
"Jadi bayinya sudah boleh pulang, Ann?" Julie bertanya dengan penuh harap.
Di sampingnya Athena mendampinginya. Dario sedang sibuk mengurus urusannya.
Tapi Dario kini menjadi sering sekali menghubungi Julie atau Athena karena khawatir.
Julie merasa biasa saja. Ia justru senang. Dario menanyakan keadaannya dan bayinya.
Dokter Anna duduk di kursi di samping ranjang Julie. Ia tampak mempertimbangkan sejenak.
"Ya, tapi kupikir sebaiknya menunggu dua hari lagi dengan lebih bersabar. Hari ini peralatan pendukung sudah dilepas. Tapi sebaiknya kita lihat perkembangannya. Kamu tahu kan maksudku? Bayimu spesial." Dokter Anna berkata dengan wajah serius.
Julie mengangguk. Ya, bayinya yang belum ia beri nama itu emang spesial. Mereka harus berjuang dalam ruangan khusus itu karena lahir sebelum waktunya.
"Kamu bisa pulang ke apartemen lebih dulu, Julls. Nanti bayinya akan kuurus dan kupastikan aman. Banyak orang tua dengan kasus yang sama melakukannya.kerena bertahan di rumah sakit berninggu-minggu itu sulit." Dokter Anna kembali menambahkan.
Julie menggeleng.
"Tidak, Ann. Aku akan di sini. Aku tidak bisa jauh dari mereka," kata Julie.
Dokter Anna mengerti. Iat tahu perasaan Julie. Dikuatkannya wanita itu lalu ia pamit pergi karena harus memeriksa pasien lain.
"Maaf, Ann. Apa kau tahu Celia juga dirawat di sini?" tanya Julie saat dokter Anna bersiap pergi.
"Ya. Tapi sekarang dia ditangani dokter khusus dan dijaga polisi. Kamu akan aman. Dia mengalami kecelakaan di kantor polisi. Dia menjadi saksi atas skandalnya tempo hari. Tenanglah Julls. Semua akan mendapatkan balasan pada waktunya," kata dokter Anna sambil tersenyum penuh arti sebelum menutup pintu.
Julie merasa lega. Athena menggengam tangannya.
"Everything okay. Dua hari lagi kamu bisa pulang bersama si kembar." Athena menenangkan.
Julie mengangguk. Ia sangat cemas akan keselamatan si kembar. Di luar sini terlalu berbahaya.
"Apa kau sidah tahu nama yang akan kau berikan pada anak-anak spesial itu, Julls?" tanya Athena.
Raut wajah cemas Julie langsung berubah. Matanya menjadi berbinar saat membahas bayinya.
"Aku ingin tetap memakai nama Sanders sebagai nama belakang mereka. Nama depannya, entahlah. Mungkin aku akan tanya Dario nantinya," kata Julie.
***
Sementara itu sebuah pesan aneh muncul di handphone Dario.
Ia membacanya di dalam mobil yang sedang berjalan menuju rumahnya itu.
[[ "Tuan Dario, saya punya informasi bagus. Ada seseorang yang memegang kunci brankas Omar Axton yang dulu sudah anda buka. Saya bisa saja memberi tahu kalau brankas itu telah dibuka. Tapi kalau anda memberikan tawaran yang bagus, aku akan membantu."
William Topper. ]]
Dario berpikir sejenak. William Topper adalah petugas bank khusus yang dulu membantunya mengurus brankas.
Diliriknya dari jendela mobil itu, jalanan macet. Perjalanan masih jauh. Shan yang menyetir mobilnya.
[[ "Berapa yang kamu minta? Dan apa yang bisa kau janjikan padaku, Tuan Topper?" ]]
Dario cepat-cepat membuka handphone saat nada notifikasi pesan muncul.
William Topper ternyata memberi tahu berapa harga yang ia minta. Dario menyetujuinya.
[[ "Aku bisa membuat brankas itu tetap ada. Kebetulan aku sendiri yang mengurus benda itu. Kita bisa ubah isinya dengan sesuatu yang lain. Anda juga bisa saya pertemukan dengan orangnya langsung kalu anda mau. Sejujurnya dia menghubungi ayahku, bukan aku. Tapi aku bisa mengaturnya." ]]
Dario tersenyum penuh siasat. Ya, saatnya beraksi.
***
Mobil memasuki halaman rumah megah itu. Para penjaga berlarian menyambutnya.
Ada Mark di sudut kiri yang berwajah sedih. Ia pasti memikirkan Celia pujaan hatinya yang sekarang sedang sakit dan dalam pengawasan dokter dan polisi sekaligus.
Dario masuk ke rumahnya dan mendapati mamanya tengah duduk santai sambil mengelap tas-tas mewahnya yang berjejer rapi.
"Sudah pulang dari Valex? Cepat sekali. Kupikir Mama akan bertahan lama di sana," komentar Dario lalu duduk di dekat sofa.
Nyonya Sanio tersenyum tipis. Ia akan pura-pura tak tahu apa-apa tapi ia akan menyelidiki wanita simpanan Dario diam-diam. Ia sudah bertekat.
"Ya, tadinya begitu. Tapi orang-orang Mama bilang pemberitaan wartawan sudah surut. Mama langsung pulang dan mendapati semua orang di rumah melapor bahwa kamu juga tidak pulang ke rumah semenjak itu." Nyonya Sanio berkata dengan sinis.
"Aku memang tak pulang. Dan aku akan jarang pulang mulai sekarang. Apartemen Xavier sudah kubeli. Aku kan pindah agar dekat dengan kantor." Dario menjawab dengan nada memancing.
"Baiklah. Terserah padamu. Aku tidak bisa memaksa anak laki-laki dewasa untuk tunggal bersamaku lagi," kata Nyonya Sanio.
Dario agak terkejut dengan reaksi Mamanya. Mengapa ia jadi dibebaskan seperti ini? Dia juga terlihat cuek.
"Aku akan membiarkanmu lolos tapi akan mengawasimu diam-diam, Nak," batin Bu Furry.
Dario lalu berdiri dari duduknya.
"Okay. Aku akan membawa beberapa baju dan barang untuk pindah ke apartemen Xavier. Aku akan memberikan satu kunci akses pada Mama untuk mampir. Tapi biasanya aku akan pulang larut. Aku akhir-akhir sini sibuk di kantor." Dario langsung menembaknya dengan pernyataan itu.
"Okay, jaga dirimu, Nak." Nyonya Sanio menjawab dengan senang hati. Membuat Dario heran tapi ia berlalu pergi dan tak peduli lagi.
***
Sementara di rumah tua di pinggiran kota Valex itu, Frans Adams sedang tersenyum sambil menutup telepon.
Travis Topper bilang, William putranya yang bekerja di Dante Bank itu akan membantunya.
Ia tak tahu saja. Semua itu hanya jebakan. William yang rakus mendapat uang dari kedua kubu. Ia yang sebenarnya menang.
...----------------...
...🔥🔥🔥...
Selamat Senin. Tinggallkan jejak dan jangan lupa VOTE . Semua dukungan akan sangat berarti untuk Author.
Yuk naikkan VOTE 🔥🔥🔥