
Nyonya Sanio rupanya banyak belajar, kalau ia bertindak frontal, akan kentara sekali ia sedang berusaha mendominasi.
Ia kini berusaha bersikap lebih manis dan menyelidiki diam-diam. Ia yakin Dario menyembunyikan sesuatu, entah apa itu.
Pagi itu Bibi Joan dan Paman Michael melambaikan tangannya ke arah mobil Nyonya Sanio. Ia akan kembali ke Suresh, meninggalkan rumah lama itu.
Jalanan berbukit-bukit ini akan ia tinggalkan. Suresh menunggunya dengan segenap teka-teki yang berusaha ia pecahkan diam-diam.
"George, kita tidak akan pulang ke rumah. Kita akan ke rumah sesorang yang penting. Ini," katanya sambil menyerahkan secarik kertas pada pengawal yang duduk di samping kemudi.
Pria pengawal yang dipanggil George itu mengangguk. Ia menyebutkan alamat pada sang sopir.
Ya, ia akan menuju rumah Shan. Ia yakin Shan sedang bekerja untuk mengawal Dario. Istrinya itu pasti sendirian di rumah.
Entah seperti apa wanita itu. Apakah benar ia hamil? Apakah ia benar ikut ke Valex waktu itu seperti pengakuan Bibi Joan?
Ia yakin bibi Joan jujur. Wanita itu dikenalnya begitu lama. Ia tahu sifatnya luar dalam.
Tapi entah siapa wanita yang dimaksud Bibi Joan itu, ia yak yakin.
Rumah lama di Valex itu amatlah kuno, tak tersentuh teknologi CCTV atau apapun. Ia pikir juga tak perlu. Rumah itu jarang ditempatinya. Andaikan saja ada, pasti wanita misterius itu sudah tertangkap oleh matanya.
Jalanan menuju rumah Shan ternyata amat sempit. Rumah itu nampak seperti villa tersembunyi di pinggiran Kota Suresh.
Di sekitar area rumah itu ada perkebunan, entah tanaman apa itu. Musim gugur membuat pandangannya hanya daun-daun kering saja di sepanjang jalan.
Rumah mungil bergaya kuno itu sungguh manis terlihat di antara belantara pepohonan ini.
Nyonya Sanio keluar dari mobilnya. Ia sudah menyiapkan buah tangan. Sekeranjang buah yang ia bawa dari Valex. Bibi Joan yang dimintanya untuk menyiapkan semua ini.
Dibunyikannya lonceng di depan rumah. Nyonya Sanio ditemani satu pengawal yang berdiri agak jauh darinya itu mengamati kondisi sekitar.
Di halaman terparkir audy warna putih. Jelas itu bukan punya Shan. Ia kenal betul mobil Shan berwarna hitam.
Seperti apa Nyonya Shan ini? Nyonya Sanio bertanya-tanya sambil melihat ke arah pintu dengan tak sabar.
Vanesha adalah wanita muda yang mungkin seusia Julie. Ia cantik dan berbadan mungil. Dari matanya yang sipit sudah jelas ia ada campuran darah Asia. Entah itu Jepang, entah itu Korea atau Cina.
Vanesha membuka pintu. Dipikirnya kurir yang membunyikan lonceng tadi. Biasanya Shan suka mengirimnya makanan sejak ia hamil. Suami yang begitu perhatian itu begitu memanjakannya.
Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintunya dengan seorang pengawal berbaju serba hitam. Apa maksudnya ini semua?
Sebaliknya, Nyonya Sanio terlihat santai dan tersenyum ramah. Wajah bersahabat yang jarang dimunculkannya itu kini tampak ditampilkannya seolah itu sifat aslinya.
"Hallo, Nyonya Shan. Anda benar istri Pak Shan?" tanya Nyonya Sanio.
Vanesha mengangguk. Ia masih berdiri di ambang pintu karena terkejut.
Nyonya Sanio mengangguk melihat perut istri Shan. Ya, benar dia hamil. Berarti Dario tak berbohong soal foto janin itu.
"Ya, saya Vanesha, istri Shannon William. Ada apakah?" tanya Vanesha dengan wajah cemas.
Apa terjadi sesuatu yang buruk dengan suaminya? Hatinya berdebar. Pekerjaan sebagai pengawal tentu saja sangat beresiko. Tapi baru beberapa jam yang lalu Shan menelponnya dan ia baik-baik saja.
"Ah, aku ibu dari Dario Axton. Aku hanya ingin mengobrol saja. Bolehkah?" tanya Nyonya Sanio.
Setelah mendengar kata-kata Dario Axton tentu saja Vanesha langsung paham. Wanita itu ibu dari boss suaminya. Ia mengangguk hormat. Lalu mempersilakan sang Nyonya duduk.
Nyonya Sanio duduk di kursi tamu yang menghadap halaman samping itu. George-pengawalnya berdiri di bawah tangga masuk menuju rumah.
"Aku membawa buah tangan dari Valex. Buah segar ini dipetik langsung dari kebun rumahku di Valex," kata Nyonya Sanio.
Ia sengaja menyebut kata Valex berkali-kali sambil mengamati perubahan raut wajah pada Vanesha. Ternyata wanita ini tidak bereaksi apa-apa. Wajahnya masih tetap sama. Apa ia pandai bersandiwara atau memang ia tak tahu?
"Ah, terimaksih Nyonya. Aku sangat tersanjung. Aku belum pernah ke Valex. Orang-orang bilang pemandangannya bagus dan cantik. Apalagi saat musim gugur." Vanesha menjelaskan panjang lebar tanpa curiga.
Mendengar kata-kata itu Nyonya Sanio langsung menyimpulkan. Ya, berarti wanita di rumah lamanya itu bukan Vanesha. Lalu siapa?
Raut wajah Sang Nyonya langsung berubah.
Fakta satu terkuak.
......................
......💕💕💕......
Selamat Selasa. Jangan lupa VOTE.💕💕💕