Mama'S Twin

Mama'S Twin
Bersembunyi



Dario mengemudi menuju apartemen Julie. Hatinya kalut. Mama dengan mudahnya dibodohi lagi oleh Celia. Akal bulus apa lagi yang mereka rencanakan.


Ia mengebut malam itu. Mobil warna abu-abu itu membelah jalanan kota Suresh yang sepi karena sudah tengah malam.


Dario memarkirkan mobil itu di basement. Ia naik ke lantai tempat apartemen Julie berada. Roy membukakan pintu dan menyapanya dengan hormat. Dario membalasnya dengan senyum sekilas.


Tentu saja para pegawai dan pelayan sudah tidur. Julie juga pasti sudah tertidur. Dario lalu berjalan menuju ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Julie.


Ia menghmapaskan tubuhnya ke ranjang. Ia merasa kacau. Dario melihat ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab dari Mamanya dan Celia. Ia menatap layar ponsel itu dengan sinis lalu mematikannya.


Dario beranjak dari ranjangnya dan membuka tirai jendela kamar apartemen itu. Ia melihat kerlap-kerlip gedung bertingkat Kota Suresh. Menara gedung Axton menjulang tinggi dengan gagah dan megah.


Dario merasa kacau. Axton besar karena nama Papanya, karena kerja kerasnya. Bertahun-tahun Dario mencoba mengembangkan perusahaan itu sampai sebesar sekarang. Ia tak ingin mengecewakan mendiang Papanya.


Omar Axton mungkin merangkak dari bawah. Ia tak mau kotor dan curang. Menolak semua praktik suap, nepotisme dan segala kecurangan lainnya. Itu idealisnya yang diturunkan pada Dario sekarang.


Ah, ia bilang pada Mamanya bahwa ia akan meninggalkan perusahaan. Lalu siapa yang mengurusnya? Mama tak tahu banyak soal perusahaan di masa sekarang. Semua sudah berubah sistem seiring perkembangan zaman dan teknologi. Celia? Apalagi dia. Dia hanya tahu berbelanja dan berdandan saja.


Dario memutuskan kembali untuk mengambil ponselnya yang satu lagi. Ponsel yang hanya digunakan untuk urusan bisnis dan kantor. Semalam itu ia berusaha menghubungi Grace, sekretaris pribadinya tapi melalui surel.


Dario kembali duduk di tepi ranjang sambil mengetik email itu.


[[Grace, maaf telah mengirim surel semalam ini. Tapi ini darurat. Saya akan mematikan ponsel saya. Saya tidak ingin dihubungi siapa-siapa, termasuk Mama dan Celia. Kamu orang kepercayaan saya. Tolong jangan bilang apa-apa soal ini. Bilang saja kamu tak tahu apa-apa. Hubungi saya via email ini untuk keadaan perusahaan dan yang lainnya.


Thanks.


Dario.]]


Dario mematikan kedua ponsel itu lalu menangkupkan mukanya pada bantal. Ia merasa kesal dan lelah. Lalu ia tertidur.


***


Julie terbangun pagi sekali. Ia merasa badannya kembali segar. Ia ingin berenang pagi-pagi sekali ini. Ia bilang pada Nyonya Emily-sang kepala pelayan bahwa ia ingin sarapan pancake dan susu tambahan nutrisi kehamilannya.


Julie lalu memakai setelan bajuĀ  renangnya dan masuk ke kolam renang. Segar sekali rasanya. Matahari pagi masuk melalui celah kisi-kisi kaca itu. Punggungnya yang terbuka nampak hangat. Ia mengelus perutnya yang membuncit.


***


Ia melepas kancing-mancing kemejanya dan melemparkan asal saja baju ke ranjang itu. Dario sekarang bertelanjang dada. Nampak otot-ototnya terbentuk dengan menawan. Jutaan perempuan rela bersandar di dada yang lapang dan menawan itu.


Saat hatinya kalut, dulu ia biasa minum-minum dan mabuk. Semenjak peristiwa malam itu dengan Julie, ia tak lagi mau menyentuh benda itu. Tak setetespun ia mau.


Dario memutuskan untuk berenang saja. Mungkin akan menyegarkan pikirannya. Ia kembali menukar bajunya dengan celana pendek itu.


Dario nerjalan keluar kamarnya menuju kolam renang. Ia membuka pintu kaca transparan itu dengan santai. Tak ia duga Julie sedang berenang. Julie yang menyadari kedatangannya lalu berusaha menepi.


"Hei, kapan kamu tiba ke sini?" tanya Julie dengan heran.


"Semalam. Aku suntuk sekali. Aku pikir berenang akan menyegarkan. Tak tahunya ada putri duyung di kolam sekarang," kata Dario sambil melihat Julie dan memasang wajah konyol. Ya, penghiburannya hanya sekedar mendengar tawa gadis itu.


"Turunlah berenang, aku sudah lelah. Bayi ini minta makan," kata Julie sambil tertawa lalu naik dan mengambil handuknya. Seorang pelayan membawakan menu sarapan Julie.


Julie terlihat asyik menikmati waktunya untuk bermain sosial media. Dario berenang kesana lemari untuk melampiaskan kekesalannya.


Athena mengirimnya foto dirinya dan Alexander, salah satu anak Rumah Asuh. Julie tersenyum senang.


Julie kini membuka sosial mendianya yang lain. Ia tertuju pada akun instagram pribadinya yang tak disangka banyak sekali pengikutnya bertambah.


Tak berapa lama kemudian, seseorang menelponnya. Alisnya berkerut dengan heran. Nyonya Sanio menelponnya. Ia terlihat panik.


Julie turun dari kursi santainya selalu berusaha memanggil Dario. Dario dengan cepat menepi ke arahnya.


"Ada apa, Julie?" tanya Dario dengan heran.


Julie tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memperlihatkan layar ponselnya yang masih bergetar.


"Nyonya Sanio menelponku."