
Celia meninggalkan jam tangan mahalnya dan antingnya yang mahal di meja resepsionis hotel.
"Ini jaminan saya. Saya menantunya Sanio Axton. Tentu saja sanggup membayar. Nanti akan saya lunas," kata Celia lalu ia cepat berlalu pergi karena menahan malu.
Ia berlari menuju mobilnya dengan handuk kimono warna putih itu. Ia tak peduli lagi dengan orang-orang yang melihatnya.
Celia menyetir dengan tangan gemetar. Tak ia sangka Ludwig akan berlaku sekasar itu padanya.
Dasar lelaki payah. Giliran uangnya habis, ia ditinggalkan begitu saja. Mana cinta yang dulu ia janjikan.
Celia mneyesal dulu telah begitu terlena pada rayuan lelaki muda itu. Dunia hiburan yang kelam dan hingar-bingar yang Ludwig kenalkan sangat menggiurkannya. Ia menjadi ikut terjerumus.
Kini firasatnya benar-benar buruk. Semua kartunya telah ditolak untuk melakukan transaksi.
Mertua mana yang tak marah melihat menantunya berselingkuh bahkan sampai berhubungan badan dengan lelaki lain? Apalagi di depan matanya sendiri ia melihatnya. Bulu kuduk Celia merinding membayangkan apa yang akan menimpanya nanti.
Ia menyetir dengan lebih cepat. Handuk tebal itu membuat badannya berkeringat. Tapi ia tak punya pilihan lagi karena gaunnya telah dirobek dan dicabik-cabik oleh Ludwig.
Gerbang rumah mewah itu dibukakan oleh penjaga. Mata Celia berkaca-kaca melihat para pegawai dan pelayan rumah berbondong-bondong mengangkut barang-barangnya keluar rumah.
Mobil itu dihentikan dengan tangan gemetar. Sebuah pot besar tak sengaja ia tabrak. Hancur berkeping-keping dan tanahnya berhamburan keluar.
Celia tak peduli. Ia cepat-cepat membuka pintu mobilnya.
"Ada apa ini?" tanya Celia dengan panik. Ia merebut koper-koper dan pakaiannya yang berserakan di halaman luas itu.
Nyonya Sanio keluar rumah. Wajahnya tak lagi marah. Ia tersenyum dengan tenang. Tangannya menenteng baju mahal Celia yang masih terbungkus rapi itu. Nyonya besar itu melemparkannya ke halaman.
"Mana bajumu, Manis? Baju sebanyak ini tapi kamu lari pulang dari hotel dengan handuk itu?" tanya Nyonya Sanio sambil tertawa.
Celia diam saja. Bahkan ia tak berani menatap wajah Nyonya Besar itu.
"Mulai sekarang rumah ini haram untukmu. Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi ke sini. Saya tidak akan pernah menerima menerimamu karena belas kasihan atau tipu daya kamu lagi. Sudah cukup sekarang," katanya dengan nada yang dingin.
"Mama, aku bisa jelas..."
"Cukup. Jangan panggil saya Mama. Saya bukan mamamu. Saya tidak punya anak perempuan ataupun menantu yang melakukan perbuatan kotor semacam itu," kata Sang Nyonya dengan nada angkuhnya.
Celia tertunduk lemas. Tak ada seorangpun sekarang yang mempercayainya.
"Dona, bawa surat itu pada Nona Cantik itu. Suruh tandatangani dengan cepat," kata Nyonya Sanio.
Dona, pelayan senior itu melangkah maju. Di tangannya, selembar dokumen perceraian dan pulpen itu ia sodorkan ke arah Celia.
Celia menatap Nyonya Sanio sambil menggelengkan kepalanya. Ya, ia masih bisa menolak untuk diceraikan.
Nyonya Sanio tertawa sinis. "Berani-beraninya kamu menolak. Memangnya punya kuasa apa kamu? Mau maju ke sidang cerai dan menuntut Dario? Silahkan. Kamu akan mempermalukan dirimu sendiri karena Dario punya banyak bukti perselingkuhan dan bukti bahwa kamu yang memalsukan hasil tes dokter soal kemandulan itu. Tandatangani sekarang atau saya bongkar di hadapan publik? Atau mungkin polisi saja. Biar kamu membusuk di penjara," kata Nyonya Sanio dengan kejam.
Celia menandatangani surat itu mau tak mau. Ia merasa tak rela harus melepas statusnya sebagai menantu konglomerat Kota Suresh itu.
Sebuah mobil Audy berwarna hitam mengkilat tiba di rumah itu. Maria Adams turun dari mobil dengan kaki gemetar.
Celia yang masih memakai handuk itu berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Hai, mantan besan. Silahkan bawa anakmu pergi dari rumah ini. Smeua fasilitas dan uang untuk keluarga kalian akan saya putus sepihak." Nyonya Sanio mengacungkan surat cerai yang telah ditandatangani itu dengan senyum penuh kemenangan.
"Kamu tidak ingat kalau dulu suamiku telah berjasa karena men..."
"Ya, aku ingat tapi aku tak peduli lagi. 7 tahun pernikahan sudah cukup untuk membalas budi. Bilang pada suamimu yang lumpuh itu. Setelah kemarin mengumpatku di belakang dengan sumpah sarapannya, sekarang kamu juga mau melakukan hal yang sama? Silahkan. Saya tak peduli. Mengumpatlah sampai pita suaramu habis," katanya lalu berlalu pergi.
Pelayan-pelayan itu masuk mengikuti Nyonya Besar. Penjaga di depan langsung turun tangan membantu Maria Adams memasukkan barang-barang Celia yang berserakan di halaman dengan cepat dan cekatan.
Semakin cepat semakin baik. Ia tak mau mereka berdua mengacau di rumah ini lagi.
***
Nyonya Sanio meletakkan dokumen-dokumen itu di meja kerjanya.
Semuanya sudah beres dan terbuka lebar semua bukti itu. Pikirannya tercerahkan. Ya, semua telah selesai.
Bertahun-tahun dibutakan dengan rasa percaya dan persahabatan yang terjalin lama. Cukup, sekarang semua sudah cukup.
Ia tak peduli apa yang akan dikatakan Maria dan Celia pada wartawan kalau sampai berita perceraian ini terdengar khalayak. Ia punya kartu as bukti-bukti. Tinggal pilih saja mana yang paling mematikan. Atau sekalian saja semuanya.
Bagaimanapun Dario Axton adalah nama besar yang mengundang banyak perhatian. Berita perceraian itu akan mengundang banyak kasak-kusuk dan gosip.
Nyonya Sanio segera menelpon kembali Grace, sekretaris Dario. Ya, jangan sampai salah lagi. Kemarin ia lupa menelpon Julie, padahal Julie sudah lama keluar dari Axton.
"Grace, bagaimana Dario?" tanya Nyonya Sanio.
Grace tentu saja tak bilang apa-apa sesuai instruksi Dario. Ia harus tutup mulut.
"Grace, saya yakin Dario masih menghubungi kamu untuk keperluan pekerjaan. Dario sangat peduli pada Axton. Dia tak mungkin kabur begitu saja dan lepas tangan," kata Nyonya Sanio.
Grace mendengarkan dengan seksama. Ia mulai paham kemana arah pembicaraan ini akan menuju. Ia langsung menekan tombol recorder di ponselnya. Panggilan itu kini direkam.
"Katakan pada saya Grace. Dimana Dario? Orang-orang saya tak menemukan jejaknya. Saya akan kasih kamu uang yang banyak. Beratus-ratus kali lipat dari gaji kamu setahun di Axton. Bawa saya ke tempat Dario bersembunyi."
Grace tersenyum tipis. Dario bilang Nyonya Sanio pasti akan berusaha menyuapnya. Jangan mau. Kalau ia terbukti mendapat tawaran itu dan menolaknya, Dario berjanji akan memberinya bonus besar karena bukti loyalitas.
"Nyonya, dengan segala hormat. Saya tidak tahu dimana Pak Dario berada sekarang. Tentu dia lebih cerdas daripada saya. Mungkin juga panggilan ini juga bisa saja diawasi beliau. Mungkin Nyonya ingin menyampaikan sesuatu padanya?" pancing Grace.
"Bilang padanya kalau dia menelponmu. Bilang kalau wanita jahat sudah diusir lagi selama-lamanya dan tak akan pernah kembali lagi ke rumah. Minta dia segera pulang. Bilang saja kalau ia kabur lama-lama, saham Axton akan saya jual," kata Nyonya Sanio.
Grace mematikan ponselnya. Rekaman panggilan itu ia kirimkan pada Dario.
Tapi, dimana Dario sekarang?
***
Dario tampak kusut dan lesu. Seseorang yang Shan kenalkan sebagai Deketif Andrew itu tampak sedang berbincang serius pada Dario.
Fokusnya bukan lagi menyelidiki kasus di kapal itu. Tapi ia ingin Deketif Andrew menyelidiki kemana perginya Julie.
"Apa riwayat panggilan dan pesan di ponsel yang ia tinggalkan sudah dicek?" tanya detektif itu para Dario.
Dario menggeleng.