Mama'S Twin

Mama'S Twin
Dante Bank



Celia mengendarai mobil tua itu dengan gusar. Danau Elvis sudah terlewat. Sebentar lagi ia sampai di rumahnya.


Mobil itu ia parkirkan begitu saja dengan sembarangan di bawah pohon tua yang mulai meranggas daunnya itu.


Celia berlari masuk menaiki tangga dari batu menuju rumah tua itu.


Dilihatnya dari kejauhan Maria Adams memakai kacamata bacanya. Ia duduk di samping teras rumah yang penuh perabot tua itu.


Maria Adams melihat kedatangan putrinya itu. Ia melambai-lambaikan surat dari pengadilan itu dengan ekspresi wajah tak tertebak.


Celia menghampiri Mamanya dan menarik kursi kayu itu. Ia duduk dan meraih selembar kertas itu dengan wajah tak sabar.


"Ini resmi?" tanya Celia dengan panik.


Maria Adams melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap wajah putrinya itu seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.


"Menurutmu ini surat main-main? Gila kamu ya," kata Maria dengan kesal.


"Ya, tapi tidak ada tunjangan cerai sepeserpun. Di surat lama yang kusimpan ada tunjangan perceraian yang cukup besar jumlahnya. Nenek sihir tua itu menghapusnya?" Celia nampak syok.


"Tentu saja dia punya kuasa untuk mengubah surat itu. Kamu menandatanganinya tanpa melihat dulu. Apa yang kau pikirkan? Mengapa Celia menjadi bodoh? Sudah tukang selingkuh, ceroboh, bo..."


"Cukup, Ma. Mama pikir Celia mau hidup seperti ini. Nyonya Sanio itu licik. Dia kejam tanpa ampun," kata Celia dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tak kalah licik. Mama pikir Mama tak tahu kalau kamu minta uang saat di Macau karena semua kartumu dibekukan Dario. Kamu selingkuh dan pakai uang Mama untuk lelaki itu berfoya-foya. Sekarang apa? Uang kita hampir habis dan tak ada uang perceraian sama sekali?" Maria Adams meledak-ledak.


Celia ingin membela dirinya. Selama ini ia selalu dipojokkan dan mengalah saja karena tahu kesalahannya cukup fatal. Tapi ia muak karena kesalahan itu terus diungkit lagi dan lagi.


"Ma, jangan sok suci. Mama juga sudah lama berganti-ganti pasangan dan selingkuh dari Papa. Jangan salahkan Celia," kata Celia tak kalah murka.


"Diam kamu ya. Mama tidak selingkuh. Hanya mencari hiburan karena kesepian. Lihat Papamu sudah lumpuh bertahun-tahun."


"Prang..."


Terdengar bunyi benda yang jatuh dari dalam rumah. Maria dan Celia saling berpandangan dengan terkejut.


Ternyata Frans Adams mendengar semua percakapan itu. Pria tua itu dengan sisa-sisa tenaganya membanting apa saja dan melemparnya ke lantai.


"Apa-apaan Papa?" Celia berteriak kaget.


Mariam Adams memucat. Tak disangkanya suaminya yang sedang tidur itu mendengar percakapan ini.


Frans walau sudah lumpuh, sisa-sisa kegarangan dan wajah seramnya masih nampak.


"Anak istri sama saja. Kalian sudah bikin hidup saya hancur. Dan kamu bukannya merawat saya selama ini malah berselingkuh di luar sana. Kurang ajar," kata Frans dengan amarah tak tertahankan.


"Aku lelah dimaki seumur hidup olehmu. Kamu kasar dan semena-mena. Tuhan menghukum dirimu dengan kelumpuhan itu. Sadarlah. Apa salahnya kalau aku sedikit bersenang-senang?" Maria Adams kini lebih berani karena merasa lebih kuat.


"Oh, berani sekarang? Saya bisa tuntut kamu dan menceriakanmu. Rumah ini satu-satunya asetku. Aku mungkin miskin sekarang. Tapi aku punya rumah untuk tinggal atas namaku sendiri. Kalian bisa saya usir kapanpun kalau tak menuruti kata saya," teriak Frans Adams dengan suara tajam dan dingin.


Celia dan Maria yang tadi ribut kini hanya tertunduk terdiam. Pasangan ibu dan anak itu belum pernah seumur hidup melihat lelaki itu semarah dan semurka ini.


Rumah yang tadinya berisik oleh pertengkaran itu kini sunyi, hening. Hanya suara deru angin musim panas dan daun-daun yang mulai berguguran itu yang bersuara.


Musim panas berlalu dengan cepat. Musim gugur hampir tiba sebentar lagi.


***


Frans Adams merasa kesulitan karena tangan kanannya sulut digerakkan.


Istri dan anaknya yang tak berguna itu malah makin menyusahkannya saja.


Tak ada cara lain. Ia harus mengeluarkan harta tersembunyinya.


Masalahnya, bagaimana ia bisa menuju Dante Bank dalam kondisinya yang sulit seperti ini.


Di Dante Bank ada brankas rahasia yang ia dan Omar Axton bayar dalam waktu 50 tahun.


Sekarang Omar sudah meninggal, hanya ia satu-satunya yang berhak atas isi brankas itu.


Sebenarnya satu tahun setelah kematian Omar, ia berusaha pergi ke Dante.


Namun sayang, Omar Axton rupanya telah menutup namanya. Yang berhak atas isi brankas itu adalah Dario Axton yang saat itu usianya masih 10 tahun.


Dario kecil rupanya mempunyai trauma dengan kecelakan kapal yang melibatkan dirinya itu. Ia jadi takut pada Frans.


Kecelakaan kapal yang direncanakan itu yang menenggelamkan Omar Axton. Itu menurut berita yang beredar dan hasil penyelidikan polisi. Padahal Omar meninggal karena ia racun. Sayangnya Sanio terlalu percaya padanya dan tak meminta autopsi jenazah. Posisinya aman hingga sekarang.


Omar dan ia bersahabat sejak lama. Ia menyimpan harta bersama di brankas itu untuk membentuk perusahaan baru.


Sayangnya mereka tak sejalan. Pertengkaran hebat terjadi. Omar Axton mengembalikan uang bagian Frans.


Setelah kejadian itu, Frans tak mau rugi. Ia mencoba menyambung tali persahabatan lagi hingga keluarga itu tak sadar akan tipu dayanya.


Rencana busuk ia susun. Sanio adalah wanita baik yang mudah diperdaya. Maria Adams mengambil hatinya dengan mudah. Celia kecil yang lucu dan menggemaskan mencuri hatinya.


Sanio Axton ingin punya anak perempuan. Tapi setelah kelahiran Dario, rahimnya bermasalah sehingga harus diangkat. Ia tak mungkin punya anak lagi.


Frans Adams membuka laci di meja kamarnya. Sebuah kunci dari emas berukuran sedang dengan ukiran bertuliskan DANTE BANK itu ia raba. Ya, ia tak punya kode. Tapi ia punya kunci.


Frans berencana menyuap pegawai bank itu. Ia punya kenalan orang dalam. Kawan lamanya punya putra yang menjadi petinggi Dante Bank.


Dario tak mungkin tahu soal brankas itu. Ia masih kecil waktu itu. Tahu apa anak 10 tahun. Omar Axton juga tak mungkin memberitahunya.


Frans juga sangat yakin kalau Sanio tak tahu apa-apa soal brankas itu. Ia sudah mencoba mencari tahu sejak lama.


Frans mengamati kunci itu sambil tersenyum penuh kelicikan.


***


Sementara di saat yang sama, Dario Axton memakai setelah jasnya dengan gagah.


Kacamata hitam itu dilepasnya begitu ia dipersilahkan oleh manager Dante Bank untuk masuk ke ruangan khusus.


"Saya Dario Axton. Saya pewaris yang ditunjuk Omar Axton dan berhak atas satu brankas miliknya yang sekitar 20 tahun lalu disimpan di sini," kata Dario menjelaskan.


Manager senior itu mengangguk. Ia diminta menunggu.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Hello guys, tinggalkan jejak. Kalau rame aku akan upload lagi sore nanti atau malam ya?😍


🌻🌻🌻