
...Udah Senin jangan lupa VOTE.🌻...
"Mungkin dia hanya akan lumpuh atau sarafnya rusak. Biairlah dia hidup dalam penderitaan. Mati cepat terlalu bagus untuknya," kata nyonya Maria dengan nada angkuh.
Lalu dipandanginya anak perempuannya itu. Celia terbaring dengan kondisi tak berdaya.
Mana ada ibu yang tak mendendam. Nyonya Sanio mempermalukan Celia seolah ia tak berharga lagi. Ia juga dibuang begitu saja.
Nyonya Maria tak salah menyayangi anaknya. Tapi yang salah adalah mataya buta. Ia tak melihat kalau Celia juga bersalah. Selingkuh dan memakai uang Dario untuk pria selingkuhannya sedangkan Dario telah bekerja keras untuk itu adalah hal yang tak kalah memalukan.
Perempuan mana yang tak tahu diri semacam itu? Hanya Celia saja.
"Mark, kembalilah ke sana. Amati apa yang terjadi di rumah itu dan laporkan lagi padaku," kata nyonya Maria.
Mark menggeleng dengan cepat. Matanya kini ia arahkan penuh pada nyonya Maria.
Wajah yang menunduk itu kini terangkat.
"Balas budiku sudah selesai, Nyonya. Saya sudah berlumuran dosa dan kesalahan. Kurang apa lagi saya? Lagipula Celia juga tak mengenali saya sekarang. Apa yang bisa saya harapkan." Mark berkata dengan berani.
"Apa kau bilang? Jadi kau tak mau lagi menuruti kata-kataku?" tanyanya dengan gusar.
"Ya. Anda dan Tuan Frans sudah tak punya kuasa lagi. Saya tak takut. Terserah anda mau bilang apa, mengancam saya atau bahkan membunuh saya. Hidup saya sudah tak ada artinya lagi," ucap Mark sambil menatap wanita tua itu dengan tekat yang penuh.
Mark harus keluar dari lingkaran setan keluarga ini. Ia tak mau terjerat dan dimanfaatkan lagi.
Ia melakukannya karena cunta terpendamnya pada sosok Celia sejak ia sekolah dulu. Dan dia juga makin terpikat karena berhutang budi atas nya ibunya.
Sekarang Celia sekarat pikirannya. Hidup bagai mati. Tak bisa apa-apa dan sudah sepenuhnya tak bisa diharapkan lagi.
Mark tahu ia akan kedinginan lagi. Ia harus berjalan dalam salju. Tapi ia tak peduli.
Mobilnya ada di ujung jalan besar. Ia akan pergi ke kota asalnya dan hidup dengan tenang.
Soal kematian Timos di danau Valex, biarlah kalau ia tertangkap ia tak akan mengelak lagi. Buat apa juga hidupnya.
Dan untuk racun yang ia berikan ke minuman nyonya Sanio, ia yakin kalau tak ada bukti.
Biarlah ia menebus rasa penyesalannya itu sendirian.
"Mark, tunggu!" Nyonya Mario mengejarnya sampai pintu depan.
***
Sementara itu di rumah sakit yang nampaknya keadaanya sana kacaunya karena badai salju itu, Shan sedang menunggui istrinya di depan ruang operasi.
Kelahiran bayinya harus melalaui operasi caesar. Istrinya mengalami pendarahan hebat dan sekarang masih kritis kondisinya.
Ibu mertuanya ada di sampingnya.
Tak ada yang menyenangkan dari tempat bernama rumah sakit itu. Tempat segala kesedihan, kepedihan dan kehilangan berlangsung. Ada sedikit kebahagiaan dari momen kelahiran bayi. Tapi, bayinya kini entah bagaimana nasibnya.
Shan menangis. Bukan dalam hati, tapi menangis sungguhan.
Ia jadi teringat Julie yang harus sekarat dan koma berminggu-minggu karena melahirkan bagi kembarnya. Shan menjadi takut Vanesha bernasib sama seperti Julie.
Jadi beginilah yang dirasakan Dario waktu itu? Menelan makanan atau minuman saja ia tak sanggup. Yang ia ingin adalah mendampingi istrinya dan menggenggam tangannya, tapi ia tak bisa.
Tring!
Handphone dalam genggaman tangan Shan menyala. Tanda kalau jaringan komunikasi yang terputus karena badai salju telah pulih kembali.
Ada notifikasi masuk dari James. Dahinya berkerut. Ia mendengarkan panggilan yang tadi tak bisa dilakukan itu. James rupanya meninggalkan pesan suara. Shan segera mendengarnya.
"Pak Shan. Dimana anda dan tuan Dario? Nyonya jatuh sakit dan tak sadarkan diri. Petugas sedang berusaha mengevakuasi kami yang terjebak di badai salju. Dokter juga tak bisa datang. Beri tahu tuan muda secepatnya. Nomornya juga tak bisa dihubungi dan apartemennya kosong."
Ia langsung memforward pesan itu kepada Dario. Ia tahu Dario pasti mematikan handphonenya karena peristiwa terakhir yang mengguncangnya itu. Dario ingin menenangkan diri.
"Ah, Nona Julie," seru Shan pelan.
Ia mengirimkan pesan itu kepada Julie dan terkirim. Shan lalu mengetikkan pesan tambahan.
"Istriku kritis. Maaf, aku tak bisa banyak membantu. Doakan semua baik-baik saja."
Pesan itu diterima Julie saat ia sedang menemani Dario makan. Suaminya itu tak mau makan sejak kemarin.
Julie yang memikirkan pria misterius yang tertangkap di CCTV apartemen Dario itu kini jadi makin yakin kalau ada sesuatu saat Shan mengirimnya pesan.
Ia ragu untuk membukanya. Sebaiknya menunggu Dario selesai makan atau sekarang?
Bersambung...