
"Itu bayi temanku," jawab Dario.
Ya, ia tak boleh gegabah. Bagaimana kalau ternyata Mamanya tak menyukai Julie dan bayinya?
Bagaimanapun ia sebenarnya sama saja dengan Celia. Ia menikahi Julie diam-diam saat masih berstatus suami Celia. Bisa dibilang ia juga selingkuh.
Mamanya pasti menjaga citranya. Ia tak ingin Julie terusik dulu. Lagipula ia juga belum menemukan keberadaannya.
"Bayi temanmu siapa? Jangan mengarang cerita," kata Nyonya Sanio. Ia jelas tak percaya.
Dario benar-benar tak tahu lagi apa yang ada di pikirannya.
Tiba-tiba ia teringat istri Shan yang sedang hamil. Apakah ia bisa menjadikannya alasan?
"Jawab Dario. Jangan berlagak bodoh. Dokter Anna bilang kamu sendiri yang membawa gadis itu memeriksa kandungannya. Kamu punya simpanan?" Nyonya Sanio terlihat tak sabar.
"Itu bayi Shan," jawab Dario.
"Shan? Tadi kamu bilang itu bayi temanmu?" Nyonya Sanio terlihat muak karena Dario terus mengelak.
"Ya, Shan sudah ikut aku puluhan tahun. Bahkan sejak dia lulus akademi militer. Usia kami juga sebaya. Aku menganggapnya bukan sekedar pengawal atau tangan kanan saja. Dia temanku. Mama tahu kan aku tak punya banyak waktu untuk berteman sana-sini karena sibuk bekerja dan mengurus Axton," kata Dario.
Dario menjawab seolah-olah ia juga kesal karena Mamanya terus mencecarnya dengan pertanyaan itu.
"Lalu kenapa kamu mengantar istrinya Shan?" tanya Nyonya Sanio.
"Karena Shan aku tugaskan untuk mengintai dan mengikuti Celia. Itu terjadi saat Celia berkencan dengan Ludwig. Aku kan tak bisa terang-terangan mengintai dan mengikuti mereka. Foto-foto bukti perselingkuhan itu Shan yang mendapatkannya. Mana mungkin aku tega melihat istrinya pergi sendirian." Dario berkata dengan yakin.
Ya, benar. Ia tak bohong soal pengintaian dan foto-foto itu. Shan yang melakukannya.
Soal istri Shan hamil tentu saja benar. Sewaktu bertukar mobil di rumahnya, ia benar-benar melihat istri Shan hamil. Mungkin usia kandungannya tidakkah berbeda jauh dengan Julie. Tapi ia tentu saja tak pernah mengantarnya ke tempat praktik dokter Anna.
"Coba telepon Shan sekarang. Mama mau menanyakan sendiri." Nyonya Sanio menantang putranya.
Ia rupanya masih belum percaya padanya. Ia tak mau dibodohi lagi seperti Celia membodohinya. Sang Nyonya Besar kini berusaha lebih cerdas.
Dario terdiam. Soal sandiwara dan kebohongan ini, ia belum mengatakannya pada Shan. Bagaimana ini?
"Cepat telepon sekarang," kata Nyonya Sanio sambil menatap wajah putranya.
Dario berusaha santai tapi gugup juga. Habislah ia kalau Shan tidak membela sandiwaranya ini.
***
Julie membuka surat perjanjian pernikahan itu lagi. Juga surat hasil tes DNA janinnya dengan Dario itu.
Ia juga dilanda cemas. Dokter Felana bilang usia kandungannya yang makin besar perlu dipersiapkan. Ia perlu menemui dokter Anna dengan segera.
Terakhir ia menemui dokter Anna adalah ketika Athena menemaninya. Dan meraka lari dengan mobil dokter Anna saat Nyonya Sanio menuju ruangan itu. Hari yang menegangkan.
Waktu itu dokter Anna bilang kandungannya baik. Ia belum sempat diperiksa kondisinya.
Ternyata stress dan kondisi tubuhnya memicu banyak komplikasi kehamilan. Ya, ia tak pernah menduganya.
Untung saja ia tak bertahan di Valley. Begitu jauh dari akses rumah sakit yang terbaik di kota.
Julie sedang memikirkan Dario. Apakah Dario tak mencarinya lagi? Athena bilang pengintai yang biasa mengikutinya di sekitar rumah asuh sudah pergi.
Apakah Dario sudah putus asa mencarinya dan tak menginginkannya lagi?
Apakah Dario sudah rela melepasnya?
Julie akhirnya menelpon Athena.
"Ya, Julls. Aku sedang mengurus anak-anak untuk mengurus tes kesehatan ke dokter. Ada donatur dari Rumah Sakit Suresh yang datang ke sini. Aku agak repot. Ada apa?" Athena terdengar sibuk. Di belakangnya suara anak-anak terdengar riuh.
Julie merasa tak enak hati. Tapi ia merasa perlu menanyakan sesuatu.
"Athena, apakah Dario menemuimu lagi untuk menanyakan tentangku?" tanya Julie.
"Tidak, Julls. Ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Athena cemas.
"Ya, baik. Kalau begitu kalau akan menelponmu besok saat kau tak sibuk. Salam untuk anak-anak," kata Julie cepat.
Ia menutup telepon itu dengan wajah murung. Dario tak mencarinya lagi. Apakah ia sudah direlakan untuk pergi?
***
Celia Adams tengah duduk di teras samping. Mark bilang akan datang hari ini.
Celia tak menyukai laki-laki itu. Kalau dipikir-pikir, dengan Ludwig-pun dia juga tak bisa bilang kalau itu cinta.
Ia menyukai Ludwig karena pria muda itu memujanya. Hal itu tak pernah ia dapatkan dari Dario. Padahal Ludwig memuja uangnya, bukan dirinya.
Dario hanya sibuk kerja dan memberinya banyak uang dan kemewahan. Ia mungkin dicintai, tapi tak segila itu.
Mark menawarkan sesuatu padanya. Rasa dicintai dan dipuja. Ia juga bisa diperalat dan dimanfaatkan untuk memata-matai keluarga mantan suaminya itu.
Mark datang dengan mobilnya. Celia memakai pakaian yang paling cantik dan menyambutnya datang.
Ia menggandeng tangan lelaki itu dengan manja dan memintanya masuk ke kamarnya.
"Tenang, orangtuaku sedang pergi. Mama mengantar Papaku ke rumah sakit untuk cek rutin kesehatannya." Celia berbisik pada lelaki itu.
Mark yang tampan dan gagah seakan bertekuk lutut di hadapan majikannya itu dulu.
"Berita apa yang kau bawa, Sayang?" tanya Celia sambil membelai kepala pria itu dengan lembut.
Mark yang duduk di tepi ranjang merasa harinya berdesir. Ya, Celia benar-benar memperlakukannya dengan manis seperti seorang kekasih.
"Nona, Tuan Dario pulang kembali ke rumah itu." Mark berkata.
Celia masih membelainya, membuat pria itu tak fokus bicara.
"Seharusnya kau masih di sana untuk mengintai," kata Celia.
"Tapi hari ini jadwal libur saya. Mereka akan mencurigai saya kalau saya masih di rumah itu," kata Mark.
Celia meraba tangan kekar dan dada yang bidang itu. Mark merasa makin gugup.
"Apa lagi informasi yang kamu ketahui, Mark?" tanya Celia.
"Kemarin sopir Nyonya Sanio mengobrol dengan saya saat jam istirahat. Dia bilang Nyonya menemui petinggi surat kabar dan media online. Dia juga beberapa kali minta diantar untuk mengurus surat cerai anda. Mungkin ini soal berita perceraian Tuan Dario dengan anda yang akan segera dirilis ke media," lapor Mark.
Celia mengangguk mengerti. Ya, Mark memang bisa diandalkan.
"Mark, kembalilah minggu depan saat kamu libur lagi. Beri aku berita bagus. Kalau ada kesempatan, ikuti Dario pergi atau Nyonya. Kamu bisa dapat posisi yang bagus, kan?" kata Celia dengan nada lembut dan merayu.
"Tuan Dario sulit diikuti, Nona. Ada Shan yang selalu di sampingnya," kata Mark.
"Tentu saja bisa jika ada kesempatan, Mark. Kamu pasti cerdas." Celia makin merayunya.
Mark menatap wanita yang dikaguminya sejak lama itu dengan mata yang berbinar. Hasratnya sebagai laki-laki diujui karena Celia terus menjamah tubuhnya.
"Akan kuberikan kau hadiah kalau bisa menyenangkanku," bisik Celia di telinganya.
Tangan lentik Celia itu mulai membuka kancing kemeja pria bertubuh kekar itu. Satu per satu. Hingga dada bidang itu ia raba dengan tatapan mata sayu dan menggoda.
Mark mulai berani menyentuh tangan Celia. Nafasnya memburu. Ditatapnya lebih dalam wanita pujaannya itu.
Celia makin mendekat dan ia menjatuhkan dirinya dalam pelukan lelaki itu.
***
Sementara di antara gemerisik angin musim gugur yang menerbangkan dedaunan, Dario duduk dengan gelisah.
"Cepat telepon Shan," kata Nyonya Sanio.
Dario memencet tombol panggilan itu dan menunggu nada sambung dengan gelisah.
Ia berharap Shan tidak mengangkat telpon itu. Ia tadi hanya asal menjawab saja dan belum menyusun sandiwara kebohongan. Bagaimana ini?
Tut...
Tut...
Tut...
Dario menunggu dengan wajah tegang.
...----------------...
...----------------...
Apakah kalian juga tegang? Jadi eps selanjutnya upload sore atau malam jam berapa ya? Jangan lupa besok Senin ya. Jatah vote sudah turun jangan lupa vote cerita ini besok.🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻