," kata Paman Michael.


Dario mengangguk. Ia meletakkan garpu dan sendoknya di piringnya yang kosong. Ia sudah selesai makan. Dilihatnya Julie yang masih lahap.


"Paman dan Bibi, saya sekali lagi berpesan. Jangan bilang apapun soal kedatangan saya. Baik pada Mama maupun Celia," kata Dario sambil memandangi dua pegawainya itu.


"Baik, Tuan. Tapi maaf, saya pikir anda sudah bercerai dengan Nyonya Celia dan ini istri baru anda," kata Bibi Joan hati-hati sambil menunjuk ke arah Julie.


Dario tertawa pelan. "Ya, saya memang ingin bercerai. Tapi Celia menolak. Saya akan berusaha menceraikannya secepatnya. Dan Nona cantik ini memang istri saya. Dia mengandung anak saya," kata Dario dengan bangga.


"Selamat, Tuan dan Nona Julie," kata Bibi Joan dan Paman Michael.


"Oh, ya. Saya akan ke kamar lama Papa. Saya akan memeriksa beberapa barang," kata Dario.


Setelah selesai makan, Julie mengikuti Dario menuju kamar Papanya.


Kamar besar itu lebih menyerupai ruang kerja. Dulu Dario sering menghabiskan waktunya di situ untuk merayu Papanya agar mau menemaninya main.


Julie duduk di kursi. Di depannya ia melihat meja besar dengan banyak laci.


"Itu meja kerja Papa," kata Dario sambil tersenyum melihat ke arah Julie.


"Boleh aku membuka lainnya?" tanya Julie.


"Boleh. Temukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk," kata Dario sambil membongkar sebuah kotak besar.


Julie membuka laci-laci itu. Banyak sekali berkas-berkas. Ketika Julie membuka laci ketiga, perhatinnya tertuju pada sebuah berkas.


"Rahasia." Begitulah tulisan di sampul berkas itu. Ini bahasa dan aksara yang rumit. Ditulis dengan huruf kanji Jepang yang kuno, ejaannya cukup lama.


"Dario, bisakah kamu berbahasa Jepang? Atau mungkin menulis aksaranya?" tanya Julie.


"Tidak. Itu pelajaran yang paling kubenci di sekolah. Tapi Papa memaksa aku ikut les dan kursus. Menyebalkan sekali. Aku tak menguasai apapun," kata Dario. Ia kini sibuk mengeluarkan buku-buku.


"Kalau Nyonya Sanio, apakah dia bisa?" tanya Julie lagi.


"Tidak sama sekali," kata Dario.


Julie kembali melihat dokumen rahasia itu. Ia mempelajari bahasa Jepang saat SMA. Ada klub hobi di sekolahnya. Ia mengikutinya bersama Athena dulu.


Julie memutuskan untuk membacanya sendiri. Rahasia apa yang akan terkuak di dalam buku itu?


...,...


...----------------...


Hai pembaca. Tinggalkan jejak, ya. Jangan lupa kritik dan sarannya juga. Tiap hari akan ada update ya. Tunggu saja.😍