
Dario dan Shan saling berpandangan. Misi menguping dimulai.
Dari belakang sana, ditutupi oleh sebuah ornamen kayu yang melintang dan kain-kain tua bohemian membentang, empat sosok itu bisa mereka dengar dengan jelas.
Ada tujuh pengunjung bayaran yang di setting agar cafe mewah ini tak terlihat disewa. Tujuh pengunjung berpencar menjadi beberapa meja. Ada yang tampak serius menghadap laptop, ada yang sedang membaca buku, dan ada pula yang sedang makan dengan serius.
"Hei, apa kabar, Tuan." Seseorang tampak menyapa. Rupanya Travis Topper si ayah tua.
"Oh, beginilah keadaanku." Ada suara kekehan tawa. Nyonya Maria diam saja. Mungkin masih kesal.
"Wow, dan Nyonya. Amd terlihat makin awet muda. Silakan duduk." Terdengar bunyi decitan kursi ditarik. Rupanya Travis yang menarik kursi untuk nyonya Maria.
"Ah, bisa saja. Aku tua dan keriput. Apanya yang cantik," katanya dengan tawa dibuat-buat. Padahal ia senang juga mendapat pujian. Tak ada wanita di dunia ini yang tak senang dibilang cantik.
Dario menoleh ke belakang. Dari balik kain menerawang itu terlihat mereka duduk melingkari meja dan tertawa terkekeh-kekeh dengan akrab. Sungguh basa-basi yang memukakan.
Dario ingin percakapan itu segera menemui intinya. Ia sebenarnya bisa saja menyerahkan pekerjaan ini pada Shan. Hanya menguping, merekam, mencatat, dan melapor.
Tapi entah mengapa, Dario malah meluangkan waktu untuk menguping sendiri. Ia cukup penasaran. Padahal biasanya ia akan melupakan masalah kantor dan bekerja dari apartemen agar bisa menemani Julie dan si kembar permata hatinya.
"Jadi, brankas itu diberikan kepada dua ahli waris. Yang pertama Sanio Axton. Yang kedua Dario Axton. Di antara mereka belum ada yang menghubungi pihak Dante Bank. Sesuai perjanjian awal, brankas adalah bersifat rahasia dan akan dihancurkan kalau masa perjanjian selesai. Dihancurkan, dihanguskan tanpa melihat isinya untuk menjaga kerahasiaan." William Topper dengan suara nyaringnya tampak menjelaskan.
Dario mengangguk-angguk. William benar-benar menuruti kata-katanya. Mana berani ia ingkar janji. Kalau ingkar, Dario mengancam akan melaporkannya ke pihak Dante Bank agar dipecat karena menyalah gunakan kekuasaan.
"Aku punya ini," kata Frans Adams.
Shan melirik ke belakang. Si sela-sela kain itu terlihat sebuah kunci emas mengkilat tertimpa sinar matahari dari jendela cafe
"Ya, ini kunci yang diperlukan untuk membukanya. Tapi aku tak bisa melakukannya, Tuan," kata William menolak halus.
"Aku akan membayarmu mahal," kata Frans dengan yakin. Ada penekanan dalam kata-katanya.
"Aku bisa membukanya untuk anda lalu anda harus menukar isinya dengan sesuatu yang pantas dan kira-kira tak mencurigakan kalau suatu saat para ahli waris itu datang untuk membukanya." William memberikan opsi.
Hening sejenak.
"Tapi rasanya tak mungkin mereka datang atau tahu soal ini. Hanya aku dan Omar Axton yang tahu. Namaku ada di brankas sebelum ini. Terdaftar atas namaku dan namanya. Aku tahu benar kalau hanya kunci ini yang bisa membukanya." Frans Adams tampak bersikeras.
"Ya, tapi peraturan Dante sudah berubah sejak tuan Omar melakukan transaksi itu. Ada dua cara. Cara kedua adalah dengan menyebutkan kode. Bisa saja kan mereka datang dengan kode yang mungkin ditinggalkan mendiang Omar Axton." William menjelaskan.
Hening lagi.
"Tak mungkin. Dia pasti belum sempat mengatakan apapun pada istrinya dan aku sudah cepat-cepat merancunnya."
Kata-kata terakhir Frans seakan memukul dada Dario. Tangannya terkepal dan matanya melotot marah. Ternyata benar dugaannya selama ini. Papanya meninggal karena diracun, bukan karena kecelakaan kapal.
Shan melihat Dario menegang. Ia mengelus punggung tuannya itu agar ia tak terbawa emosi.
"Lagipula waktu itu Dario masih kecil, kan? Mana mungkin Omar memberitahunya." Nyonya Maria menambahkan.
"Apa Sanio tahu tapi tak memberitahu Dario soal ini? Kuncinya hilang dan ia kebingungan. Apa tidak ada riwayat Sanio menghubungi Dante soal kunci yang hilang?" Suara Frans kini kembali terdengar.
"Tidak ada." William menjawab singkat.
"Sepertinya tak akan terbuka. Sanio mungkin ingin menguasai harta itu sendiri. Mana mungkin ia merelakan semua harta suaminya untuk anak yang bukan darah dagingnya?" Nyonya Maria berkata dengan tawa sinis.
Dario yang sedang minum sampai-sampai menumpahkan minumannya.
Bukan darah dagingnya. Apa maksudnya?
Shan juga tak kalah terkejut mendengarnya. Ia lalu menoleh ke belakang agar bisa mendengar lebih jelas.
"Maksudnya bagaimana, Nyonya? Saya tidak mengerti." Suara William terdengar.
"Ya, Dario itu anak Omar Axton dengan wanita selingkuhannya." Frans Adams berkata dengan ringannya.
Dario makin merasakan nafasnya tak beraturan dan kepalanya pening.
Shan menenangkanya.
Suara Nyonya Maria yang bercerita panjang lebar itu seperti mendengung-dengung di telinganya.
Ia bukan anak Sanio Axton?
Bersambung....
......................
Hallo. Maaf ya author sibuk. Diusahakan oktober Full, nggak bolong. Upload jam Cinderella alias jam malam karena author bantu sempat. terimaksih masih setia membaca dan mendukung.😭👍🙏