Mama'S Twin

Mama'S Twin
Brenda dan Bertha



Julie kembali ke apartemen yang ternyata oleh Dario sudah disulap dan didekor ulang.


Kamar besar yang biasa ditiduri Julie itu kini sudah berganti catnya menjadi berwarna putih gading dan pink muda yang ternyata sangat cocok dipadukan.


"Aku tahu kamu pasti tak bisa jauh-jauh dari bayi. Kamar khusus akan kubuat untuk mereka kalau sudah agak besar." Dario mengatakan demikian sambil membuka pintu.


Julie terkesima. Ruangan ini manis sekali. Ada dua box bayi dan banyak mainan, tempat pakaian bayi dan perlengkapannya yang tertata manis.


"Kau yang memilih semuanya?" tanya Julie.


Dario mengangguk sambil tersenyum. Ia lega karena sepertinya Julie menyukainya.


Julie mendorong stroller ganda itu menuju ke arah jendela, dimana dua ranjang bayi itu diletakkan.


"Brenda di sini. Nah, Bertha di sini," kata Julie sambil menaruh bayi-bayinya yang sedang tertidur pulas itu.


Dario berjalan menghampirinya. Dilihatnya dari jendela, salju pertama musim ini telah turun.


"Terimaksih, Julls. Karena kau sudah memberiku kesempatan untuk menjadi seorang Ayah. Aku sangat bahagia." Dario berkata dengan mata berkaca-kaca.


Julie memandanginya sambil menutup ranjang bayi itu dan menyalakan pemanas ruangan.


"Jadilah ayah yang baik. Aku berjanji akan terus du sampingmu selama kau melindungi bayi-bayi ini. Aku ingin mereka tetap aman. Aku ingin mereka hidup dengan normal. Kau tahu kan maksudku? Tidak mudah hidup di keluarga terpandang sepertiΒ  keluarga Axton."


Dario mengangguk. Ia tahu benar posisinya. Ia juga berharap menjadi orang biasa saja tapi itu tak mungkin. Takdir sudah menggariskan nasibnya menjadi pewaris Axton. Namun yang tak ia tahu, ia memang anak kandung Omar Axton, tapi Sanio Axton bukanlah ibu kandungnya.


Dario tak pernah tahu kalau pusara di samping makam ayahnya yang berukiran nama Cassandra Shoe itu adalah makam ibu kandungnya sendiri.


Dario mana tahu kalau selama ini orang yang ia anggap ibu kandungnya itu hanyalah ibu tirinya.


Dario tak pernah tahu kalau ayah yang dikaguminya itu juga pernah melakukan kesalahan besar dengan selingkuh dan menghamili wanita lain.


Kalau dipikir memang kesalahan Omar Axton mirip kesalahannya. Dario menghamili Julie saat ia masih terikat hubungan pernikahan dengan Celia Adams.


Tapi ini berbeda, Dario yang setia juga dikhianati Celia. Ia bahkan ditipu dan dicap mandul bertahun-tahun. Julie mengubah haluan hidupnya begitu drastis.


Mungkin bisa dibilang naif, tapi Dario adalah pria jujur. Ia menyayangi Nyonya Sanio karena perempuan itu adalah keluarganya satu-satunya, ibunya yang paling berharga sedunia. Ia menuruti apapun maunya termasuk menikahi Celia.


Entah kapan tabir ini akan terbuka. Entah kapan Dario akan tahu kalau ibu yang selama ini dihormatinya dan bahkan mengendalikannya itu bukan ibu kandungnya.


Julie melihat Dario yang sedang melamun itu dengan wajah sedih.


Hati Julie mungkin sudah sedikit terbuka. Dario menunjukkan kasih sayangnya yang mendalam. Wajar kalau ia dulu membencinya. Siapa yangΒ  tak benci pada lelaki yang memperkosanya dan menghamilinya? Walau Julie tahu Dario melakukannya dengan tak sadar.


Awal musim dingin, satu kehangatan untuk pria malang ini. Julie memberinya sebuah pelukan erat. Pelukan yang dibalas Dario dengan lebih erat lagi.


***


Sementara di rumahnya, Nyonya Sanio sedang duduk merenung.


"Bayi itu kemungkinan lahir paling cepat atau lambat di awal musim dingin ini, Nyonya," kata dokter Anna setelah didesaknya waktu itu.


Kata-kata itu terngiang-ngiang di pikirannya. Entah mengapa Nyonya Sanio sangat yakin kalau Dario punya bayi dengan wanita lain.


Sekarang salju pertama sudah turun. Nyonya Sanio memandangi salju pertama itu dari kamarnya yang bernuansa temaram. Jendela kotak-kotak lebar terbuka ke arah taman. Rerumputan itu sebentar lagi akan tertimbun salju.


Dimana bayi itu sekarang? Pasti sudah lahir. Ia berpikir terus menerus.


Nyonya Sanio lalu berjalan ke arah lagi mejanya. Ada baju hangat berwarna cokelat untuk bayi yang mungil yang dulu dirajutnya sendiri sambil menunggu Omar Axton pulang dari bekerja.


Baju ini tak pernah dipakai. Putrinya terburu meninggal di dalam perutnya. Didekapnya erat baju hangat itu ke arah dadanya. Ia rindu putrinya.


Ada secarik kertas di bawah baju yang tersimpan ini. Kertas bertuliskan rancangan nama-nama yang ia tulis untuk menamai putrinya.


"Brendachia Berthany Axton."


Nama yang indah. Nama itu terukir di nisan tua di tepi hutan Valex, tempat bayi-bayi dikuburkan.


Nyonya Sanio menatap kertas itu. Ia tak tahu kalau di belahan bumi yang dekat dengan tanah yang ia pijak, sepasang bayi kembar telah lahir. Putri Dario. Pewaris Axton yang baru.


Dan nama mereka hampir mirip dengan mendiang putrinya.


Brenda dan Bertha.


......................


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


Hallo-hallo. Sudah Senin saja. Jangan lupa VOTE dan tinggalkan jejak ya.


Maaf author tidak serajin update dulu karena kesibukan pribadi dan berbagai kendala. Tapi setelah ini nanti OKTOBER akan rajin up karena mau ditamatin di bulan itu. Semoga ya.


Terima kasih sudah menemani dan menunggu selama ini, terimaksih juga atas segala dukungan πŸ”₯πŸ’™πŸ‘πŸŽπŸ’―